Menguji Efektivitas PBB di Tengah Pelanggaran Hukum Global

Selasa, 24 Februari 2026 - 12:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Otoritas yang dipertanyakan. Melalui kacamata Institusionalisme Liberal, keberadaan PBB merupakan kebutuhan fungsional yang kini menghadapi ujian besar dari persaingan kekuatan global. Dok: Istimewa.

Otoritas yang dipertanyakan. Melalui kacamata Institusionalisme Liberal, keberadaan PBB merupakan kebutuhan fungsional yang kini menghadapi ujian besar dari persaingan kekuatan global. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Apakah dunia saat ini masih membutuhkan PBB? Pertanyaan ini mencuat kembali pada sesi ke-61 Dewan Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa. Para diplomat kini mempertanyakan kemampuan hukum internasional dalam menghentikan berbagai konflik global.

Dalam studi Hubungan Internasional (HI), kita dapat membedah fenomena ini melalui lensa Institusionalisme Liberal. Oleh karena itu, krisis PBB saat ini sebenarnya merupakan pertarungan antara mempertahankan aturan lama atau membangun blueprint tata kelola baru yang lebih inklusif.

Pentingnya Rezim: Jembatan di Tengah Ketidakpastian

Kaum Institusionalis Liberal berargumen bahwa dunia tanpa institusi akan sangat kacau. Rezim internasional berfungsi untuk memfasilitasi kerja sama melalui prinsip, norma, dan aturan main bersama.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pada intinya, rezim menurunkan biaya transaksi dan menyediakan informasi transparan bagi negara-negara. Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi, baru-baru ini menekankan pentingnya menjaga aspirasi awal tata kelola global. Selanjutnya, ia memperkenalkan “Inisiatif Tata Kelola Global” yang telah menerima respon positif dari 150 negara. Langkah ini menunjukkan bahwa rezim internasional tetap menjadi instrumen krusial untuk menavigasi situasi dunia yang kompleks dan saling terkait.

Baca Juga :  Kakak Adik Asal Jombang Disiksa dan Dipaksa Kerja Judi Online di Kamboja

Tantangan Penegakan Hukum dan Standar Ganda

Masalah utama muncul ketika aturan internasional berbenturan dengan kepentingan kekuatan besar. Sering kali, institusi global terlihat tidak berdaya saat menghadapi pelanggaran oleh negara pemegang veto.

Terdapat beberapa penyebab utama kegagalan ini:

  • Asimetri Kekuasaan: Struktur PBB masih mencerminkan peta kekuatan pasca-Perang Dunia II yang kini mulai usang.
  • Standar Ganda: Penggunaan isu HAM sebagai alat politik sering kali merusak legitimasi rezim internasional.
  • Intervensi vs Kedaulatan: Pelanggaran terhadap prinsip non-intervensi menciptakan ketidakpercayaan sistemik antar-negara.

Akibatnya, muncul desakan global untuk menolak segala bentuk kolonialisme dan diskriminasi rasial. Meskipun demikian, kepatuhan terhadap aturan internasional tetap menjadi satu-satunya jalan untuk menghindari hukum rimba.

Visi Baru: Hak Pembangunan dan Multilateralisme

Diskusi mengenai masa depan PBB kini beralih pada pendekatan yang berorientasi pada masyarakat. Tiongkok mendorong agar “hak untuk pembangunan” mendapatkan posisi yang lebih menonjol dalam agenda multilateral.

Baca Juga :  iPhone 17e, Standar Baru Ponsel Entry-Level Apple di Tahun 2026

Secara fungsional, rezim internasional harus mampu beradaptasi dengan tantangan baru seperti kecerdasan buatan (AI) dan perubahan iklim. Wang Yi menegaskan bahwa pembangunan HAM harus berakar pada kondisi spesifik setiap negara. Sebagai contoh, rencana lima tahun ke-15 Tiongkok pada 2026 akan memfokuskan pencapaian modernisasi yang lebih merata. Namun demikian, realitas politik menunjukkan bahwa menyelaraskan berbagai visi nasional ke dalam satu aturan global yang mengikat tetap menjadi tantangan yang sangat berat.

Menyelamatkan Aturan Main Dunia

Krisis rezim internasional saat ini membuktikan bahwa institusi hanyalah sekuat keinginan anggotanya untuk patuh. PBB tidak akan pernah bisa bekerja dengan sempurna selama egoisme kekuatan besar masih mendominasi.

Pada akhirnya, dunia tetap membutuhkan kerangka kerja sama yang teratur guna mencapai kemakmuran bersama. Tantangan bagi para pemimpin dunia adalah merancang ulang institusi ini agar lebih adil dan efisien. Melalui penguatan multilateralisme dan penghormatan terhadap kedaulatan, kita dapat membangun komunitas dengan masa depan bersama yang lebih stabil bagi seluruh umat manusia.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China
El Nino Kuat dan Mandat B50 Indonesia Dorong Penguatan Pasar
Pemerintah Minta AS Bebaskan Tarif Impor Minyak Sawit
Malaysia Siapkan Peningkatan Campuran Biodiesel B12 dan B15
Puncak 15 Pekan: Harga Minyak Sawit Malaysia Melandai
Lonjakan Harga Global Tekan Impor Minyak Nabati India
Polisi Tembak Mati Pelaku Penabrakan Minivan Pride
Pelaku Lepaskan Tembakan ke Gedung Konsulat AS

Berita Terkait

Kamis, 30 Juli 2026 - 14:09 WIB

Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China

Rabu, 29 Juli 2026 - 14:00 WIB

El Nino Kuat dan Mandat B50 Indonesia Dorong Penguatan Pasar

Rabu, 29 Juli 2026 - 11:17 WIB

Pemerintah Minta AS Bebaskan Tarif Impor Minyak Sawit

Rabu, 29 Juli 2026 - 10:13 WIB

Malaysia Siapkan Peningkatan Campuran Biodiesel B12 dan B15

Rabu, 29 Juli 2026 - 09:08 WIB

Puncak 15 Pekan: Harga Minyak Sawit Malaysia Melandai

Berita Terbaru

Langkah taktis Teheran amankan wilayah udara. Iran membeli 400 peluncur rudal panggul buatan China bernilai 70 juta dolar AS guna memperkuat pertahanan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China

Kamis, 30 Jul 2026 - 14:09 WIB

Solusi daya ringkas harian. Itel merilis powerbank Zeno berkapasitas 10.000mAh dan 20.000mAh berbekal kabel terintegrasi serta pengisian cepat. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Itel Resmi Meluncurkan Powerbank Zeno di India

Kamis, 30 Jul 2026 - 13:00 WIB