JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Penonton film horor Indonesia pasti hafal betul dengan pola ini. Adegan klimaks yang mencekam, hantu mengamuk, dan protagonis yang terpojok. Tiba-tiba, datanglah seorang tokoh penyelamat berpakaian koko dan berpeci: Pak Ustaz.
Ia melafalkan ayat suci dengan lantang. Seketika, hantu yang tadinya garang itu menjerit kepanasan dan terbakar hangus. Layar pun meredup, digantikan oleh adegan para tokoh yang bertobat di atas sajadah.
Inilah ciri khas “Horor Religi” nusantara. Agama, khususnya Islam, hampir selalu hadir sebagai deus ex machina atau penyelesaian masalah instan. Faktanya, fenomena ini membedakan sinema kita secara drastis dari film horor mancanegara.
Teologis vs Nihilistik
Mari kita bandingkan dengan horor Barat. Film-film seperti Hereditary atau The Omen sering kali berakhir dengan kemenangan si jahat. Nuansanya nihilistik dan putus asa. Manusia tidak berdaya melawan kekuatan iblis.
Sebaliknya, horor Indonesia menawarkan kepastian teologis. Pesannya jelas: Tuhan selalu lebih besar daripada setan.
Solusi yang ditawarkan pun konkret, yakni tobat dan ruqyah. Oleh karena itu, penonton pulang dari bioskop dengan perasaan lega, bukan depresi. Film horor lokal berfungsi sebagai penegas iman bahwa kejahatan pasti kalah oleh kesalehan.
Pocong dan Kuntilanak: Hantu yang “Akrab”
Eksplorasi mitos lokal juga menjadi kunci. Kita tidak takut pada vampir atau zombi. Justru, kita merinding melihat Pocong, Kuntilanak, atau Genderuwo.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hantu-hantu ini dekat dengan kepercayaan masyarakat sehari-hari. Namun, dalam bingkai horor religi, mereka ditempatkan sebagai makhluk yang derajatnya lebih rendah dari manusia beriman.
Mereka menakutkan, tetapi mereka bisa dikalahkan. Lantas, narasi ini memberikan rasa kontrol kepada penonton. Ketakutan akan hal gaib diredam oleh keyakinan agama yang kuat.
Kritik Formula: “Gak Salat, Teror Lewat”
Meskipun populer, formula ini mulai memicu kejenuhan. Kritikus film menyoroti plot yang itu-itu saja. Premisnya sering kali seragam: seseorang melalaikan ibadah atau melakukan syirik (pesugihan), lalu diteror setan sebagai hukuman.
Logika cerita sering kali dipaksakan demi pesan moral. Akibatnya, kualitas naskah menjadi dangkal. Karakter Ustaz pun sering kali hanya menjadi “tukang pukul” spiritual tanpa kedalaman karakter yang memadai.
Selain itu, ada tendensi menyederhanakan masalah. Seolah-olah, semua gangguan supranatural bisa selesai hanya dengan membaca satu ayat, mengabaikan aspek psikologis atau kausalitas cerita yang lebih logis.
Dakwah atau Eksploitasi?
Pada akhirnya, muncul pertanyaan besar. Apakah film-film ini adalah media dakwah terselubung yang efektif? Atau, ini sekadar eksploitasi ketakutan religius demi keuntungan komersial?
Jawabannya mungkin ada di tengah-tengah. Produser tahu bahwa pasar Indonesia sangat religius. Maka, membungkus horor dengan agama adalah strategi dagang yang cerdas.
Akan tetapi, kita tidak bisa menampik dampaknya. Bagi sebagian penonton, film ini memang menjadi pengingat untuk kembali ke jalan yang benar. Horor religi adalah cermin unik budaya kita, di mana rasa takut dan rasa taat berjalan beriringan di lorong bioskop yang gelap.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















