Tuntutan Radikal Donald Trump: Iran Wajib Menyerah Tanpa Syarat di Tengah Gempuran Masif ke Beirut

Sabtu, 7 Maret 2026 - 15:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Terobosan besar diplomasi global. Amerika Serikat dan Iran mendekati kesepakatan damai akhir untuk mengakhiri perang tiga bulan dan memulihkan pasokan energi dunia. Dok: Istimewa.

Terobosan besar diplomasi global. Amerika Serikat dan Iran mendekati kesepakatan damai akhir untuk mengakhiri perang tiga bulan dan memulihkan pasokan energi dunia. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump meluncurkan ancaman paling keras sejak perang pecah satu minggu lalu. Trump secara tegas menuntut agar Iran melakukan “penyerahan tanpa syarat” guna menghentikan agresi militer.

Trump menyampaikan pengumuman tersebut melalui media sosial miliknya pada Jumat pagi. “Tidak akan ada kesepakatan dengan Iran kecuali menyerah tanpa syarat!” tulis Trump. Ia berjanji akan membangun kembali ekonomi Iran setelah rezim lama tumbang dan pemimpin baru terpilih. Namun demikian, tuntutan ini justru mempersulit upaya mediasi yang baru saja Presiden Iran Masoud Pezeshkian umumkan.

Guncangan Pasar Saham dan Ekonomi Global

Tuntutan menyerah tanpa syarat ini langsung memicu kepanikan di pusat keuangan dunia. Para investor khawatir bahwa perang akan berlangsung jauh lebih lama dan menghancurkan pasokan energi global secara permanen.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Alhasil, pasar saham di Eropa mengalami penurunan tajam sesaat setelah unggahan Trump muncul. Indeks Wall Street juga langsung dibuka merosot pada perdagangan Jumat pagi. Pasalnya, ketidakpastian jalur pengiriman minyak melalui Selat Hormuz kini menjadi ancaman nyata bagi inflasi dunia. Gedung Putih merespon situasi ini dengan memanggil pimpinan kontraktor pertahanan besar guna mempercepat produksi amunisi dan rudal Tomahawk.

Baca Juga :  KPK SP3 Kasus Tambang Konawe Utara, Dugaan Kerugian Negara Rp2,7 Triliun Dihentikan

Beirut Membara: Evakuasi Massal dan Serangan Udara

Di lapangan, militer Israel melakukan ekspansi perang secara brutal di Lebanon. Pasukan udara Israel membombardir pusat kota Beirut setelah mengeluarkan perintah evakuasi mendadak bagi seluruh penduduk pinggiran selatan.

Selanjutnya, Israel mengklaim serangan tersebut berhasil menghantam pusat komando unit angkatan laut Garda Revolusi Iran di Lebanon. Serangan ini juga menargetkan fasilitas militer milik kelompok Hezbollah. Akibatnya, sekitar 300.000 warga Lebanon kini terlantar di jalanan dan pantai karena kehilangan tempat tinggal. “Kami tidur di jalanan tanpa selimut sama sekali,” ujar Jamal Seifeddin (43), salah satu pengungsi di pusat kota Beirut.

Intervensi Rusia dan Penyelidikan Sekolah di Iran

Situasi semakin rumit setelah muncul laporan mengenai keterlibatan intelijen Rusia. Moskow kabarnya memberikan data lokasi kapal perang dan pesawat tempur AS di Timur Tengah kepada pihak Iran. Langkah ini Rusia ambil guna membantu Teheran yang kapasitas radar pengawasannya telah hancur oleh sistem jamming Amerika.

Baca Juga :  5 Tools Kecerdasan Buatan yang Wajib Anda Gunakan di 2026

Di sisi lain, militer AS kini sedang menghadapi penyelidikan internal yang sangat sensitif. Dua pejabat AS mengakui adanya kemungkinan bahwa serangan udara Amerika tidak sengaja menghantam sebuah sekolah dasar perempuan di Iran pada hari pertama perang. Meskipun begitu, tim penyelidik belum memberikan kesimpulan final mengenai tragedi yang menewaskan puluhan anak-anak tersebut.

Suksesi Kepemimpinan Iran di Bawah Kendali AS

Trump tetap bersikeras menuntut hak Washington dalam memilih pemimpin tertinggi Iran yang baru. Gedung Putih mengonfirmasi bahwa badan intelijen AS sedang menyeleksi beberapa nama kandidat untuk menggantikan mendiang Ayatollah Ali Khamenei.

Pada akhirnya, strategi “tekanan total” Trump ini mengabaikan kedaulatan negara berpenduduk 90 juta jiwa tersebut. Iran secara konsisten melabeli kampanye militer ini sebagai aksi pembunuhan berencana dan agresi ilegal. Dengan jumlah korban tewas di Iran yang kini menembus 1.230 jiwa, dunia kini menanti apakah PBB mampu mengintervensi sebelum konfrontasi ini meledak menjadi perang dunia ketiga di tahun 2026.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Presiden Xi Jinping Dorong Blok BRICS Jadi Juru Damai Konflik
Hakim Federal Batalkan Rencana Pemangkasan Staf FEMA 50%
Peluncuran Konsol Retro NEOGEO AES+ Ditunda
Iran Ancam Balas Setiap Serangan Baru AS terhadap Asetnya
Ekstremisme Nihilistik Online Ancam Keamanan Eropa
Shinjuku Larang Separuh Sewa Liburan, Termasuk Properti
Tim Nepal Kian Bersemangat Cari Korban Banjir
PM Yunani Janjikan Pemangkasan Pajak dan Kenaikan Gaji

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 20:57 WIB

Presiden Xi Jinping Dorong Blok BRICS Jadi Juru Damai Konflik

Minggu, 13 September 2026 - 19:56 WIB

Hakim Federal Batalkan Rencana Pemangkasan Staf FEMA 50%

Minggu, 13 September 2026 - 13:30 WIB

Peluncuran Konsol Retro NEOGEO AES+ Ditunda

Rabu, 9 September 2026 - 08:03 WIB

Iran Ancam Balas Setiap Serangan Baru AS terhadap Asetnya

Rabu, 9 September 2026 - 07:00 WIB

Ekstremisme Nihilistik Online Ancam Keamanan Eropa

Berita Terbaru