JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Pernahkah Anda merasa enggan menyuarakan pendapat dalam sebuah diskusi karena semua orang di ruangan tersebut memiliki pandangan yang berlawanan? Tindakan memilih diam ini sebenarnya bukan sekadar masalah keberanian.
Dalam ilmu komunikasi, fenomena ini merupakan inti dari teori Spiral of Silence atau Spiral Keheningan. Oleh karena itu, artikel ini akan membedah mengapa masyarakat modern sering kali mengubur opini mereka demi keamanan sosial, serta bagaimana teknologi mengubah cara kita berbicara.
Ketakutan akan Isolasi: Mesin Penggerak Keheningan
Manusia adalah makhluk sosial yang secara biologis memiliki ketakutan terhadap pengucilan. Elisabeth Noelle-Neumann berargumen bahwa individu memiliki “indra statistik” yang terus bekerja untuk memantau lingkungan sekitar.
Pasalnya, saat seseorang menyadari bahwa pendapatnya masuk dalam kategori minoritas, ia akan merasakan ancaman isolasi sosial. Akibatnya, mereka akan menyembunyikan pandangan asli mereka agar tetap diterima oleh kelompok. Semakin diam kaum minoritas, maka opini mayoritas akan terlihat semakin kuat secara semu. Dengan demikian, proses ini menciptakan lingkaran setan atau “spiral” yang membuat kebenaran alternatif semakin tenggelam setiap harinya.
Media Massa sebagai Pembentuk Persepsi Dominan
Media massa memegang peranan krusial sebagai arsitek utama dalam membangun persepsi publik. Melalui penonjolan isu tertentu, media memberikan sinyal kepada khalayak mengenai opini mana yang saat ini petugas nilai sebagai pandangan “populer” atau “benar”.
Selanjutnya, media sering kali memberikan panggung yang jauh lebih luas bagi narasi yang selaras dengan kepentingan arus utama. Alhasil, individu yang memiliki informasi berbeda akan merasa bahwa mereka berdiri sendirian tanpa dukungan. Oleh sebab itu, media massa tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga secara tidak langsung mendikte batas-batas mengenai apa yang pantas warga bicarakan di ruang terbuka.
Dilema Media Sosial: Memecah atau Memperparah?
Memasuki tahun 2026, peran media sosial dalam memengaruhi spiral keheningan menjadi semakin kompleks. Di satu sisi, algoritma media sosial sering kali menciptakan “ruang gema” (echo chambers) yang justru memperparah polarisasi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Beberapa dampak nyata di era digital antara lain:
- Cancel Culture: Ancaman perundungan massal secara daring membuat individu semakin takut untuk menyuarakan perbedaan.
- Kecepatan Informasi: Opini dominan menyebar dengan kecepatan tinggi, sehingga menutup ruang bagi klarifikasi dari pihak minoritas.
Namun demikian, media sosial juga memiliki kekuatan untuk menghancurkan keheningan tersebut. Meskipun seseorang merasa terisolasi di lingkungan fisik mereka, internet memungkinkan individu tersebut untuk menemukan komunitas dengan pemikiran serupa di belahan dunia lain. Penemuan “sekutu digital” ini memberikan kepercayaan diri bagi seseorang untuk mulai bersuara kembali. Terlebih lagi, gerakan-gerakan sosial besar sering kali bermula dari keberanian segelintir orang yang menolak untuk diam di dunia maya.
Mengembalikan Keberagaman Berpikir
Memahami spiral keheningan adalah langkah awal untuk menciptakan ruang publik yang lebih inklusif. Pada akhirnya, kualitas sebuah demokrasi bukan hanya petugas ukur dari suara terbanyak, melainkan dari seberapa aman kaum minoritas dalam mengekspresikan pikirannya.
Oleh karena itu, masyarakat perlu menumbuhkan budaya empati dan keterbukaan terhadap perbedaan. Kita harus menyadari bahwa keheningan di ruang publik sering kali merupakan tanda adanya ketakutan, bukan tanda kesepakatan mutlak. Hanya dengan menghargai setiap suara, kita dapat memastikan bahwa diskusi publik tetap kaya akan perspektif dan objektif demi kemajuan bangsa.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















