ALEPPO, POSNEWS.CO.ID – Langit di atas Aleppo timur kembali bergemuruh. Pasukan militer Suriah berhasil menembak jatuh drone bermusuhan yang meluncur ke arah posisi strategis mereka di dekat Bendungan Tishreen, Jumat lalu.
Media pemerintah, SANA, melaporkan bahwa drone tersebut diluncurkan oleh Pasukan Demokratik Suriah (SDF). Beruntung, unit pertahanan udara berhasil mencegat ancaman tersebut sebelum mencapai target vital.
Pemerintah Damaskus bereaksi keras. Mereka melabeli serangan ini sebagai pelanggaran serius terhadap kesepakatan 10 Maret. Padahal, perjanjian tersebut dirancang untuk meredakan ketegangan antara kedua belah pihak.
Baku Tembak di Pos Pemeriksaan
Insiden tidak berhenti di udara. Secara terpisah, pasukan SDF juga menyerang pos pemeriksaan Keamanan Internal Suriah di dekat bundaran al-Shihan, Aleppo. Akibatnya, satu personel keamanan dilaporkan terluka.
Mohammad Abdel Ghani, komandan Keamanan Internal provinsi Aleppo, membeberkan detail serangan. Menurutnya, penembak jitu (sniper) SDF yang bersembunyi di lingkungan Sheikh Maqsoud dan Ashrafieh melepaskan tembakan ke arah petugas.
“Mereka menembak saat petugas sedang mengatur lalu lintas warga sipil,” ungkap Abdel Ghani.
Ia memperingatkan warga untuk menghindari zona konflik demi keselamatan. Lebih lanjut, Abdel Ghani menegaskan bahwa pelanggaran berkelanjutan oleh SDF akan menghadapi “tindakan yang diperlukan”. Pihaknya akan meminta pertanggungjawaban penuh kelompok tersebut atas setiap eskalasi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
SDF: “Respons Terbatas”
Di sisi lain, SDF memberikan narasi berbeda. Mereka mengklaim pasukan mereka di dekat bundaran al-Shihan lebih dulu menerima serangan.
SDF menuduh faksi-faksi yang berafiliasi dengan pemerintah Damaskus melakukan penembakan (shelling). Oleh karena itu, mereka menyebut serangan balik mereka sebagai respons yang “terbatas”.
Ketegangan di Aleppo dan sekitarnya memang sedang memuncak dalam beberapa pekan terakhir. Rentetan konfrontasi bersenjata, serangan penembak jitu, dan saling tuduh mewarnai hubungan kedua kubu.
Nasib Kesepakatan 10 Maret
Eskalasi ini membahayakan kerangka kerja dialog yang telah susah payah dibangun. Kesepakatan 10 Maret bertujuan untuk mengintegrasikan struktur militer dan administrasi Suriah timur laut ke dalam lembaga negara.
Selain itu, perjanjian ini bertujuan menjaga persatuan wilayah dan mencegah bentrokan lebih lanjut. Sayangnya, implementasi di lapangan terus tertunda.
Damaskus menuduh SDF gagal menghormati komitmen dan terus melakukan gerakan militer sepihak. Sebaliknya, SDF menyalahkan pasukan pro-pemerintah yang mereka anggap sengaja memprovokasi konfrontasi.
Kini, stabilitas Aleppo kembali dipertaruhkan. Jika kedua pihak gagal menahan diri, kesepakatan damai tersebut bisa berakhir hanya sebagai kertas kosong di tengah medan perang yang kembali membara.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia
Sumber Berita: Xinhua News Agency


















