PM Takaichi Pertaruhkan Hubungan Jepang-China Tanpa Komeito

Minggu, 4 Januari 2026 - 17:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Transformasi militer Tokyo. PM Sanae Takaichi mendapatkan restu partai untuk merombak sistem intelijen dan aturan ekspor senjata guna menghadapi tantangan keamanan di Selat Taiwan. Dok: Istimewa.

Transformasi militer Tokyo. PM Sanae Takaichi mendapatkan restu partai untuk merombak sistem intelijen dan aturan ekspor senjata guna menghadapi tantangan keamanan di Selat Taiwan. Dok: Istimewa.

TOKYO, POSNEWS.CO.ID – Lampu kuning menyala di Nagatacho, pusat politik Jepang. Komentar Perdana Menteri Sanae Takaichi mengenai potensi keterlibatan Jepang dalam “keadaan darurat Taiwan” telah memicu ketegangan baru dengan China. Namun, yang lebih mengkhawatirkan para pengamat bukanlah retorika itu sendiri, melainkan hilangnya suara-suara moderat di sekeliling sang pemimpin.

Para kritikus memperingatkan bahwa tanpa penyeimbang, kecenderungan garis keras Takaichi kini melaju tanpa hambatan. Situasi ini semakin pelik setelah mitra koalisi sentris dan para senior moderat di partainya perlahan menjauh.

Pecah Kongsi Bersejarah

Titik balik terjadi kurang dari seminggu setelah Takaichi memenangkan pemilihan presiden Partai Demokrat Liberal (LDP) pada 4 Oktober. Partai Komeito memutuskan mengakhiri aliansi 26 tahun mereka dengan LDP. Pemicunya adalah frustrasi atas respons LDP terhadap skandal dana politik.

Hengkangnya Komeito bukan sekadar perubahan aritmatika parlemen. Partai ini, yang didukung oleh organisasi Buddha awam terbesar di Jepang, Soka Gakkai, selama ini berfungsi sebagai “jembatan emas” ke Beijing. China bahkan memuji mendiang Daisaku Ikeda, pendiri Komeito, atas perannya dalam normalisasi hubungan diplomatik kedua negara. Tanpa Komeito, saluran komunikasi belakang layar (backchannel) yang krusial itu kini terputus.

Baca Juga :  WHO Lawan Balik: Tedros Sebut Alasan AS Keluar Tidak Benar

Bayang-bayang Shinzo Abe

Banyak pihak melabeli Takaichi sebagai pewaris ideologis mantan Perdana Menteri Shinzo Abe, yang tewas dibunuh pada 2022. Takaichi memang mengagumi sikap tegas Abe dalam keamanan. Namun, seorang anggota parlemen oposisi menyoroti perbedaan krusial: Abe jauh lebih terampil membangun konsensus melalui dialog.

Saat hubungan Sino-Jepang memanas, Abe masih menunjuk Toshihiro Nikai, politisi yang dekat dengan China, sebagai orang nomor dua di partai. Abe juga mengandalkan Komeito sebagai penghubung ke Partai Komunis China. Sebaliknya, Takaichi dinilai “pro-Taiwan secara sepihak” dan tidak memiliki orang di lingkaran dalamnya yang berani menyuarakan pandangan berbeda.

“Dia tampaknya tidak mampu merumuskan kebijakan melalui komunikasi yang memadai,” ungkap seorang sumber pemerintah yang skeptis akan kemampuan Takaichi menangani masalah kompleks sehalus Abe.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ekonomi dan Diplomasi yang “Miring”

Gaya kepemimpinan “solo” ini juga merembet ke kebijakan ekonomi. Takaichi memberikan pos kabinet kunci kepada loyalis yang mendukung belanja ekspansif, seraya menyingkirkan seruan disiplin fiskal. Karena koalisinya kini hanya memegang mayoritas tipis, ia terpaksa mencari dukungan dari Partai Demokrat untuk Rakyat, kekuatan oposisi yang lunak secara fiskal.

Baca Juga :  John Herdman Resmi Latih Timnas Indonesia, PSSI Targetkan Prestasi Asia

Takahide Kiuchi, ekonom eksekutif di Nomura Research Institute, sebelumnya memprediksi bahwa kepergian Komeito akan memberi LDP “keleluasaan lebih besar”. Namun, kebebasan ini berisiko menjadi bumerang. Keputusan kebijakan yang didorong semata-mata oleh pembantu sepemikiran dapat menghambat hubungan diplomatik yang terkalibrasi dengan hati-hati.

Kritik Pedas Oposisi

Langkah Takaichi yang tidak melarang pejabat senior LDP mengunjungi Taiwan—berbeda dengan pendekatan hati-hati Abe—telah membuat Beijing murka. Ichiro Ozawa, tokoh utama oposisi dari Partai Demokrat Konstitusional Jepang, mengecam keras manuver tersebut.

“Apakah dia mencoba memperburuk situasi? Bisakah Perdana Menteri Takaichi benar-benar dipercaya untuk membuat penilaian yang masuk akal?” tanya Ozawa lewat media sosial, menuding Takaichi sedang “menyiramkan bensin ke dalam api”.

Di tengah memudarnya penahan internal dan meningkatnya ketegangan eksternal, Jepang kini berada di persimpangan jalan yang berbahaya di bawah kendali pemimpin wanita pertamanya.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Sumber Berita: Kyodo

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Wanita Tewas di Kamar Terkunci di Jaktim, Leher Tersayat, Polisi Selidiki WNA Iran
Remisi Lebaran 2026: 155.908 Warga Binaan Pengurangan Hukuman, Ribuan Langsung Bebas
Viral Polantas Dorong Mobil Mogok Pakai Kaki di Tol Cipali, Sejauh 3 Km Bikin Salut
BMKG Gelar Modifikasi Cuaca Lebaran 2026, Hujan Ekstrem Ditekan hingga 50 Persen
Prabowo Undang SBY dan Jokowi ke Istana, Momen Langka Halalbihalal Lebaran 2026
Tol Jakarta-Cikampek Macet Parah Hari Ini, Contraflow Diperpanjang hingga KM 47–65
Open House Istana Lebaran 2026 Dibuka, 5.000 Warga Bisa Hadir Mulai Pukul 12.00 WIB
Cuaca Jabodetabek dan Kota Besar Sabtu 21 Maret 2026: Hujan Lebat dan Petir Mengintai

Berita Terkait

Sabtu, 21 Maret 2026 - 17:09 WIB

Wanita Tewas di Kamar Terkunci di Jaktim, Leher Tersayat, Polisi Selidiki WNA Iran

Sabtu, 21 Maret 2026 - 16:43 WIB

Remisi Lebaran 2026: 155.908 Warga Binaan Pengurangan Hukuman, Ribuan Langsung Bebas

Sabtu, 21 Maret 2026 - 16:25 WIB

Viral Polantas Dorong Mobil Mogok Pakai Kaki di Tol Cipali, Sejauh 3 Km Bikin Salut

Sabtu, 21 Maret 2026 - 16:10 WIB

BMKG Gelar Modifikasi Cuaca Lebaran 2026, Hujan Ekstrem Ditekan hingga 50 Persen

Sabtu, 21 Maret 2026 - 15:51 WIB

Prabowo Undang SBY dan Jokowi ke Istana, Momen Langka Halalbihalal Lebaran 2026

Berita Terbaru