WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan proyeksi yang mengejutkan mengenai durasi konflik di Timur Tengah. Trump meyakini bahwa kampanye militer terhadap Iran akan tuntas lebih cepat dari jadwal empat hingga lima minggu yang ia tetapkan sebelumnya.
“Saya rasa perang ini sudah sangat lengkap, hampir selesai,” ujar Trump dalam wawancara dengan CBS News. Ia mendeskripsikan operasi tersebut kepada para legislator Republik sebagai sebuah “ekskursi jangka pendek” yang bertujuan untuk mengalahkan Iran secara telak dan menentukan.
Suksesi di Teheran: Mojtaba Khamenei Naik Takhta
Meskipun Trump menyatakan kemenangan sudah dekat, situasi di Teheran menunjukkan tanda-tanda perlawanan jangka panjang. Media pemerintah Iran menampilkan kerumunan besar di berbagai kota yang memberikan sumpah setia kepada Pemimpin Tertinggi baru, Mojtaba Khamenei.
Mojtaba (56) merupakan ulama Syiah yang memiliki basis massa kuat di kalangan pasukan keamanan dan imperium bisnis Garda Revolusi. Meskipun demikian, Trump secara tegas menyatakan bahwa kepemimpinan Mojtaba “tidak dapat diterima” oleh Washington. Di Isfahan, loyalis berkumpul di Alun-alun Imam yang bersejarah sembari meneriakkan slogan perlawanan, tepat saat suara ledakan dari serangan udara terdengar di kejauhan.
Guncangan Pasar Energi dan Opsi Sanksi Rusia
Konfrontasi bersenjata ini telah menutup total Selat Hormuz selama lebih dari satu pekan. Akibatnya, distribusi seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia terhenti sepenuhnya. Harga minyak mentah Brent sempat melonjak hingga 29 persen dalam satu sesi sebelum akhirnya menetap pada kenaikan 7 persen, level tertinggi sejak tahun 2022.
Kenaikan harga bensin menjadi ancaman politik serius bagi Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu November mendatang. Oleh karena itu, administrasi Trump kini sedang menjajaki opsi yang kontroversial: melonggarkan sanksi pada minyak Rusia. Langkah ini bertujuan untuk membanjiri pasar dengan pasokan tambahan guna menekan harga energi, meskipun berisiko memperumit upaya Barat dalam menghukum Moskow atas perang di Ukraina.
Eskalasi Regional dan Intersepsi NATO di Turki
Perang kini meluas ke berbagai front regional. Militer Israel meluncurkan gelombang serangan baru ke pusat kota Iran dan Beirut, Lebanon. Di saat yang sama, sistem pertahanan udara NATO di Turki berhasil menembak jatuh rudal balistik yang diluncurkan dari wilayah Iran. Ini merupakan insiden kedua di mana rudal Iran memasuki wilayah udara anggota NATO.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain itu, krisis kemanusiaan semakin memburuk. Serangan udara terhadap kilang minyak di Teheran memicu polusi asap hitam pekat yang menyelimuti kota. Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Ghebreyesus, memperingatkan risiko kontaminasi pangan dan air yang parah bagi warga sipil.
Hingga saat ini, utusan Iran untuk PBB melaporkan sedikitnya 1.332 warga sipil Iran tewas. Di sisi lain, Lebanon mencatat 400 kematian dengan hampir 700.000 orang terpaksa mengungsi. Konfrontasi fisik ini juga merenggut nyawa warga sipil di Israel, meningkatkan jumlah korban tewas akibat serangan Iran menjadi 11 orang. Dunia kini menanti apakah prediksi “perang singkat” Trump akan terwujud atau justru terjebak dalam pusaran konflik regional yang kian dalam.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















