KUPANG, POSNEWS.CO.ID β Penanganan gempa bumi M7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) memasuki hari ke-16.
BNPB mencatat jumlah korban meninggal masih 111 orang, sementara jumlah pengungsi mulai berkurang.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan hingga Minggu (30/8/2026) belum ada laporan tambahan korban meninggal.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
βTotal yang meninggal adalah 111 orang,β kata Berton dalam konferensi pers, Minggu (30/8/2026).
Selain korban meninggal, BNPB mencatat 1.631 orang mengalami luka, terdiri atas 223 korban luka berat dan 1.408 korban luka ringan.
Pengungsi Berkurang 4.142 Orang
Kabar sedikit melegakan datang dari jumlah pengungsi. BNPB mencatat 188.161 jiwa masih mengungsi.
Angka tersebut turun 4.142 orang dibandingkan pembaruan sebelumnya. Penurunan terutama terjadi di Kabupaten Nagekeo, Manggarai Timur, dan Ngada.
Meski demikian, Nagekeo dan Manggarai Timur masih menjadi daerah dengan konsentrasi pengungsi terbesar.
Artinya, proses pemulihan belum selesai dan kebutuhan dasar warga masih harus dipenuhi.
BNPB memastikan warga yang ingin kembali ke rumah secara sukarela tetap mendapat fasilitasi sesuai kebutuhan.
95.567 Rumah Rusak
Dampak gempa juga terlihat dari kerusakan bangunan. BNPB mencatat 95.567 unit rumah terdampak kerusakan.
Namun, pemerintah masih melakukan verifikasi untuk mengelompokkan tingkat kerusakan menjadi ringan, sedang, dan berat.
Proses verifikasi penting agar bantuan dan program rehabilitasi dapat diberikan secara tepat sasaran.
Dengan data yang akurat, pemerintah juga dapat menentukan rumah mana yang masih aman ditempati dan bangunan mana yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Gempa Susulan Masih Mengintai
Warga NTT juga masih menghadapi aktivitas gempa susulan. Berdasarkan data BNPB yang merujuk pemantauan BMKG hingga 30 Agustus, tercatat 9.765 gempa susulan sejak gempa utama.
Gempa susulan terbesar mencapai M6,2, sedangkan yang terkecil tercatat M1. Dari ribuan aktivitas tersebut, 155 gempa dilaporkan dirasakan masyarakat.
BMKG masih mencatat aktivitas kegempaan di kawasan Flores. Pada Minggu pagi, misalnya, gempa M3,7 terjadi di darat sekitar 35 kilometer utara Ruteng, Manggarai, dengan kedalaman 3 kilometer dan dirasakan di Kabupaten Manggarai.
BMKG mengingatkan masyarakat tetap berhati-hati terhadap kemungkinan gempa susulan.
BMKG sebelumnya juga menjelaskan bahwa gempa susulan merupakan bagian dari proses penyesuaian sesar setelah gempa utama.
Pada 20 Agustus, BMKG mencatat ribuan aktivitas susulan dan menyebut gempa terbesar mencapai M6,2.
Warga Diminta Tak Kembali ke Bangunan Rusak
Penurunan jumlah pengungsi memang menjadi sinyal positif. Namun, warga tidak boleh terburu-buru kembali ke rumah yang mengalami kerusakan.
Bangunan yang retak atau rusak akibat gempa dapat kehilangan kekuatan struktur. Karena itu, masyarakat perlu memastikan kondisi rumah aman sebelum kembali beraktivitas normal.
BNPB dan pemerintah daerah juga perlu terus memastikan kebutuhan pengungsi, seperti makanan, air bersih, layanan kesehatan, tempat tinggal sementara, serta dukungan pemulihan, tetap tersedia.
Pemulihan Harus Berjalan Bersamaan dengan Kewaspadaan
Gempa M7,7 di NTT bukan hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga memukul kehidupan ribuan keluarga.
Karena itu, turunnya angka pengungsi tidak boleh dimaknai sebagai berakhirnya keadaan darurat.
Pemerintah tetap perlu mempercepat pemulihan, sementara masyarakat harus terus mengikuti informasi resmi.
Pelajaran terbesar dari bencana ini jelas: keselamatan harus menjadi prioritas.
Jangan memaksakan kembali ke bangunan yang belum dinyatakan aman dan jangan mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi.
Di tengah proses bangkit dari bencana, semangat gotong royong dan ketepatan bantuan menjadi kunci agar masyarakat NTT dapat kembali menjalani kehidupan secara aman dan bermartabat. **
Editor : Hadwan














