PBB Memanas: Mayoritas Dewan Keamanan Kecam Blokade AS

Kamis, 25 Desember 2025 - 09:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Menjunjung tinggi supremasi hukum. Legalisme Internasional membuktikan bahwa perjanjian dan pengadilan global tetap menjadi benteng terakhir kemanusiaan di dunia yang anarki. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Menjunjung tinggi supremasi hukum. Legalisme Internasional membuktikan bahwa perjanjian dan pengadilan global tetap menjadi benteng terakhir kemanusiaan di dunia yang anarki. Dok: Istimewa.

NEW YORK, POSNEWS.CO.ID – Suasana Markas Besar PBB di New York mendadak tegang pada Selasa (23/12/2025). Dewan Keamanan PBB menggelar pertemuan darurat untuk membahas eskalasi konflik di Venezuela.

Pertemuan ini terjadi atas permintaan mendesak Caracas. Hasilnya, mayoritas anggota dewan menyuarakan pesan senada. Mereka menyerukan penghormatan mutlak terhadap Piagam PBB dan menuntut semua pihak menahan diri demi mencegah perang terbuka.

Perwakilan Venezuela, Samuel Moncada Acosta, menggunakan panggung tersebut untuk membunyikan alarm bahaya. Ia memperingatkan dunia bahwa ambisi Amerika Serikat (AS) tidak akan berhenti di perbatasan Venezuela saja.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Ambisinya bersifat kontinental,” tegas Moncada. Menurutnya, Washington sedang menghidupkan kembali “Doktrin Monroe” abad ke-21 yang diperparah oleh kebijakan agresif Presiden Trump.

Baca Juga :  Kombes Rita Wulandari Resmi Menjabat Dirres PPA dan PPO Polda Metro Jaya

Rusia: Ini Tindakan Agresi Murni

Dukungan kuat bagi Venezuela datang dari Rusia. Duta Besar Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzia, tidak menahan diri dalam kritiknya. Ia mengutuk keras penyitaan tanker minyak dan pemberlakuan blokade angkatan laut secara de facto oleh pasukan AS.

“Tindakan AS melanggar semua norma utama hukum internasional, termasuk Konvensi Hukum Laut,” ujar Nebenzia.

Bahkan, ia menyebut blokade ilegal terhadap garis pantai Venezuela sebagai “tindakan agresi yang murni”. Nebenzia juga memberikan peringatan serius kepada negara-negara lain di kawasan tersebut.

“Ini adalah pesan yang tidak ambigu,” katanya. Artinya, Washington hanya akan menghormati kemerdekaan sebuah negara selama negara tersebut melayani kepentingan AS. Jika negara itu mencoba mandiri, mereka akan bernasib sama seperti Venezuela.

Baca Juga :  Junta Cari Legitimasi di Tengah Perang, PBB dan Barat Sebut Palsu

China Lawan “Bullying”

China turut angkat bicara dengan nada tegas. Wakil Tetap China, Sun Lei, mendesak AS untuk segera menghentikan kampanyenya melawan Venezuela.

Sun menilai tindakan dan retorika AS telah memicu ketegangan yang berbahaya. “China menentang semua tindakan unilateralisme dan penindasan (bullying),” tegas Sun.

Oleh karena itu, Beijing mendukung penuh hak Venezuela untuk membela kedaulatan dan martabat nasionalnya. Sun menekankan bahwa sebagai negara merdeka, Venezuela berhak menjalin kerja sama dengan siapa pun tanpa campur tangan asing.

“Kami menentang setiap langkah yang melanggar tujuan dan prinsip Piagam PBB,” tambahnya.

Pada akhirnya, pertemuan ini menunjukkan isolasi diplomatik AS dalam isu Venezuela. Komunitas internasional mendesak Washington untuk mendengarkan seruan keadilan dan menghindari eskalasi yang bisa membakar seluruh kawasan Amerika Latin.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Sumber Berita: Xinhua News Agency

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran
António Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng
Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan
Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila
Mikrofon Bocor Ungkap Obrolan Spontan Para Pemimpin Dunia
Alysa Liu dan Ilia Malinin Siap Beraksi di Skate America
Aliansi SoftBank dan OpenAI: Perangi Krisis Siber Jepang
Bos Nvidia Jensen Huang Desak Masyarakat Cepat Adaptasi

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 15:17 WIB

PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran

Rabu, 17 Juni 2026 - 14:48 WIB

António Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng

Rabu, 17 Juni 2026 - 12:21 WIB

Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila

Rabu, 17 Juni 2026 - 11:12 WIB

Mikrofon Bocor Ungkap Obrolan Spontan Para Pemimpin Dunia

Rabu, 17 Juni 2026 - 10:01 WIB

Alysa Liu dan Ilia Malinin Siap Beraksi di Skate America

Berita Terbaru

Sinergi Tokyo-Washington di G7. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menggelar pertemuan bilateral singkat bersama Presiden AS Donald Trump untuk membahas isu Timur Tengah dan tarif dagang. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran

Rabu, 17 Jun 2026 - 15:17 WIB

Penderitaan di bawah kuasa geng. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mengunjungi Haiti guna menyaksikan langsung krisis kemanusiaan dan pengungsian massal akibat dominasi geng Viv Ansanm. Dok: (AP Photo/Danica Coto)

INTERNASIONAL

António Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng

Rabu, 17 Jun 2026 - 14:48 WIB