Sepak Bola Mesir: Antara Opium Rakyat dan Alat Politik

Jumat, 16 Januari 2026 - 15:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Di Kairo, sepak bola bukan sekadar olahraga. Ia adalah pelarian dari kemiskinan, alat propaganda diktator, hingga martir dalam revolusi Tahrir Square. Dok: Istimewa.

Di Kairo, sepak bola bukan sekadar olahraga. Ia adalah pelarian dari kemiskinan, alat propaganda diktator, hingga martir dalam revolusi Tahrir Square. Dok: Istimewa.

KAIRO, POSNEWS.CO.ID – Sepak bola adalah industri triliunan dolar yang menyihir dunia. Di Lembah Omo, Ethiopia, penggembala miskin mengenakan kaos AC Milan. Di China, anak sekolah menamai diri mereka “Ronaldo”. Namun, di Mesir, “permainan indah” ini memiliki dimensi yang jauh lebih gelap dan kompleks.

Meskipun sepak bola memutar roda ekonomi global, Kairo justru berhenti berdetak saat pertandingan besar berlangsung. Warga setempat punya lelucon: waktu terbaik mengemudi melintasi kota adalah saat laga final antara dua raksasa, Al Ahly dan Zamalek. Jalanan sepi, semua mata tertuju ke layar kaca.

Psikolog menyebut dua alasan fanatisme ini: partisipasi dalam kemenangan semu dan rasa memiliki. Bagi rakyat Mesir yang terhimpit ketidakadilan dan korupsi selama 50 tahun terakhir, 90 menit pertandingan adalah satu-satunya waktu mereka bisa melupakan penderitaan hidup.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Perang Kelas di Lapangan Hijau

Sejarah mencatat Inggris memperkenalkan sepak bola modern pada 1882. Namun, rakyat Mesir segera menjadikannya alat identitas. Loyalitas klub di sini berkelindan erat dengan kelas sosial dan politik.

Baca Juga :  AKBP Basuki Dipatsus, Diduga Langgar Etik Terkait Kematian Dosen Untag Semarang

Al Ahly, berdiri tahun 1907, adalah “klub rakyat”. Klub ini membanggakan akar revolusioner anti-Inggris. Presiden Gamal Abdel Nasser yang legendaris bahkan pernah menjabat sebagai presiden kehormatan klub.

Sebaliknya, Zamalek (1911) memiliki sejarah berbeda. Klub ini secara historis mengizinkan pemain asing dan berafiliasi dengan kaum elit serta kerajaan. Pada tahun 1950-an, klub ini bahkan bernama “Farouk”, merujuk pada Raja Farouk. Perseteruan di lapangan adalah cerminan ketegangan sosial yang nyata.

Alat Propaganda Mubarak

Rezim Hosni Mubarak (berkuasa hingga 2011) memahami kekuatan ini. Banyak pihak menuduh Mubarak menggunakan sepak bola untuk mengalihkan perhatian massa dari negara yang bobrok. Ia memanfaatkannya untuk memicu sentimen nasionalis, bahkan mengadu domba rakyat dengan negara lain seperti Aljazair.

Keluarga Mubarak pun ikut bermain. Putra-putranya yang kaya raya kerap berpesta dengan bintang sepak bola. Para pemilik klub menyumbang dana untuk kampanye politiknya. Rumor menyebutkan, bahkan setelah jatuh, ia masih mendapat dukungan dari lingkaran elit sepak bola ini.

Baca Juga :  Retorika vs Realita: Membedah Dualisme Pesan Washington dalam Perang Iran

Revolusi dan Darah di Port Said

Namun, senjata makan tuan. Selama revolusi 2011 yang menggulingkan Mubarak, kelompok suporter garis keras Al Ahly, yang dikenal sebagai Ultras, turun ke jalan. Mereka memainkan peran aktif dan vital dalam demonstrasi di Tahrir Square.

Harga atas keberanian itu sangat mahal. Pada Februari 2012, dalam sebuah pertandingan di Port Said, serangan brutal menimpa Ultras. Sebanyak 74 orang tewas dalam kerusuhan tersebut.

Ultras mengklaim bahwa gabungan suporter lawan dan aparat keamanan menyerang mereka secara terencana. Mereka meyakini ini adalah hukuman negara atas peran mereka dalam revolusi. Tragedi ini menjadi sinyal bahwa sepak bola tidak lagi menjadi pelarian yang aman bagi massa yang frustrasi.

Wajah Muram Masa Depan

Kini, sepak bola Mesir membutuhkan peremajaan radikal. Kegagalan lolos ke Piala Dunia 2014 dan kekerasan yang terus terjadi membuat banyak warga beralih mendukung tim-tim Eropa.

Kekerasan pertandingan dan pergolakan sosial telah menggerus basis dukungan lokal. Namun, setiap penggemar tahu satu hal pasti: ketika kehidupan di Mesir kembali manis, stadion-stadion lokal akan kembali bergemuruh menyambut momen-momen ajaib.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Direktur FBI Kash Patel Bela Kebijakan Rekrutmen Korban
Dewan Kennedy Center Setujui Penutupan Gedung
Senat AS Gagal Meloloskan RUU Kripto Clarity Act
PM Kanada Mark Carney Pangkas Pajak Investasi
Putera Mahkota Arab Saudi Temui Presiden Mesir
Biaya Perang AS Lawan Iran Tembus 38 Miliar Dolar AS
Donald Trump Kecam Mahkamah Agung AS
Serangan Udara Israel di Lebanon Selatan Tewaskan 13 Orang

Berita Terkait

Kamis, 17 September 2026 - 09:17 WIB

Dewan Kennedy Center Setujui Penutupan Gedung

Kamis, 17 September 2026 - 08:10 WIB

Senat AS Gagal Meloloskan RUU Kripto Clarity Act

Kamis, 17 September 2026 - 07:03 WIB

PM Kanada Mark Carney Pangkas Pajak Investasi

Kamis, 17 September 2026 - 06:00 WIB

Putera Mahkota Arab Saudi Temui Presiden Mesir

Rabu, 16 September 2026 - 17:39 WIB

Biaya Perang AS Lawan Iran Tembus 38 Miliar Dolar AS

Berita Terbaru

HKC meluncurkan monitor ultrawide Tianqi 43H180C 43,8 inci berasio 24:9 180Hz pertama di dunia. Simak spesifikasi lengkap dan analisis performa GPU di sini. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

HKC Luncurkan Monitor Ultrawide 43,8 Inci Tianqi 43H180C

Kamis, 17 Sep 2026 - 13:30 WIB

iPhone 18 Pro, 18 Pro Max, dan Duo resmi mengantongi sertifikasi TKDN Kemenperin 40%. Simak rincian nomor model dan prospek tanggal rilisnya. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

iPhone 18 Pro, 18 Pro Max Resmi Kantongi Sertifikasi TKDN

Kamis, 17 Sep 2026 - 12:44 WIB