Zelenskyy Tuding Rusia Gunakan Jeda untuk Timbun Senjata

Rabu, 4 Februari 2026 - 15:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nampak Volodymyr Zelenskyy, Presiden yang memimpin negara Ukraina. Dok: Istimewa.

Nampak Volodymyr Zelenskyy, Presiden yang memimpin negara Ukraina. Dok: Istimewa.

KYIV, POSNEWS.CO.ID – Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy melontarkan kecaman keras terhadap Rusia pada Selasa (3/2/2026). Ia menuduh Moskow sengaja mengeksploitasi moratorium serangan energi yang didukung Amerika Serikat untuk menimbun amunisi.

Tuduhan ini muncul setelah pasukan Rusia meluncurkan serangan udara skala besar yang melibatkan rekor jumlah rudal balistik dan ratusan drone. Serangan tersebut terjadi hanya sehari sebelum delegasi Ukraina dijadwalkan menghadiri pembicaraan damai di Abu Dhabi. “Tentara Rusia mengeksploitasi proposal AS untuk menghentikan serangan singkat—bukan untuk mendukung diplomasi, melainkan untuk menimbun rudal,” tulis Zelenskyy melalui platform X.

Teror di Tengah Suhu Beku

Dampak dari serangan ini sangat fatal bagi warga sipil di tengah musim dingin terdingin dalam enam tahun terakhir. Suhu yang mencapai -20 derajat Celsius membuat ribuan warga di Kyiv dan Kharkiv menderita tanpa aliran pemanas.

Baca Juga :  TNI Siaga 1, Panglima Agus Subiyanto Instruksikan Pengamanan Objek Vital Nasional

Pejabat Ukraina melaporkan bahwa serangan tersebut merusak lebih dari 1.000 gedung apartemen di Kyiv. Sementara itu, Wali Kota Kharkiv, Ihor Terekhov, menyatakan sebuah pembangkit listrik termal di kotanya mengalami kerusakan parah. “Tujuannya jelas: untuk menyebabkan kehancuran maksimal dan membiarkan kota tanpa panas dalam cuaca dingin yang parah,” tulis Terekhov di Telegram.

Perselisihan Jadwal Gencatan Senjata

Ketidaksepakatan mengenai jangka waktu moratorium semakin memperumit ketegangan ini. Pekan lalu, kedua belah pihak setuju untuk menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi masing-masing, namun mereka memiliki interpretasi berbeda mengenai batas akhirnya.

Pihak Kremlin mengklaim bahwa kesepakatan tersebut telah kedaluwarsa pada 1 Februari lalu. Sebaliknya, Kyiv menegaskan bahwa moratorium seharusnya berlangsung hingga Jumat ini. Akibatnya, ketidakpercayaan publik terhadap proses perdamaian semakin meningkat. Warga sipil seperti Natalia Hlobenko (35), yang menyaksikan ledakan menghancurkan apartemennya, mempertanyakan efektivitas gencatan senjata tersebut di tengah kehancuran yang mereka alami.

Baca Juga :  Perang Thailand-Kamboja Membara: 53 Warga Sipil Tewas

Jalur Terjal Negosiasi Abu Dhabi

Ukraina, AS, dan Rusia menjadwalkan putaran kedua pembicaraan trilateral pada Rabu dan Kamis di Abu Dhabi. Meskipun demikian, Zelenskyy menyatakan ia akan “menyesuaikan” mandat para negosiator Ukraina sebagai respons atas serangan terbaru ini.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hingga saat ini, masalah wilayah tetap menjadi hambatan utama dalam meja perundingan. Moskow menuntut Ukraina untuk menyerahkan sisa 20% wilayah Donetsk di timur, namun Kyiv menolak mentah-mentah tuntutan tersebut. Selain membahas jaminan keamanan dari AS, delegasi Ukraina juga berencana mendiskusikan paket rekonstruksi pasca-perang di sela-sela pertemuan bilateral dengan pejabat Washington.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Operasi Ketupat 2026 Hari ke-11: 251 Kecelakaan, 17 Tewas – Arus Balik Mulai Meningkat
Bom Waktu 48 Jam: Trump Ancam Ratakan Listrik Iran, Teheran Targetkan Fasilitas Air Teluk
Membedah Realisme Geopolitik dalam Perebutan Arktik 2026
Polisi Gugur Saat Operasi Ketupat 2026, Diduga Kelelahan Ekstrem
Lonjakan Arus Balik 2026, Kedatangan Penumpang KAI Tembus 51 Ribu per Hari
Melindungi Plasma Nutfah dari Biopiracy Internasional di Tahun 2026
Arus Balik Lebaran 2026: Ribuan Motor Padati Pelabuhan Bakauheni, Antrean Mengular
Mendorong Ecocide ke Dalam Statuta Roma dan Memburu Korporasi Perusak Alam

Berita Terkait

Senin, 23 Maret 2026 - 19:10 WIB

Operasi Ketupat 2026 Hari ke-11: 251 Kecelakaan, 17 Tewas – Arus Balik Mulai Meningkat

Senin, 23 Maret 2026 - 18:30 WIB

Bom Waktu 48 Jam: Trump Ancam Ratakan Listrik Iran, Teheran Targetkan Fasilitas Air Teluk

Senin, 23 Maret 2026 - 17:14 WIB

Membedah Realisme Geopolitik dalam Perebutan Arktik 2026

Senin, 23 Maret 2026 - 16:57 WIB

Polisi Gugur Saat Operasi Ketupat 2026, Diduga Kelelahan Ekstrem

Senin, 23 Maret 2026 - 16:30 WIB

Lonjakan Arus Balik 2026, Kedatangan Penumpang KAI Tembus 51 Ribu per Hari

Berita Terbaru

Ilustrasi, Perebutan garis depan terakhir. Mencairnya es di Kutub Utara membuka jalur perdagangan baru dan akses energi yang memicu persaingan militer antara Rusia, Amerika Serikat, dan Tiongkok. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Membedah Realisme Geopolitik dalam Perebutan Arktik 2026

Senin, 23 Mar 2026 - 17:14 WIB