JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Pernahkah Anda bertanya-tanya, apa sebenarnya makna menjadi Tuli? Apakah itu sekadar istilah medis untuk seseorang yang kehilangan indra pendengaran? Ataukah ada makna yang lebih dalam yang selama ini kita abaikan?
Selama berabad-abad, masyarakat umum mendefinisikan komunitas Tuli dengan istilah-istilah seperti “gangguan pendengaran” atau “cacat”. Namun, sebuah istilah baru muncul untuk menantang definisi tersebut: Deafhood.
Istilah ini bukan sekadar eufemisme politik. Deafhood adalah sebuah filosofi perlawanan.
Dr. Paddy Ladd, seorang sarjana Tuli dari Universitas Bristol, Inggris, pertama kali mencetuskan istilah ini pada tahun 1993. Dalam bukunya tahun 2003, Understanding Deaf Culture – In Search of Deafhood, Ladd menjelaskan visi ganda konsep ini.
Pertama, Deafhood berusaha mengumpulkan kekayaan budaya, politik, dan kehidupan “Masyarakat Bahasa Isyarat” (SLP). Kedua, ia bertujuan menghapus batasan-batasan yang masyarakat dengar paksakan kepada mereka melalui “kolonisasi”.
Melawan Penjajah: Oralisme dan Audisme
Untuk memahami Deafhood, kita harus mengenali musuh-musuhnya. Sejarah mencatat dua ideologi yang menindas kaum Tuli: Oralisme dan Audisme.
Oralisme muncul pada akhir abad ke-19. Filosofi ini memaksa kaum Tuli untuk berbicara secara lisan dan melarang penggunaan bahasa isyarat agar mereka bisa “berintegrasi”. Akibatnya, pendukung oralisme menganggap bahasa isyarat sebagai hambatan, mirip dengan cara penjajah menindas bahasa suku Maori di Selandia Baru atau Aborigin di Australia.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Yang lebih jahat adalah Audisme. Dr. Tom Humphries mencetuskan istilah ini pada 1975 untuk menggambarkan keyakinan bahwa orang yang bisa mendengar lebih superior daripada orang Tuli. Audisme melihat ketulian sebagai cacat mengerikan yang harus masyarakat hilangkan.
Deafhood hadir untuk menghancurkan stigma ini. Gerakan ini menampilkan SLP bukan sebagai pasien yang butuh obat, melainkan sebagai manusia dengan budaya yang positif.
Perjalanan Menemukan Jati Diri
Namun, Deafhood bukan sekadar teori akademis. Dr. Donald Grushkin menggambarkannya sebagai sebuah perjalanan “fisik, emosional, mental, spiritual, budaya, dan linguistik”.
Konsep ini mengundang setiap orang Tuli untuk menempuh perjalanan ini. Gerakan tersebut mengajak mereka bertanya: Mengapa beberapa orang terlahir Tuli? Apakah mereka cacat biologis, ataukah ada alasan positif bagi keberadaan mereka?
Seseorang mencapai Deafhood sejati ketika ia merasa nyaman dengan identitas Tuli mereka dan terhubung dengan komunitas melalui bahasa alami mereka, yaitu bahasa isyarat.
Ancaman “Neo-Eugenika”
Perjuangan ini makin relevan di era modern. Patrick Boudreault, dalam Konferensi Asosiasi Tuli California 2005, memperingatkan bahaya “neo-eugenika”.
Jika eugenika tradisional mencoba memusnahkan karakteristik manusia yang masyarakat anggap negatif, neo-eugenika menggunakan sains canggih. Teknologi seperti implan koklea atau rekayasa genetika kini mengancam eksistensi budaya Tuli dengan berusaha “menyembuhkan” mereka hingga tuntas.
Bagi pendukung Deafhood, satu-satunya cara melindungi komunitas adalah dengan merayakan sejarah dan bahasa mereka, serta menolak pandangan bahwa mereka “rusak”.
Jalan Menuju Dekolonisasi
Lantas, bagaimana kita melangkah maju? Jawabannya adalah dekolonisasi pikiran. Baik orang yang bisa mendengar maupun orang Tuli sendiri harus membuang pandangan bahwa ketulian adalah ketidaklengkapan.
Masyarakat harus mengakui prestasi komunitas Tuli dan memberikan pengakuan resmi terhadap bahasa isyarat di seluruh dunia. Pertanyaan kuncinya adalah: Akan seperti apa komunitas Tuli jika dunia yang mendengar tidak pernah “menjajah” mereka? Visi itulah yang harus kita wujudkan bersama.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















