Mengapa Deafhood Adalah Kunci Pembebasan Kaum Tuli

Jumat, 23 Januari 2026 - 08:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Selama berabad-abad, dunia melihat ketulian sebagai

Ilustrasi, Selama berabad-abad, dunia melihat ketulian sebagai "kerusakan" yang harus diperbaiki. Kini, gerakan Deafhood menantang narasi itu dengan merayakan budaya Bahasa Isyarat sebagai identitas yang utuh. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Pernahkah Anda bertanya-tanya, apa sebenarnya makna menjadi Tuli? Apakah itu sekadar istilah medis untuk seseorang yang kehilangan indra pendengaran? Ataukah ada makna yang lebih dalam yang selama ini kita abaikan?

Selama berabad-abad, masyarakat umum mendefinisikan komunitas Tuli dengan istilah-istilah seperti “gangguan pendengaran” atau “cacat”. Namun, sebuah istilah baru muncul untuk menantang definisi tersebut: Deafhood.

Istilah ini bukan sekadar eufemisme politik. Deafhood adalah sebuah filosofi perlawanan.

Dr. Paddy Ladd, seorang sarjana Tuli dari Universitas Bristol, Inggris, pertama kali mencetuskan istilah ini pada tahun 1993. Dalam bukunya tahun 2003, Understanding Deaf Culture – In Search of Deafhood, Ladd menjelaskan visi ganda konsep ini.

Pertama, Deafhood berusaha mengumpulkan kekayaan budaya, politik, dan kehidupan “Masyarakat Bahasa Isyarat” (SLP). Kedua, ia bertujuan menghapus batasan-batasan yang masyarakat dengar paksakan kepada mereka melalui “kolonisasi”.

Melawan Penjajah: Oralisme dan Audisme

Untuk memahami Deafhood, kita harus mengenali musuh-musuhnya. Sejarah mencatat dua ideologi yang menindas kaum Tuli: Oralisme dan Audisme.

Oralisme muncul pada akhir abad ke-19. Filosofi ini memaksa kaum Tuli untuk berbicara secara lisan dan melarang penggunaan bahasa isyarat agar mereka bisa “berintegrasi”. Akibatnya, pendukung oralisme menganggap bahasa isyarat sebagai hambatan, mirip dengan cara penjajah menindas bahasa suku Maori di Selandia Baru atau Aborigin di Australia.

Baca Juga :  Hubungan Patron-Klien: Akar Korupsi yang Sulit Dicabut dari Politik Kita

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Yang lebih jahat adalah Audisme. Dr. Tom Humphries mencetuskan istilah ini pada 1975 untuk menggambarkan keyakinan bahwa orang yang bisa mendengar lebih superior daripada orang Tuli. Audisme melihat ketulian sebagai cacat mengerikan yang harus masyarakat hilangkan.

Deafhood hadir untuk menghancurkan stigma ini. Gerakan ini menampilkan SLP bukan sebagai pasien yang butuh obat, melainkan sebagai manusia dengan budaya yang positif.

Perjalanan Menemukan Jati Diri

Namun, Deafhood bukan sekadar teori akademis. Dr. Donald Grushkin menggambarkannya sebagai sebuah perjalanan “fisik, emosional, mental, spiritual, budaya, dan linguistik”.

Konsep ini mengundang setiap orang Tuli untuk menempuh perjalanan ini. Gerakan tersebut mengajak mereka bertanya: Mengapa beberapa orang terlahir Tuli? Apakah mereka cacat biologis, ataukah ada alasan positif bagi keberadaan mereka?

Seseorang mencapai Deafhood sejati ketika ia merasa nyaman dengan identitas Tuli mereka dan terhubung dengan komunitas melalui bahasa alami mereka, yaitu bahasa isyarat.

Baca Juga :  Siswa SMK di Jakarta Barat Dikeluarkan Setelah Sering Absen, Ternyata Disiksa Teman Sekelas

Ancaman “Neo-Eugenika”

Perjuangan ini makin relevan di era modern. Patrick Boudreault, dalam Konferensi Asosiasi Tuli California 2005, memperingatkan bahaya “neo-eugenika”.

Jika eugenika tradisional mencoba memusnahkan karakteristik manusia yang masyarakat anggap negatif, neo-eugenika menggunakan sains canggih. Teknologi seperti implan koklea atau rekayasa genetika kini mengancam eksistensi budaya Tuli dengan berusaha “menyembuhkan” mereka hingga tuntas.

Bagi pendukung Deafhood, satu-satunya cara melindungi komunitas adalah dengan merayakan sejarah dan bahasa mereka, serta menolak pandangan bahwa mereka “rusak”.

Jalan Menuju Dekolonisasi

Lantas, bagaimana kita melangkah maju? Jawabannya adalah dekolonisasi pikiran. Baik orang yang bisa mendengar maupun orang Tuli sendiri harus membuang pandangan bahwa ketulian adalah ketidaklengkapan.

Masyarakat harus mengakui prestasi komunitas Tuli dan memberikan pengakuan resmi terhadap bahasa isyarat di seluruh dunia. Pertanyaan kuncinya adalah: Akan seperti apa komunitas Tuli jika dunia yang mendengar tidak pernah “menjajah” mereka? Visi itulah yang harus kita wujudkan bersama.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Malam Takbiran 2026 di Depok Tanpa Takbir Keliling, Ini Imbauan Wali Kota
Bareskrim Bongkar Tambang Nikel Ilegal di Konawe Utara, 2 Bos Perusahaan Jadi Tersangka
Polri Gelar Mudik Balik Gratis Presisi 2026, Wujudkan Arus Balik Lebaran Aman dan Lancar
Macet 32 Km Menuju Pelabuhan Gilimanuk, 17 Pemudik Tumbang Kepanasan Saat Antre Kapal
Modus Toko Pulsa dan Sembako Terbongkar, Polisi Sita Ribuan Obat Daftar G
Cuaca Jabodetabek & Kota Besar Hari Ini: Hujan Ringan – Lebat, Waspada Angin Kencang
Maling Spesialis Alfamart Ngamuk di Tanjung Priok, Todong Sajam Saat Kepergok Warga
Polda Jabar Razia Truk Sumbu Tiga di Sumedang, 85 Kendaraan Melanggar Terjaring

Berita Terkait

Senin, 16 Maret 2026 - 14:26 WIB

Malam Takbiran 2026 di Depok Tanpa Takbir Keliling, Ini Imbauan Wali Kota

Senin, 16 Maret 2026 - 14:05 WIB

Bareskrim Bongkar Tambang Nikel Ilegal di Konawe Utara, 2 Bos Perusahaan Jadi Tersangka

Senin, 16 Maret 2026 - 10:44 WIB

Polri Gelar Mudik Balik Gratis Presisi 2026, Wujudkan Arus Balik Lebaran Aman dan Lancar

Senin, 16 Maret 2026 - 10:25 WIB

Macet 32 Km Menuju Pelabuhan Gilimanuk, 17 Pemudik Tumbang Kepanasan Saat Antre Kapal

Senin, 16 Maret 2026 - 09:42 WIB

Modus Toko Pulsa dan Sembako Terbongkar, Polisi Sita Ribuan Obat Daftar G

Berita Terbaru