BEIRUT, POSNEWS.CO.ID – Jet tempur Israel menghantam dua bangunan di pusat kota Beirut pada hari Kamis. Serangan ini menyasar kawasan yang sangat dekat dengan markas besar pemerintah Lebanon, Grand Serail. Aksi militer tersebut menyeret Lebanon jauh lebih dalam ke pusaran perang Timur Tengah.
Menteri Pertahanan Israel memerintahkan militer untuk memperluas kampanye serangan. Kepala militer Israel juga menegaskan bahwa operasi di Lebanon tidak akan berakhir dalam waktu singkat. Serangan ini muncul sehari setelah Hezbollah meluncurkan serangan roket masif ke wilayah utara Israel.
Tragedi Kemanusiaan di Jantung Kota
Militer Israel memperluas jangkauan serangan ke pusat kota Beirut melalui serangan udara di lingkungan Bachoura. Ledakan terjadi hanya berjarak satu kilometer dari kantor perdana menteri. Sebelum serangan, militer Israel mengeluarkan peringatan agar warga menjauhi fasilitas Hezbollah yang menjadi target mereka.
Serangan menjelang fajar di area lain di Beirut menewaskan 12 orang. Rudal menghantam trotoar tepi laut yang menjadi tempat pengungsian puluhan keluarga. Para pengungsi tidur di tenda-tenda darurat sebelum ledakan menghancurkan tempat peristirahatan mereka. “Di sini ada anak-anak dan orang tua. Apa alasan Israel menyerang kami?” ujar Abu Ali, salah satu pengungsi yang selamat.
Operasi Militer Jangka Panjang
Kepala militer Israel, Eyal Zamir, menyatakan bahwa operasi ini akan berlangsung lama. Militer akan mendatangkan pasukan dan kemampuan tambahan ke perbatasan utara. Saat ini, perintah evakuasi dari Israel telah mencakup sekitar sepersepuluh wilayah Lebanon.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menjanjikan keamanan bagi komunitas di utara Israel. Ia memperingatkan Presiden Lebanon, Joseph Aoun, agar pemerintah segera menghentikan serangan Hezbollah. Jika tidak, Israel mengancam akan mengambil alih wilayah tersebut untuk menghentikan ancaman secara mandiri.
Ketegangan Diplomatik Beirut dan Teheran
Konflik ini juga memicu gejolak politik di internal Lebanon. Kabinet Lebanon pekan lalu secara resmi melarang segala aktivitas militer oleh Hezbollah. Menteri Luar Negeri Lebanon, Youssef Raggi, memanggil kuasa usaha Iran setelah serangan gabungan Iran-Hezbollah terjadi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Lebanon mengecam tindakan tersebut karena melanggar dekrit pemerintah yang ingin menegakkan monopoli negara atas persenjataan. Di sisi lain, koordinator residen PBB di Lebanon, Imran Riza, memperingatkan bahwa biaya kemanusiaan sudah terlalu tinggi. Ia mendesak komunitas internasional untuk menekan semua pihak agar menghormati hukum humaniter internasional di tengah gelombang pengungsian yang terus membengkak.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia



















