NEW YORK, POSNEWS.CO.ID – Suasana Markas Besar PBB di New York mendadak tegang pada Selasa (23/12/2025). Dewan Keamanan PBB menggelar pertemuan darurat untuk membahas eskalasi konflik di Venezuela.
Pertemuan ini terjadi atas permintaan mendesak Caracas. Hasilnya, mayoritas anggota dewan menyuarakan pesan senada. Mereka menyerukan penghormatan mutlak terhadap Piagam PBB dan menuntut semua pihak menahan diri demi mencegah perang terbuka.
Perwakilan Venezuela, Samuel Moncada Acosta, menggunakan panggung tersebut untuk membunyikan alarm bahaya. Ia memperingatkan dunia bahwa ambisi Amerika Serikat (AS) tidak akan berhenti di perbatasan Venezuela saja.
“Ambisinya bersifat kontinental,” tegas Moncada. Menurutnya, Washington sedang menghidupkan kembali “Doktrin Monroe” abad ke-21 yang diperparah oleh kebijakan agresif Presiden Trump.
Rusia: Ini Tindakan Agresi Murni
Dukungan kuat bagi Venezuela datang dari Rusia. Duta Besar Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzia, tidak menahan diri dalam kritiknya. Ia mengutuk keras penyitaan tanker minyak dan pemberlakuan blokade angkatan laut secara de facto oleh pasukan AS.
“Tindakan AS melanggar semua norma utama hukum internasional, termasuk Konvensi Hukum Laut,” ujar Nebenzia.
Bahkan, ia menyebut blokade ilegal terhadap garis pantai Venezuela sebagai “tindakan agresi yang murni”. Nebenzia juga memberikan peringatan serius kepada negara-negara lain di kawasan tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ini adalah pesan yang tidak ambigu,” katanya. Artinya, Washington hanya akan menghormati kemerdekaan sebuah negara selama negara tersebut melayani kepentingan AS. Jika negara itu mencoba mandiri, mereka akan bernasib sama seperti Venezuela.
China Lawan “Bullying”
China turut angkat bicara dengan nada tegas. Wakil Tetap China, Sun Lei, mendesak AS untuk segera menghentikan kampanyenya melawan Venezuela.
Sun menilai tindakan dan retorika AS telah memicu ketegangan yang berbahaya. “China menentang semua tindakan unilateralisme dan penindasan (bullying),” tegas Sun.
Oleh karena itu, Beijing mendukung penuh hak Venezuela untuk membela kedaulatan dan martabat nasionalnya. Sun menekankan bahwa sebagai negara merdeka, Venezuela berhak menjalin kerja sama dengan siapa pun tanpa campur tangan asing.
“Kami menentang setiap langkah yang melanggar tujuan dan prinsip Piagam PBB,” tambahnya.
Pada akhirnya, pertemuan ini menunjukkan isolasi diplomatik AS dalam isu Venezuela. Komunitas internasional mendesak Washington untuk mendengarkan seruan keadilan dan menghindari eskalasi yang bisa membakar seluruh kawasan Amerika Latin.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia
Sumber Berita: Xinhua News Agency


















