Viralitas dan Validasi: Menelaah Mengapa Konten Kontroversial Lebih Cepat Menyebar

Kamis, 26 Februari 2026 - 08:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Daya pikat kemarahan. Melalui teori Uses and Gratifications, viralitas konten kontroversial bukan sekadar kebetulan, melainkan hasil dari upaya aktif audiens dalam mencari pemenuhan emosional dan pengakuan sosial. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Daya pikat kemarahan. Melalui teori Uses and Gratifications, viralitas konten kontroversial bukan sekadar kebetulan, melainkan hasil dari upaya aktif audiens dalam mencari pemenuhan emosional dan pengakuan sosial. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Mengapa video perdebatan panas atau opini yang menyinggung perasaan selalu menempati puncak trending topic? Di tahun 2026, algoritma memang memiliki peran, namun penggerak utamanya adalah kebutuhan psikologis kita sendiri.

Teori Uses and Gratifications (U&G) menegaskan bahwa masyarakat tidak lagi menjadi objek pasif dari media. Sebaliknya, kita secara sadar memilih dan menggunakan media untuk memuaskan kebutuhan tertentu. Konten kontroversial menjadi primadona karena ia menawarkan “hadiah” psikologis yang paling cepat bagi penggunanya.

Pencarian Stimulasi: Peran Emosi Intensitas Tinggi

Motif pertama yang mendorong audiens mendekati kontroversi adalah gratifikasi emosional. Penelitian psikologi media menunjukkan bahwa manusia memiliki kecenderungan mencari konten yang memicu emosi high-arousal, seperti kemarahan, kejutan, atau kegembiraan yang meluap.

Pasalnya, emosi-emosi ini memberikan sensasi stimulasi yang lebih kuat daripada konten yang bersifat informatif namun datar. Alhasil, audiens menggunakan konten kontroversial sebagai bentuk hiburan ekstrem guna melepaskan diri dari kebosanan rutinitas. Dalam konteks ini, kemarahan publik terhadap suatu isu sering kali menjadi cara individu untuk merasa “hidup” dan terlibat secara emosional dengan dunia luar.

Baca Juga :  Bagaimana 382 Kilogram Batu Bulan Mengubah Tata Surya?

Berbagi Konten sebagai Alat Integrasi Sosial

Selain hiburan, motif utama lainnya adalah kebutuhan akan integrasi dan interaksi sosial. Di era media sosial, apa yang kita bagikan (share) merupakan cerminan dari identitas yang ingin kita tampilkan.

Membagikan konten kontroversial sering kali berfungsi untuk:

  • Penegasan Identitas: Menunjukkan posisi moral atau politik seseorang di hadapan pengikutnya.
  • Tribalisme Digital: Memperkuat ikatan dengan kelompok yang berpikiran sama dan menjauhkan diri dari kelompok lawan.
  • Pencarian Validasi: Mendapatkan kepuasan melalui jumlah like dan komentar yang muncul akibat unggahan yang memicu perdebatan.

Dengan membagikan isu yang hangat, seseorang merasa telah berkontribusi dalam diskusi publik yang penting. Oleh karena itu, viralitas bukan hanya tentang isi pesan, melainkan tentang seberapa efektif pesan tersebut membantu seseorang “terlihat” di lingkup sosialnya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Transformasi Audiens: Dari Penerima Menjadi Penyebar

Salah satu poin paling krusial dalam perkembangan teori komunikasi saat ini adalah hilangnya batas antara produsen dan konsumen pesan. Audiens kini memegang kendali penuh atas hidup atau matinya sebuah informasi.

Saat ini, setiap individu bertindak sebagai editor dan distributor. Sebuah pesan hanya akan menjadi viral jika audiens menganggap pesan tersebut memberikan “gratifikasi” yang cukup untuk mereka bagikan kembali. Bahkan, konten yang salah atau menyesatkan (hoaks) sering kali menyebar cepat karena ia mampu memenuhi kebutuhan emosional audiens dengan lebih efektif daripada fakta yang membosankan. Dengan demikian, tanggung jawab atas kualitas informasi di ruang publik kini berpindah dari institusi media besar ke ujung jari setiap pengguna ponsel.

Baca Juga :  Tantangan Ekonomi Perempuan dalam Ekonomi Gig

Menuju Konsumsi Media yang Bijak

Viralitas konten kontroversial adalah cermin dari kebutuhan manusia akan pengakuan dan keterlibatan emosional. Namun demikian, ketergantungan pada stimulasi negatif berisiko menciptakan lingkungan digital yang penuh dengan permusuhan dan kelelahan mental.

Pada akhirnya, kita perlu menyadari motif pribadi saat berinteraksi dengan sebuah konten. Apakah kita membagikan sesuatu karena isinya benar, atau hanya karena kita ingin mendapatkan validasi instan? Melalui pemahaman terhadap teori Uses and Gratifications, kita dapat mulai mengontrol penggunaan media secara lebih sehat, sehingga viralitas tidak lagi petugas gunakan untuk memecah belah, melainkan untuk membangun diskusi yang konstruktif.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pemerintah AS Siap Kembalikan Dana Tarif $166 Miliar Pasca-Putusan Mahkamah Agung
Peter Magyar Tuntut Presiden Sulyok Mundur guna Reset Total
Operasi Ikan Sapu-Sapu DKI Jakarta Digelar Serentak Jumat Pagi, Ini 5 Lokasinya
PBB Kucurkan Dana Darurat Saat Korban Perang Iran Tembus 2.360 Jiwa
Menteri Keuangan G7 Cari Solusi atas Dampak Perang Iran
Hery Susanto Resmi Ditahan Kejagung, Terseret Kasus Korupsi Nikel Rp1,5 Miliar
Bagaimana Perang Iran Memperkokoh Hegemoni Energi Hijau Tiongkok
Bareskrim Bongkar Jaringan Narkoba via Ojol, Lab Vape Etomidate di Jaktim Digerebek

Berita Terkait

Kamis, 16 April 2026 - 18:20 WIB

Pemerintah AS Siap Kembalikan Dana Tarif $166 Miliar Pasca-Putusan Mahkamah Agung

Kamis, 16 April 2026 - 17:13 WIB

Peter Magyar Tuntut Presiden Sulyok Mundur guna Reset Total

Kamis, 16 April 2026 - 16:31 WIB

Operasi Ikan Sapu-Sapu DKI Jakarta Digelar Serentak Jumat Pagi, Ini 5 Lokasinya

Kamis, 16 April 2026 - 16:04 WIB

PBB Kucurkan Dana Darurat Saat Korban Perang Iran Tembus 2.360 Jiwa

Kamis, 16 April 2026 - 15:21 WIB

Menteri Keuangan G7 Cari Solusi atas Dampak Perang Iran

Berita Terbaru

Runtuhnya era Orban. Partai oposisi Tisza pimpinan Peter Magyar meraih kemenangan telak dalam pemilu Hungaria 2026, mengakhiri kekuasaan panjang Viktor Orban dan menjanjikan kembalinya aliansi kuat dengan Uni Eropa serta NATO. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Peter Magyar Tuntut Presiden Sulyok Mundur guna Reset Total

Kamis, 16 Apr 2026 - 17:13 WIB

Mencari kesatuan ekonomi. Para pemimpin keuangan G7 berkumpul di Washington guna menghadapi lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasok global akibat blokade Selat Hormuz yang masih berlanjut di tahun 2026. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Menteri Keuangan G7 Cari Solusi atas Dampak Perang Iran

Kamis, 16 Apr 2026 - 15:21 WIB