Iran Siap Bidik Musuh: Menlu Araghchi Tantang Ancaman

Sabtu, 3 Januari 2026 - 10:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Navigasi di tengah bara. Pemerintah PM Sanae Takaichi memilih sikap netral saat mengamati dampak kematian Ayatollah Ali Khamenei terhadap keamanan energi dan keselamatan warga negara Jepang di Timur Tengah. Dok: Istimewa.

Navigasi di tengah bara. Pemerintah PM Sanae Takaichi memilih sikap netral saat mengamati dampak kematian Ayatollah Ali Khamenei terhadap keamanan energi dan keselamatan warga negara Jepang di Timur Tengah. Dok: Istimewa.

TEHERAN, POSNEWS.CO.ID – Retorika perang kembali memanas di Timur Tengah. Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, bersumpah menolak mentah-mentah setiap campur tangan asing. Ia menegaskan hal ini pada hari Jumat terkait urusan internal negaranya. Araghchi melontarkan peringatan keras ini sebagai balasan langsung. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump telah melontarkan ancaman terbuka.

Lewat unggahan di platform X, Araghchi menegaskan kondisi angkatan bersenjata Iran. Ia menyebut pasukan dalam kondisi siaga penuh. “Kami tahu persis ke mana harus membidik jika musuh melanggar kedaulatan kami,” tulisnya. Pernyataan ini merespons komentar Trump di Truth Social. Trump mengklaim AS akan “datang menyelamatkan” jika Iran menembaki pengunjuk rasa damai.

Gejolak Rial Pemicu Amarah

Perang kata-kata ini meletus saat situasi domestik Iran sedang mendidih. Sejak Minggu, gelombang protes melanda sejumlah kota besar. Penyebab utamanya adalah depresiasi tajam mata uang nasional, rial. Nilai tukar dolar AS kini menembus angka 1,35 juta rial di pasar terbuka. Lonjakan ini lantas menghancurkan daya beli masyarakat.

Media Iran melaporkan situasi terkini pada hari Kamis. Bentrokan di dua provinsi telah menewaskan setidaknya tiga orang. Selain itu, insiden ini melukai 13 personel keamanan dalam 24 jam terakhir.

Baca Juga :  Upaya Selamatkan Saksi Bisu Perbudakan Seksual Jepang di Filipina

Araghchi mengakui hak warga negara untuk protes damai. Terutama bagi mereka yang terdampak volatilitas nilai tukar. Namun, ia memberi garis tegas. “Kami mencatat insiden kekerasan terisolasi, termasuk serangan terhadap kantor polisi,” ujarnya. Ia juga menyebut lemparan bom Molotov ke petugas. Teheran menegaskan tidak akan mentolerir serangan kriminal terhadap properti publik.

Sanksi Barat Jadi Kambing Hitam?

Pejabat lokal menuding tekanan eksternal sebagai biang keladi. Wakil Gubernur Provinsi Lorestan, Saeid Pourali, angkat bicara. Ia mengaitkan protes ini dengan keluhan ekonomi murni.

Ia menekankan bahwa tekanan ekonomi yang mencekik berakar dari sanksi Barat yang “kejam”. Tekanan ini mencakup volatilitas mata uang hingga masalah penghidupan sehari-hari. Sebagai catatan, ekonomi Iran terus terpuruk sejak tahun 2018. Saat itu, AS menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015 dan memberlakukan kembali sanksi berat.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lingkaran Setan Teheran

Situasi Iran saat ini mencerminkan kerapuhan “dua front” yang Teheran hadapi.

Baca Juga :  Reklamasi Pasca-Tambang: Antara Danau Wisata Eksotis dan Lubang Maut yang Mengintai

Secara internal, krisis hebat sedang menguji legitimasi ekonomi pemerintah. Jatuhnya nilai rial bukan sekadar angka statistik. Ini adalah krisis eksistensial bagi kelas menengah Iran karena tabungan mereka menguap. Pemerintah sulit menjual narasi “perlawanan anti-Barat” ketika rakyat lapar.

Secara eksternal, ancaman Trump menempatkan Iran dalam dilema strategis. Jika Teheran menindak keras demonstran, mereka memberi amunisi bagi AS. AS bisa melakukan intervensi lebih jauh atau menambah sanksi. Namun, stabilitas rezim terancam jika pemerintah membiarkan protes meluas.

Pola ini menciptakan lingkaran setan. Sanksi AS memicu krisis ekonomi, lalu krisis memicu protes. Kemudian, protes memicu represi yang mengundang kecaman dan sanksi baru. Pengamat bisa membaca ancaman Araghchi sebagai upaya pengalihan fokus publik. Pemerintah ingin menggeser isu kegagalan ekonomi domestik menuju musuh bersama di luar negeri.

Stabilitas kawasan kini bergantung pada keberanian Teheran mengambil risiko. Pilihannya adalah fokus memperbaiki ekonomi dengan diplomasi. Atau, memilih konfrontasi militer sebagai jalan keluar dari tekanan domestik.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kasus Kecelakaan Kereta di Bekasi Naik Penyidikan, Polisi Periksa Green SM Besok
Essa Suleiman Didakwa Percobaan Pembunuhan, Inggris Siaga Tinggi
Tabrak Lari di Kalimalang, Pedagang Buah Terluka Parah – Polisi Buru Sopir Pajero Hitam
BMKG Warning Cuaca Banten, Hujan Lebat dan Angin Kencang 3-8 Mei 2026
Zelenskyy Rombak Struktur Tentara dan Naikkan Gaji Prajurit
Pemerintahan Trump Tuduh Era Biden Targetkan Umat Beriman
10 Tewas dalam Serangan Israel di Lebanon Selatan, Hezbollah Balas dengan Drone
Trump Klaim Permusuhan Berakhir Guna Hindari Izin Kongres

Berita Terkait

Minggu, 3 Mei 2026 - 13:29 WIB

Kasus Kecelakaan Kereta di Bekasi Naik Penyidikan, Polisi Periksa Green SM Besok

Minggu, 3 Mei 2026 - 13:15 WIB

Essa Suleiman Didakwa Percobaan Pembunuhan, Inggris Siaga Tinggi

Minggu, 3 Mei 2026 - 13:04 WIB

Tabrak Lari di Kalimalang, Pedagang Buah Terluka Parah – Polisi Buru Sopir Pajero Hitam

Minggu, 3 Mei 2026 - 12:40 WIB

BMKG Warning Cuaca Banten, Hujan Lebat dan Angin Kencang 3-8 Mei 2026

Minggu, 3 Mei 2026 - 12:12 WIB

Zelenskyy Rombak Struktur Tentara dan Naikkan Gaji Prajurit

Berita Terbaru

Inggris dalam siaga

INTERNASIONAL

Essa Suleiman Didakwa Percobaan Pembunuhan, Inggris Siaga Tinggi

Minggu, 3 Mei 2026 - 13:15 WIB

Transformasi di garis depan. Presiden Volodymyr Zelenskyy mengumumkan reformasi sistemik militer Ukraina mulai Juni 2026 guna mengatasi kekurangan personel dan meningkatkan kesejahteraan pasukan infanteri. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Zelenskyy Rombak Struktur Tentara dan Naikkan Gaji Prajurit

Minggu, 3 Mei 2026 - 12:12 WIB