DAVOS, POSNEWS.CO.ID – Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy tampil tanpa basa-basi di panggung Forum Ekonomi Dunia (WEF) Davos, Kamis (23/1). Dalam pidato yang berapi-api, ia melontarkan kritik tajam kepada sekutu-sekutunya di Eropa.
Secara spesifik, Zelenskyy menuduh para pemimpin Eropa terjebak dalam apa yang ia sebut sebagai “mode Greenland”. Istilah ini menggambarkan sikap pasif mereka yang hanya menunggu kepemimpinan Donald Trump terkait Ukraina dan krisis geopolitik lainnya, alih-alih mengambil inisiatif sendiri.
Kritik tajam ini menutup minggu yang penuh drama diplomatik di resor ski Swiss tersebut. Sebelumnya, para pemimpin Eropa sibuk memadamkan ketegangan dengan Gedung Putih terkait ambisi teritorial Trump atas Greenland.
“Tepat setahun yang lalu, di sini di Davos, saya mengakhiri pidato saya dengan kata-kata ‘Eropa perlu tahu cara membela diri’,” ujar Zelenskyy. “Setahun telah berlalu, dan tidak ada yang berubah.”
Sindiran “Mode Greenland”
Zelenskyy menyoroti ironi prioritas global. Sementara Ukraina bertahan di tengah musim dingin yang pahit dengan infrastruktur yang hancur dihantam rudal Rusia, tuntutan Trump atas Greenland justru menyedot perhatian dunia.
“Eropa tetap dalam mode Greenland: mungkin seseorang di suatu tempat akan melakukan sesuatu,” sindirnya.
Lebih lanjut, ia mempertanyakan logika strategis di balik obsesi tersebut. “Mengirim 14 atau 40 tentara ke Greenland—apa tujuannya? Pesan apa yang dikirimkan ke Putin? Ke China?” tanyanya retoris.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Zelenskyy menegaskan bahwa Eropa tidak boleh membiarkan kehendak Gedung Putih yang makin tidak terprediksi menyandera kebijakan luar negerinya. Bahkan, ia menyarankan dengan nada menantang bahwa Ukraina siap membantu mempertahankan Eropa jika kapal perang Rusia mendekati Greenland. Ia mencontohkan kesuksesan pasukannya menenggelamkan kapal Rusia di dekat Krimea.
NATO dan Angkatan Bersenjata Terpadu
Menurut Zelenskyy, ancaman terhadap Eropa bersifat eksistensial bagi NATO. Oleh karena itu, ia menyerukan agar Eropa segera membentuk “angkatan bersenjata bersatu” yang mampu mempertahankan benua tersebut secara mandiri.
“Hari ini, Eropa hanya mengandalkan keyakinan bahwa jika bahaya datang, NATO akan bereaksi,” katanya. “Tapi tidak ada yang benar-benar melihat aliansi ini beraksi. Jika Putin memutuskan untuk mengambil Lithuania atau menyerang Polandia, siapa yang akan merespons?”
Ia memperingatkan kerapuhan aliansi tersebut. “Saat ini, NATO ada berkat keyakinan bahwa Amerika Serikat akan bertindak… tapi bagaimana jika tidak?”
Di samping isu pertahanan, Zelenskyy mendesak Eropa untuk lebih berotot dalam menargetkan “armada bayangan” kapal tanker minyak Rusia yang mendanai mesin perang Kremlin.
Diplomasi Segitiga di Abu Dhabi
Zelenskyy menyampaikan pidato ini tak lama setelah ia bertemu Trump untuk membahas pembicaraan damai yang macet. Sementara itu, utusan Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner, terbang ke Moskow untuk menemui Vladimir Putin.
Di Moskow, Putin menyambut utusan AS tersebut dengan pamer kekuatan. Kementerian Pertahanan Rusia mengumumkan patroli pesawat pembom strategis Tu-22M3 di atas Laut Baltik hanya beberapa menit setelah pembicaraan dimulai.
Walaupun ketegangan meningkat, diplomasi terus bergulir. Zelenskyy mengonfirmasi bahwa Ukraina, Rusia, dan AS akan mengadakan pembicaraan tiga pihak (trilateral) di Abu Dhabi akhir pekan ini. Ini menandai pertama kalinya ketiga negara duduk bersama sejak invasi Rusia pada 2022.
“Kita akan lihat apa hasilnya nanti,” ujar Zelenskyy dengan nada hati-hati. “Itu lebih baik daripada tidak ada dialog sama sekali.”
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















