Aliansi Trump-Takaichi Tetap Solid di Tengah Badai Hukum

Minggu, 22 Februari 2026 - 13:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Luka sejarah yang terbuka kembali. Presiden Donald Trump memicu kemarahan publik Jepang setelah menggunakan narasi serangan Pearl Harbor 1941 untuk membela keputusannya menyerang Iran tanpa pemberitahuan kepada sekutu. Dok: Reuters.

Luka sejarah yang terbuka kembali. Presiden Donald Trump memicu kemarahan publik Jepang setelah menggunakan narasi serangan Pearl Harbor 1941 untuk membela keputusannya menyerang Iran tanpa pemberitahuan kepada sekutu. Dok: Reuters.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Mahkamah Agung Amerika Serikat baru saja menjatuhkan vonis yang meruntuhkan landasan hukum tarif global Presiden Donald Trump. Meskipun demikian, para pejabat dan pakar meyakini bahwa kekalahan hukum ini tidak akan mengganggu rencana kunjungan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada 19 Maret mendatang.

Putusan tersebut terbit hanya tiga hari setelah Trump mengumumkan tahap pertama proyek investasi Jepang di AS senilai $36 miliar. Proyek ini mencakup pembangunan fasilitas gas alam raksasa guna memasok energi bagi pusat data kecerdasan buatan (AI). Oleh karena itu, pertemuan di Gedung Putih nanti akan tetap menjadikan ekonomi sebagai agenda utama.

Paket Investasi $550 Miliar dan Tekanan Domestik

Proyek-proyek tersebut merupakan bagian dari komitmen besar Jepang senilai $550 miliar sebagai imbalan atas penurunan tarif impor oleh pemerintah AS. Namun, karena pengadilan menyatakan penggunaan IEEPA 1977 oleh Trump inkonstitusional, Takaichi kini menghadapi tantangan baru di dalam negeri.

Masyarakat Jepang kemungkinan akan mempertanyakan besarnya investasi uang pajak mereka di Amerika Serikat saat kepastian hukum tarif masih bergoyang. Selain itu, perusahaan-perusahaan Jepang yang awalnya berminat bergabung mungkin mulai berpikir ulang. Meskipun begitu, Direktur Brookings Institution, Mireya Solis, menilai Tokyo tidak akan mengubah haluan diplomasi mereka dalam waktu dekat.

Manuver Hukum Trump: Beralih ke Pasal 122

Pasca-kekalahan di pengadilan, Donald Trump segera menandatangani perintah eksekutif baru untuk memberlakukan tarif global 10 persen. Kali ini, ia menggunakan Pasal 122 dari UU Perdagangan tahun 1974 sebagai landasan hukum.

Sebagai catatan, aturan ini mengizinkan presiden mengenakan tarif hingga 15 persen selama maksimal 150 hari guna mengatasi masalah neraca pembayaran. Langkah ini secara otomatis menurunkan tarif untuk produk Jepang yang sebelumnya berada di angka 15 persen. Stan Veuger dari American Enterprise Institute menyebut putusan pengadilan tersebut sebagai “penghinaan mendalam” bagi administrasi Trump, meski Pasal 122 tetap memberikan celah bagi pemerintah untuk memungut pajak impor.

Baca Juga :  Menguji Efektivitas PBB di Tengah Pelanggaran Hukum Global?

Fokus Strategis: Mineral Kritis, Semikonduktor, dan AI

Pejabat dari kedua negara kini mengintensifkan persiapan untuk pertemuan 19 Maret di Gedung Putih. Mereka sepakat untuk menempatkan kerja sama industri strategis di pusat diskusi puncak tersebut.

Sinergi ini bertujuan untuk memperkuat kepentingan keamanan nasional dan tujuan ekonomi bersama. Terlebih lagi, kunjungan Takaichi ini berlangsung hanya beberapa minggu sebelum Trump dijadwalkan bertolak ke Tiongkok. Persaingan sengit dengan Beijing di sektor teknologi tinggi membuat soliditas hubungan Washington-Tokyo menjadi semakin krusial bagi kedua belah pihak.

Pada akhirnya, tujuan utama Takaichi adalah untuk memperkuat hubungan personalnya dengan Trump. Kesepakatan dagang yang ada serta peluncuran tahap pertama investasi akan menjadi pijakan kuat bagi upaya tersebut. Dunia kini menanti apakah kolaborasi ekonomi raksasa ini mampu meredam ketidakpastian hukum yang sedang melanda Washington.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China
El Nino Kuat dan Mandat B50 Indonesia Dorong Penguatan Pasar
Pemerintah Minta AS Bebaskan Tarif Impor Minyak Sawit
Malaysia Siapkan Peningkatan Campuran Biodiesel B12 dan B15
Puncak 15 Pekan: Harga Minyak Sawit Malaysia Melandai
Lonjakan Harga Global Tekan Impor Minyak Nabati India
Polisi Tembak Mati Pelaku Penabrakan Minivan Pride
Pelaku Lepaskan Tembakan ke Gedung Konsulat AS

Berita Terkait

Kamis, 30 Juli 2026 - 14:09 WIB

Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China

Rabu, 29 Juli 2026 - 14:00 WIB

El Nino Kuat dan Mandat B50 Indonesia Dorong Penguatan Pasar

Rabu, 29 Juli 2026 - 11:17 WIB

Pemerintah Minta AS Bebaskan Tarif Impor Minyak Sawit

Rabu, 29 Juli 2026 - 10:13 WIB

Malaysia Siapkan Peningkatan Campuran Biodiesel B12 dan B15

Rabu, 29 Juli 2026 - 09:08 WIB

Puncak 15 Pekan: Harga Minyak Sawit Malaysia Melandai

Berita Terbaru

Langkah taktis Teheran amankan wilayah udara. Iran membeli 400 peluncur rudal panggul buatan China bernilai 70 juta dolar AS guna memperkuat pertahanan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China

Kamis, 30 Jul 2026 - 14:09 WIB

Solusi daya ringkas harian. Itel merilis powerbank Zeno berkapasitas 10.000mAh dan 20.000mAh berbekal kabel terintegrasi serta pengisian cepat. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Itel Resmi Meluncurkan Powerbank Zeno di India

Kamis, 30 Jul 2026 - 13:00 WIB