Dunia Menggugat: Aksi AS di Venezuela Picu Kemarahan Global

Rabu, 7 Januari 2026 - 18:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Batas akhir kemanusiaan. PBB mengecam keras retorika Presiden Donald Trump yang mengancam akan melenyapkan peradaban Iran, menegaskan bahwa tidak ada tujuan militer yang membenarkan penghancuran massal terhadap warga sipil. Dok: Istimewa.

Batas akhir kemanusiaan. PBB mengecam keras retorika Presiden Donald Trump yang mengancam akan melenyapkan peradaban Iran, menegaskan bahwa tidak ada tujuan militer yang membenarkan penghancuran massal terhadap warga sipil. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Langkah sepihak Amerika Serikat yang menyerang Venezuela dan menangkap paksa Presiden Nicolás Maduro terus memantik api kemarahan global. Tak hanya di Caracas dan Washington, protes kini meletus di depan kedutaan besar AS di berbagai negara, mulai dari Sri Lanka, Jepang, hingga Indonesia.

Organisasi Negara-negara Amerika (OAS) segera merespons dengan menggelar pertemuan darurat pada Selasa. Dalam forum tersebut, negara-negara kunci seperti Brazil, Meksiko, dan Kolombia secara tegas mengutuk aksi militer AS.

Perwakilan Meksiko, Alejandro Encinas Rodriguez, mengingatkan peserta rapat akan sejarah kelam kawasan tersebut. “Intervensi tidak pernah membawa stabilitas atau kesejahteraan yang langgeng,” tegasnya. Ia menekankan bahwa hanya rakyat sendirilah yang berhak menentukan masa depan dan mengelola sumber daya alam mereka.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Serangan Terhadap Kita Semua”

Sekretaris Jenderal OAS, Albert Ramdin, mengambil sikap keras dengan merujuk pada piagam organisasi. Ia menegaskan bahwa setiap agresi terhadap satu negara di benua Amerika adalah agresi terhadap semua negara lainnya.

Baca Juga :  China Petakan Dasar Samudra Global demi Keunggulan Kapal Selam

“Ini bukan saran, tapi kewajiban dan tanggung jawab moral,” ujar Ramdin. Ia menyerukan agar belahan bumi ini bertindak secara kolektif untuk kembali ke norma dan prinsip yang diterima, sebagaimana preseden sejarah yang pernah terjadi.

GNB: Ini Adalah Tindakan Perang

Kecaman juga datang dari Gerakan Non-Blok (GNB). Melalui rilis pemerintah Uganda, GNB melabeli serangan AS sebagai “tindakan perang” yang merusak perdamaian internasional. Kelompok ini menuntut penghentian segera segala permusuhan dan penghormatan penuh terhadap kedaulatan Venezuela.

Senada dengan itu, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa menggunakan momen peringatan tahunan Joe Slovo di Johannesburg untuk menyuarakan penolakannya.

“Kami menolak mentah-mentah tindakan yang telah Amerika Serikat lakukan,” seru Ramaphosa. Ia menuntut pembebasan segera Presiden Maduro beserta istrinya dan mendesak Dewan Keamanan PBB untuk bertindak tegas menegakkan hukum internasional.

Baca Juga :  Putin Kunjungi China Rayakan 25 Tahun Perjanjian Persahabatan

Rusia dan Pesan Mengerikan untuk Sekutu

Kementerian Luar Negeri Rusia turut mengeluarkan pernyataan yang mendesak de-eskalasi dan penyelesaian masalah melalui dialog konstruktif. Moskow menegaskan bahwa Amerika Latin dan Karibia harus tetap menjadi zona damai di mana pembangunan berdaulat terjamin.

Sementara itu, Iro Sarkka, peneliti senior di Institut Urusan Internasional Finlandia, memberikan analisis yang menohok kepada harian Helsingin Sanomat. Menurutnya, serangan AS ini ilegal menurut hukum internasional, namun tidak mengejutkan.

Sarkka menilai tindakan ini konsisten dengan strategi keamanan AS yang sering kali mengklaim menghormati kedaulatan, namun memperlakukan dirinya sendiri sebagai pengecualian demi kepentingan global.

“Ini adalah pesan yang mengerikan (chilling message) bagi Finlandia dan semua sekutu utama Amerika Serikat,” pungkasnya.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

KAI Tawarkan Tiket Murah 30 Persen Libur Sekolah, Ini Jadwal dan Ketentuannya
Marco Rubio Kecam Sensor Ketat Tiongkok Jelang Peringatan Tragedi 1989
Tiongkok Jatuhkan Larangan Perjalanan Bagi Anggota Parlemen
Limbah Sawit Menjadi Pupuk Organik dan Energi Biomassa
Pemprov DKI Buka 2.843 Lowongan Padat Karya Gaji UMP 2026, Ber-KTP Jakarta
Cara Pabrik Memisahkan CPO dan Inti Sawit (Kernel)
Jadi Justice Collaborator, Sony Sonjaya Janji Beberkan Aktor Besar Kasus SPPG
Indonesia vs Oman di GBK Malam Ini, Pengguna Jalan Diminta Cari Jalur Alternatif

Berita Terkait

Jumat, 5 Juni 2026 - 22:21 WIB

KAI Tawarkan Tiket Murah 30 Persen Libur Sekolah, Ini Jadwal dan Ketentuannya

Jumat, 5 Juni 2026 - 18:37 WIB

Marco Rubio Kecam Sensor Ketat Tiongkok Jelang Peringatan Tragedi 1989

Jumat, 5 Juni 2026 - 17:35 WIB

Tiongkok Jatuhkan Larangan Perjalanan Bagi Anggota Parlemen

Jumat, 5 Juni 2026 - 16:48 WIB

Limbah Sawit Menjadi Pupuk Organik dan Energi Biomassa

Jumat, 5 Juni 2026 - 16:24 WIB

Pemprov DKI Buka 2.843 Lowongan Padat Karya Gaji UMP 2026, Ber-KTP Jakarta

Berita Terbaru

Ilustrasi, Ketegangan diplomatik di Pasifik. Tiongkok menjatuhkan larangan perjalanan bagi anggota parlemen Selandia Baru setelah mereka nekat mengunjungi Taiwan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Tiongkok Jatuhkan Larangan Perjalanan Bagi Anggota Parlemen

Jumat, 5 Jun 2026 - 17:35 WIB

Pilar kepatuhan ekologi pabrik sawit. Pentingnya mengurus izin Amdal dan dokumen IPLC guna menghindari sanksi penutupan paksa operasional pabrik. Dok: Istimewa.

NETIZEN

Limbah Sawit Menjadi Pupuk Organik dan Energi Biomassa

Jumat, 5 Jun 2026 - 16:48 WIB