JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Mengapa video perdebatan panas atau opini yang menyinggung perasaan selalu menempati puncak trending topic? Di tahun 2026, algoritma memang memiliki peran, namun penggerak utamanya adalah kebutuhan psikologis kita sendiri.
Teori Uses and Gratifications (U&G) menegaskan bahwa masyarakat tidak lagi menjadi objek pasif dari media. Sebaliknya, kita secara sadar memilih dan menggunakan media untuk memuaskan kebutuhan tertentu. Konten kontroversial menjadi primadona karena ia menawarkan “hadiah” psikologis yang paling cepat bagi penggunanya.
Pencarian Stimulasi: Peran Emosi Intensitas Tinggi
Motif pertama yang mendorong audiens mendekati kontroversi adalah gratifikasi emosional. Penelitian psikologi media menunjukkan bahwa manusia memiliki kecenderungan mencari konten yang memicu emosi high-arousal, seperti kemarahan, kejutan, atau kegembiraan yang meluap.
Pasalnya, emosi-emosi ini memberikan sensasi stimulasi yang lebih kuat daripada konten yang bersifat informatif namun datar. Alhasil, audiens menggunakan konten kontroversial sebagai bentuk hiburan ekstrem guna melepaskan diri dari kebosanan rutinitas. Dalam konteks ini, kemarahan publik terhadap suatu isu sering kali menjadi cara individu untuk merasa “hidup” dan terlibat secara emosional dengan dunia luar.
Berbagi Konten sebagai Alat Integrasi Sosial
Selain hiburan, motif utama lainnya adalah kebutuhan akan integrasi dan interaksi sosial. Di era media sosial, apa yang kita bagikan (share) merupakan cerminan dari identitas yang ingin kita tampilkan.
Membagikan konten kontroversial sering kali berfungsi untuk:
- Penegasan Identitas: Menunjukkan posisi moral atau politik seseorang di hadapan pengikutnya.
- Tribalisme Digital: Memperkuat ikatan dengan kelompok yang berpikiran sama dan menjauhkan diri dari kelompok lawan.
- Pencarian Validasi: Mendapatkan kepuasan melalui jumlah like dan komentar yang muncul akibat unggahan yang memicu perdebatan.
Dengan membagikan isu yang hangat, seseorang merasa telah berkontribusi dalam diskusi publik yang penting. Oleh karena itu, viralitas bukan hanya tentang isi pesan, melainkan tentang seberapa efektif pesan tersebut membantu seseorang “terlihat” di lingkup sosialnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Transformasi Audiens: Dari Penerima Menjadi Penyebar
Salah satu poin paling krusial dalam perkembangan teori komunikasi saat ini adalah hilangnya batas antara produsen dan konsumen pesan. Audiens kini memegang kendali penuh atas hidup atau matinya sebuah informasi.
Saat ini, setiap individu bertindak sebagai editor dan distributor. Sebuah pesan hanya akan menjadi viral jika audiens menganggap pesan tersebut memberikan “gratifikasi” yang cukup untuk mereka bagikan kembali. Bahkan, konten yang salah atau menyesatkan (hoaks) sering kali menyebar cepat karena ia mampu memenuhi kebutuhan emosional audiens dengan lebih efektif daripada fakta yang membosankan. Dengan demikian, tanggung jawab atas kualitas informasi di ruang publik kini berpindah dari institusi media besar ke ujung jari setiap pengguna ponsel.
Menuju Konsumsi Media yang Bijak
Viralitas konten kontroversial adalah cermin dari kebutuhan manusia akan pengakuan dan keterlibatan emosional. Namun demikian, ketergantungan pada stimulasi negatif berisiko menciptakan lingkungan digital yang penuh dengan permusuhan dan kelelahan mental.
Pada akhirnya, kita perlu menyadari motif pribadi saat berinteraksi dengan sebuah konten. Apakah kita membagikan sesuatu karena isinya benar, atau hanya karena kita ingin mendapatkan validasi instan? Melalui pemahaman terhadap teori Uses and Gratifications, kita dapat mulai mengontrol penggunaan media secara lebih sehat, sehingga viralitas tidak lagi petugas gunakan untuk memecah belah, melainkan untuk membangun diskusi yang konstruktif.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















