The Power of Silence: Mengapa Opini Minoritas Sering Kali Tenggelam di Ruang Publik?

Kamis, 26 Februari 2026 - 09:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, suara kaum LGBTQIA+ menjadi contoh nyata bahwa pendapat dari kaum yang terpinggirkan seringkali diabaikan. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, suara kaum LGBTQIA+ menjadi contoh nyata bahwa pendapat dari kaum yang terpinggirkan seringkali diabaikan. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Pernahkah Anda merasa enggan menyuarakan pendapat dalam sebuah diskusi karena semua orang di ruangan tersebut memiliki pandangan yang berlawanan? Tindakan memilih diam ini sebenarnya bukan sekadar masalah keberanian.

Dalam ilmu komunikasi, fenomena ini merupakan inti dari teori Spiral of Silence atau Spiral Keheningan. Oleh karena itu, artikel ini akan membedah mengapa masyarakat modern sering kali mengubur opini mereka demi keamanan sosial, serta bagaimana teknologi mengubah cara kita berbicara.

Ketakutan akan Isolasi: Mesin Penggerak Keheningan

Manusia adalah makhluk sosial yang secara biologis memiliki ketakutan terhadap pengucilan. Elisabeth Noelle-Neumann berargumen bahwa individu memiliki “indra statistik” yang terus bekerja untuk memantau lingkungan sekitar.

Pasalnya, saat seseorang menyadari bahwa pendapatnya masuk dalam kategori minoritas, ia akan merasakan ancaman isolasi sosial. Akibatnya, mereka akan menyembunyikan pandangan asli mereka agar tetap diterima oleh kelompok. Semakin diam kaum minoritas, maka opini mayoritas akan terlihat semakin kuat secara semu. Dengan demikian, proses ini menciptakan lingkaran setan atau “spiral” yang membuat kebenaran alternatif semakin tenggelam setiap harinya.

Media Massa sebagai Pembentuk Persepsi Dominan

Media massa memegang peranan krusial sebagai arsitek utama dalam membangun persepsi publik. Melalui penonjolan isu tertentu, media memberikan sinyal kepada khalayak mengenai opini mana yang saat ini petugas nilai sebagai pandangan “populer” atau “benar”.

Baca Juga :  Ritual Membaca Sebelum Tidur: Lebih dari Sekadar Hobi, Ini Adalah Latihan untuk Imajinasi dan Empati

Selanjutnya, media sering kali memberikan panggung yang jauh lebih luas bagi narasi yang selaras dengan kepentingan arus utama. Alhasil, individu yang memiliki informasi berbeda akan merasa bahwa mereka berdiri sendirian tanpa dukungan. Oleh sebab itu, media massa tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga secara tidak langsung mendikte batas-batas mengenai apa yang pantas warga bicarakan di ruang terbuka.

Dilema Media Sosial: Memecah atau Memperparah?

Memasuki tahun 2026, peran media sosial dalam memengaruhi spiral keheningan menjadi semakin kompleks. Di satu sisi, algoritma media sosial sering kali menciptakan “ruang gema” (echo chambers) yang justru memperparah polarisasi.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Beberapa dampak nyata di era digital antara lain:

  • Cancel Culture: Ancaman perundungan massal secara daring membuat individu semakin takut untuk menyuarakan perbedaan.
  • Kecepatan Informasi: Opini dominan menyebar dengan kecepatan tinggi, sehingga menutup ruang bagi klarifikasi dari pihak minoritas.
Baca Juga :  Seni Digital Detox: Saat Anak Muda Memilih Hening dari Bisingnya Dunia Maya

Namun demikian, media sosial juga memiliki kekuatan untuk menghancurkan keheningan tersebut. Meskipun seseorang merasa terisolasi di lingkungan fisik mereka, internet memungkinkan individu tersebut untuk menemukan komunitas dengan pemikiran serupa di belahan dunia lain. Penemuan “sekutu digital” ini memberikan kepercayaan diri bagi seseorang untuk mulai bersuara kembali. Terlebih lagi, gerakan-gerakan sosial besar sering kali bermula dari keberanian segelintir orang yang menolak untuk diam di dunia maya.

Mengembalikan Keberagaman Berpikir

Memahami spiral keheningan adalah langkah awal untuk menciptakan ruang publik yang lebih inklusif. Pada akhirnya, kualitas sebuah demokrasi bukan hanya petugas ukur dari suara terbanyak, melainkan dari seberapa aman kaum minoritas dalam mengekspresikan pikirannya.

Oleh karena itu, masyarakat perlu menumbuhkan budaya empati dan keterbukaan terhadap perbedaan. Kita harus menyadari bahwa keheningan di ruang publik sering kali merupakan tanda adanya ketakutan, bukan tanda kesepakatan mutlak. Hanya dengan menghargai setiap suara, kita dapat memastikan bahwa diskusi publik tetap kaya akan perspektif dan objektif demi kemajuan bangsa.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Komunikasi Non-Verbal di Era Zoom: Mengapa Rapat Online Terasa Lebih Melelahkan?
Ibu Tiri ASN Kemenag di Sukabumi Ditahan, Kasus Penganiayaan Anak Berujung Maut
Ribut Soal Suara Drum Berujung Pidana, Dua Warga Cengkareng Dijerat Pasal Berlapis
Viralitas dan Validasi: Menelaah Mengapa Konten Kontroversial Lebih Cepat Menyebar
Calya Ugal-ugalan dan Lawan Arah di Gunung Sahari Diamuk Massa, Polisi Amankan 2 Orang
Seni Manajemen Panggung di Instagram: Mengapa Kita Selalu Ingin Terlihat Sempurna?
Terjebak dalam Filter Bubble: Mengapa Algoritma Media Sosial Membuat Kita Terpolarisasi?
Guru Biologi di Belu Diduga Banting Siswi hingga Pingsan Saat Ujian, Polisi Turun

Berita Terkait

Kamis, 26 Februari 2026 - 10:26 WIB

Komunikasi Non-Verbal di Era Zoom: Mengapa Rapat Online Terasa Lebih Melelahkan?

Kamis, 26 Februari 2026 - 09:57 WIB

Ibu Tiri ASN Kemenag di Sukabumi Ditahan, Kasus Penganiayaan Anak Berujung Maut

Kamis, 26 Februari 2026 - 09:34 WIB

Ribut Soal Suara Drum Berujung Pidana, Dua Warga Cengkareng Dijerat Pasal Berlapis

Kamis, 26 Februari 2026 - 09:20 WIB

The Power of Silence: Mengapa Opini Minoritas Sering Kali Tenggelam di Ruang Publik?

Kamis, 26 Februari 2026 - 08:14 WIB

Viralitas dan Validasi: Menelaah Mengapa Konten Kontroversial Lebih Cepat Menyebar

Berita Terbaru