Warisan Dunia di Ujung Tanduk: Antara Pelestarian, Perang, dan Serbuan Turis

Minggu, 18 Januari 2026 - 20:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Niat mulia menyelamatkan sejarah manusia kini menghadapi musuh baru. Bukan hanya waktu, tapi juga perang, komersialisasi, dan jutaan turis yang membanjiri situs suci. Dok: Istimewa.

Niat mulia menyelamatkan sejarah manusia kini menghadapi musuh baru. Bukan hanya waktu, tapi juga perang, komersialisasi, dan jutaan turis yang membanjiri situs suci. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Hampir semua budaya di dunia membangun monumen untuk merayakan pencapaian mereka. Namun, kesadaran untuk menyelamatkan situs-situs ini sebagai milik “seluruh umat manusia” baru benar-benar tumbuh pada 1950-an.

Dunia tersentak ketika proyek Bendungan Aswan di Mesir mengancam akan menenggelamkan harta karun Firaun. Kampanye internasional yang sukses besar untuk merelokasi kuil-kuil tersebut menjadi titik balik. Semangat ini menular ke proyek serupa, termasuk penyelamatan Candi Borobudur di Indonesia dan reruntuhan Mohenjo-daro di Pakistan.

Momentum ini memuncak pada 1972 dengan lahirnya Konvensi Warisan Dunia UNESCO. Saat ini, 191 negara telah meratifikasinya, menjadikannya salah satu perjanjian internasional paling inklusif. Italia, China, dan Spanyol memimpin daftar dengan jumlah situs terbanyak.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, di balik prestise label “Warisan Dunia”, tersimpan ancaman nyata yang makin mengkhawatirkan.

Ancaman Perang dan Penjarahan

Meskipun Konvensi Jenewa secara teoritis melarang permusuhan terhadap monumen bersejarah, realitas di lapangan sering kali brutal. Konflik bersenjata menjadi penghancur utama.

Baca Juga :  Guncangan Aviasi Global: IATA Peringatkan Pemulihan Avtur Butuh Waktu Berbulan-bulan

Di Taman Nasional Garamba, Republik Demokratik Kongo, milisi membantai badak putih dan menjual culanya untuk membeli senjata. Di Suriah, situs Romawi kuno Palmyra mengalami nasib tragis pada 2014. Perang merusak situs ini dengan pembangunan jalan paksa, penembakan artileri, hingga penjarahan sistematis.

Di wilayah dengan sumber daya terbatas, pencurian artefak menjadi masalah umum, diperparah oleh polusi dan bencana alam yang tak terduga.

Paradoks Pariwisata Massal

Ironisnya, ancaman terbesar mungkin datang dari pengagum situs itu sendiri: turis. Label UNESCO sering kali menjadi magnet yang mendatangkan jutaan pengunjung, yang pada akhirnya membahayakan situs yang ingin dilindungi.

Kota kuno Angkor Wat di Kamboja kini menerima lebih dari satu juta pengunjung per tahun. Kota tetangganya, Siem Reap, yang 20 tahun lalu hanyalah desa, kini sesak dengan 300 hotel dan bandara internasional. Nasib serupa menimpa Machu Picchu di Peru yang terancam rusak akibat injakan jutaan kaki turis.

Komersialisasi juga mengubah wajah sejarah. Wisatawan di Tembok Besar dekat Beijing kini harus berhadapan dengan pedagang asongan yang menjajakan barang tak relevan. Renovasi ekstensif bahkan membuat keajaiban kuno itu terasa seperti taman hiburan Disneyland.

Baca Juga :  KLH Apresiasi Pemulung Bantar Gebang: Pahlawan Lingkungan di HUT RI ke-80

Melindungi Tradisi, Bukan Hanya Batu

Menyadari bahwa warisan bukan hanya benda fisik, UNESCO menambahkan konvensi kedua pada 2003 untuk melindungi “Warisan Budaya Takbenda”. Ini mencakup tradisi seperti Balet Kerajaan Kamboja hingga gastronomi Prancis.

Namun, tantangan baru muncul. Setelah gastronomi Prancis masuk daftar pada 2010, banyak koki selebritas menggunakannya untuk iklan komersial, membuat UNESCO sempat mempertimbangkan untuk mencabut status tersebut.

Amerika Serikat menolak menandatangani konvensi kedua ini karena masalah hak kekayaan intelektual. AS juga memiliki jauh lebih sedikit situs yang dinominasikan dibanding tetangganya, Meksiko. Alasannya pragmatis: AS tidak ingin perencanaan kota mereka terhambat oleh status warisan dunia.

Pengalaman St. Petersburg di Rusia membuktikan kekhawatiran itu. Aturan ketat untuk menjaga tampilan abad ke-18 justru dilanggar ribuan kali oleh pemilik properti yang ingin memodifikasi bangunan mereka sesuai kebutuhan modern.

Meskipun Konvensi 1972 dianggap “kurang bertaji” dan banyak situs menderita, instrumen ini tetap menjadi benteng pertahanan terbaik yang dimiliki umat manusia untuk menjaga jejak peradabannya dari kepunahan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Cegah Judol dan Narkoba, Polri Gandeng Muhammadiyah Masuk Sekolah
20 Korporasi Terseret Kasus Karhutla, Lahan Terbakar Capai 29 Ribu Hektare
Komnas HAM Ingatkan Polisi, Pengamanan Aksi Mahasiswa Harus Humanis
Ribuan Mahasiswa Siap Aksi di Bundaran HI Besok, Bawa 5 Tuntutan
KPK Belum Dalami Dugaan Amplop untuk Menhut, Fokus Kasus Kuansing
Jual Beli Data hingga Judol Meresahkan, Kapolri dan Menkomdigi Perkuat Kolaborasi
MUI Soroti Klaim Imam Mahdi di Bangkalan, Korban Rugi Rp1,3 Miliar
Musim Hujan Mundur hingga 30 Hari, BMKG Ingatkan Ancaman Banjir Akhir Tahun

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 21:39 WIB

Cegah Judol dan Narkoba, Polri Gandeng Muhammadiyah Masuk Sekolah

Kamis, 29 Oktober 2026 - 15:08 WIB

20 Korporasi Terseret Kasus Karhutla, Lahan Terbakar Capai 29 Ribu Hektare

Selasa, 27 Oktober 2026 - 18:06 WIB

Komnas HAM Ingatkan Polisi, Pengamanan Aksi Mahasiswa Harus Humanis

Selasa, 27 Oktober 2026 - 14:36 WIB

Ribuan Mahasiswa Siap Aksi di Bundaran HI Besok, Bawa 5 Tuntutan

Selasa, 27 Oktober 2026 - 12:24 WIB

KPK Belum Dalami Dugaan Amplop untuk Menhut, Fokus Kasus Kuansing

Berita Terbaru

Hakim federal menolak permintaan Pemerintahan Trump untuk menghentikan penghitungan 20 ribu surat suara di California.  Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Hakim Federal Tolak Permintaan Pemerintahan Trump Soal Suara

Jumat, 30 Okt 2026 - 12:42 WIB

Menhan AS Pete Hegseth memecat perencana militer utama Pentagon Letjen Brett Sylvia. Simak kaitannya dengan rencana serangan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Menhan AS Pete Hegseth Pecat Perencana Militer Utama

Jumat, 30 Okt 2026 - 11:39 WIB

Ilustrasi, Biaya Perang Iran melonjak hingga 47,1 miliar Dolar AS. Simak rincian pengeluaran amunisi Pentagon dan dampaknya pada Pemilu. Dok: Britannica.

INTERNASIONAL

Biaya Perang Iran Melonjak Hingga 47,1 Miliar Dolar AS

Jumat, 30 Okt 2026 - 09:42 WIB

Tabrakan kereta cepat RENFE dan IRYO di Toledo Spanyol menewaskan 68 orang. Simak kronologi kegagalan sinyal. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Tabrakan Kereta Cepat di Toledo Spanyol Menewaskan 68 Orang

Jumat, 30 Okt 2026 - 08:40 WIB