CARACAS, POSNEWS.CO.ID – Dinamika politik di Amerika Selatan mengalami pergeseran seismik pada hari Rabu (14/1). Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan bahwa ia baru saja melakukan pembicaraan telepon yang panjang dan hangat dengan Penjabat (Plt) Presiden Venezuela, Delcy Rodriguez.
Trump, yang pemerintahannya baru saja melancarkan operasi militer di Venezuela awal bulan ini, kini melontarkan pujian. Ia menyebut kedua negara “bergaul dengan sangat baik”.
“Kami baru saja melakukan percakapan yang hebat hari ini, dan dia orang yang luar biasa,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih. “Kami membahas banyak hal dan saya pikir kami berhubungan sangat baik dengan Venezuela.”
Di Caracas, Rodriguez mengonfirmasi nada positif tersebut. Ia menggambarkan panggilan telepon itu sebagai diskusi yang “panjang, produktif, dan sopan”.
“Selama panggilan tersebut, kami membahas agenda kerja bilateral untuk kepentingan rakyat kami, serta masalah-masalah yang tertunda dalam hubungan antara pemerintah kami,” ujar Rodriguez.
Langkah Diplomatik Ganda
Sebagai tindak lanjut, Rodriguez berencana mengirim utusan khusus—Duta Besar Venezuela untuk Inggris, Felix Plasencia—ke Washington minggu ini. Laporan Bloomberg menyebutkan bahwa pemerintahan Trump sedang menimbang kemungkinan membuka kembali kedutaan besarnya di negara kaya minyak tersebut.
Faktanya, tim diplomat dan personel keamanan AS telah mendarat di Caracas pada hari Jumat lalu. Misi utama mereka adalah menilai kelayakan pembukaan kembali kedutaan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, situasi politik tetap rumit. Pada hari yang sama dengan kunjungan utusan Rodriguez, Gedung Putih juga menjadwalkan pertemuan dengan Maria Corina Machado, salah satu tokoh oposisi utama Venezuela. Langkah ini menunjukkan bahwa Washington masih memainkan kartu politiknya dengan hati-hati di antara faksi-faksi yang bersaing.
Kontrol Minyak “Tanpa Batas”
Di balik senyum diplomasi, Amerika Serikat memperketat cengkeramannya pada aset vital Venezuela. Militer AS menyita tanker minyak kelima yang terkait dengan Venezuela pada hari Jumat.
Pernyataan paling mengejutkan datang dari Menteri Energi AS, Chris Wright. Pekan lalu, ia menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak hanya akan memasarkan minyak yang tersimpan di Venezuela. Lebih jauh lagi, AS akan “mengontrol penjualan output minyak dari negara tersebut tanpa batas waktu”.
Langkah agresif ini terjadi hanya beberapa hari setelah Presiden Venezuela sebelumnya, Nicolás Maduro, ditangkap secara paksa dalam serangan AS pada 3 Januari lalu. Dengan Maduro tersingkir, Washington tampaknya bergerak cepat untuk mengamankan kepentingan energi strategisnya di kawasan tersebut.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia
Sumber Berita: Xinhua News Agency

















