CARACAS, POSNEWS.CO.ID – Hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela mencapai titik didih baru pada Sabtu (29/11/2025). Pemerintah Nicolas Maduro bereaksi keras atas pernyataan provokatif Presiden AS, Donald Trump.
Sebelumnya, Trump membuat pengumuman mengejutkan melalui platform Truth Social. Ia menyatakan bahwa wilayah udara di atas dan sekitar Venezuela kini “tertutup secara keseluruhan”.
“Kepada semua Maskapai, Pilot, Pengedar Narkoba, dan Pedagang Manusia, harap pertimbangkan RUANG UDARA DI ATAS DAN SEKITAR VENEZUELA TERTUTUP SECARA KESELURUHAN,” tulis Trump dengan huruf kapital.
Seketika, pernyataan ini memicu kemarahan Caracas. Kementerian Luar Negeri Venezuela merilis pernyataan resmi yang menyebut langkah Washington sebagai “ancaman kolonialis”.
Pelanggaran Kedaulatan dan Piagam PBB
Venezuela menolak mentah-mentah upaya AS menerapkan yurisdiksi ekstrateritorial. Menurut Caracas, tindakan ini merupakan agresi ilegal dan tidak beralasan terhadap rakyat Venezuela.
“Langkah AS sama dengan ancaman penggunaan kekuatan secara eksplisit. Hal ini jelas dilarang berdasarkan Piagam PBB,” tegas pernyataan kementerian tersebut.
Lebih lanjut, mereka mengutip Konvensi Chicago 1944. Konvensi itu menjamin bahwa setiap negara memegang kedaulatan eksklusif atas wilayah udaranya sendiri. Oleh karena itu, Venezuela menegaskan tidak akan menerima perintah atau campur tangan dari kekuatan asing mana pun.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Konteks Militer: Kapal Induk dan Isu Narkoba
Eskalasi ini terjadi di tengah penumpukan kekuatan militer AS di kawasan Karibia. Baru-baru ini, AS mengerahkan kapal induk USS Gerald R. Ford dan menetapkan “Cartel de los Soles”—yang diduga terkait dengan Maduro—sebagai organisasi teroris.
Washington berdalih langkah ini bertujuan memerangi perdagangan narkoba. Namun, para pengamat melihat motif lain. Tampaknya, AS sedang meletakkan dasar untuk upaya penggulingan kekuasaan Maduro secara paksa.
Mantan Duta Besar AS untuk Venezuela, Charles Shapiro, mengamini hal tersebut. “Jelas, pemerintah Amerika Serikat menginginkan Maduro lengser,” ujarnya kepada Al Jazeera.
Dampak Penerbangan dan Kebijakan “Bumi Hangus”
Pernyataan Trump berdampak langsung pada industri penerbangan. Faktanya, Badan Penerbangan Federal AS (FAA) telah lebih dulu mengeluarkan peringatan bahaya pekan lalu.
Akibatnya, enam maskapai besar yang melayani rute Amerika Selatan langsung menangguhkan penerbangan ke Venezuela. Caracas pun membalas dengan mencabut hak operasi perusahaan-perusahaan tersebut.
Sayangnya, rakyat sipil menjadi korban utama dari perseteruan elit ini. Analis memperingatkan bahaya kebijakan “bumi hangus” (scorched earth policy).
Isolasi udara akan memutus akses obat-obatan dan pasokan vital. Selain itu, warga sipil tidak bisa bepergian bahkan untuk alasan darurat.
“Rakyat Venezuela bukan bidak catur,” kritik Francisco Rodriguez, peneliti senior di Center for Economic and Policy Research. Kini, dunia menanti apakah retorika panas di media sosial ini akan berubah menjadi konfrontasi fisik yang nyata.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia
Sumber Berita: Xinhua News Agency





















