Tragedi Laut Mediterania: 53 Migran Tewas atau Hilang di Lepas Pantai Libya

Sabtu, 14 Februari 2026 - 19:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Ribuan pengungsi sekutu AS di Qatar menolak rencana pemindahan ke zona perang Republik Demokratik Kongo dan menganggap tawaran pulang dari Taliban sebagai hukuman mati yang terselubung pada April 2026. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Ribuan pengungsi sekutu AS di Qatar menolak rencana pemindahan ke zona perang Republik Demokratik Kongo dan menganggap tawaran pulang dari Taliban sebagai hukuman mati yang terselubung pada April 2026. Dok: Istimewa.

TRIPOLI, POSNEWS.CO.ID – Kabar duka kembali menyelimuti wilayah perairan Laut Mediterania. Sebanyak 53 migran dilaporkan tewas atau hilang setelah kapal yang mereka tumpangi terbalik di lepas pantai Libya.

Hanya dua orang yang berhasil selamat dalam insiden memilukan ini. Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mengonfirmasi bahwa kedua penyintas adalah wanita asal Nigeria. Otoritas Libya segera memberikan perawatan medis darurat begitu mereka tiba di daratan setelah operasi pencarian di utara Zuwara.

Kesaksian Memilukan Penyintas

Kisah di balik penyelamatan kedua wanita tersebut sungguh menyayat hati. Salah satu penyintas mengungkapkan bahwa ia kehilangan suaminya dalam tragedi tersebut. Sementara itu, wanita lainnya menyatakan bahwa dua bayinya turut hilang tertelan ombak saat kapal terbalik.

Berdasarkan keterangan para penyintas, kapal yang mengangkut migran dari berbagai negara Afrika tersebut berangkat dari Al-Zawiya, Libya, sekitar pukul 23.00 pada tanggal 5 Februari. Sekitar enam jam perjalanan, kapal mulai kemasukan air dan akhirnya terbalik. Kondisi cuaca yang buruk serta kelebihan muatan diduga menjadi penyebab utama bencana di jalur Mediterania Tengah tersebut.

Baca Juga :  Daftar Mudik Gratis Jakarta 2026 Dibuka 22 Februari, Simak Syarat dan Kuotanya

Eksploitasi Jaringan Penyelundup Manusia

IOM mengecam keras jaringan penyelundup dan perdagangan manusia yang terus mencari keuntungan dari penderitaan para migran. Jaringan kriminal ini sengaja menggunakan kapal-kapal yang tidak layak laut untuk menyeberang dari Afrika Utara menuju Eropa Selatan.

“Jaringan ini membiarkan orang-orang terpapar pelecehan berat dan bahaya maut demi keuntungan finansial,” tegas pernyataan resmi IOM dari Jenewa. Oleh karena itu, badan PBB tersebut mendesak penguatan kerja sama internasional untuk memberantas jaringan kriminal tersebut. IOM juga meminta pembukaan jalur migrasi yang aman, legal, dan teratur guna meminimalisir risiko kehilangan nyawa di masa depan.

Reaksi Uni Eropa dan Statistik Kematian

Menanggapi kejadian ini, Komisi Eropa menyatakan komitmennya untuk mengatasi akar penyebab migrasi tidak teratur. Juru bicara Komisi Eropa di Brussel menekankan pentingnya meningkatkan upaya bersama dengan mitra seperti Libya guna mencegah perjalanan berbahaya yang mempertaruhkan nyawa ini.

Baca Juga :  Perjanjian New START Berakhir, Rusia Hadapi Ancaman Baru

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Secara statistik, Laut Mediterania tetap menjadi jalur migrasi paling berbahaya di dunia. Proyek Migran Hilang (Missing Migrants Project) mencatat bahwa antara tahun 2014 hingga akhir 2025, lebih dari 33.000 migran telah tewas atau hilang di perairan tersebut. Tahun lalu saja, tercatat 1.873 korban jiwa, di mana 1.342 di antaranya terjadi di rute Mediterania Tengah. Krisis kemanusiaan yang terus berulang ini menuntut tindakan konkret global agar laut tersebut tidak terus menjadi “kuburan massal” bagi mereka yang mencari kehidupan lebih baik di Eropa.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

6 Pelajar Jadi Tersangka Kericuhan May Day Bandung, Polisi Sita Bom Molotov
Hujan Deras Bikin 12 RT di Petogogan Jakarta Selatan Terendam Banjir
Pria di Karawang Tewas di Atas Motor, Polisi Selidiki Dugaan Benang Layangan
LPG Subsidi Disuntik ke Tabung Non Subsidi, Negara Nyaris Rugi Rp6,7 Miliar
Protes Hari Buruh Filipina 2026: Ribuan Massa Kecam Krisis Energi
Penembakan Tokoh Suku Picu Kontak Senjata Berdarah, 3 Tewas
Mojtaba Khamenei Dinyatakan Sehat Walafiat
Serangan Drone Israel Tewaskan Warga di Tengah Rencana Negosiasi Trump

Berita Terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 20:43 WIB

6 Pelajar Jadi Tersangka Kericuhan May Day Bandung, Polisi Sita Bom Molotov

Sabtu, 2 Mei 2026 - 20:31 WIB

Hujan Deras Bikin 12 RT di Petogogan Jakarta Selatan Terendam Banjir

Sabtu, 2 Mei 2026 - 18:33 WIB

Pria di Karawang Tewas di Atas Motor, Polisi Selidiki Dugaan Benang Layangan

Sabtu, 2 Mei 2026 - 18:18 WIB

LPG Subsidi Disuntik ke Tabung Non Subsidi, Negara Nyaris Rugi Rp6,7 Miliar

Sabtu, 2 Mei 2026 - 17:13 WIB

Protes Hari Buruh Filipina 2026: Ribuan Massa Kecam Krisis Energi

Berita Terbaru