Keamanan Kolektif: Saat Serangan terhadap Satu Negara Adalah Serangan terhadap Semua

Jumat, 13 Maret 2026 - 20:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Redakan kecemasan sekutu. Presiden Donald Trump terkonfirmasi akan menghadiri KTT NATO di Turki pada bulan Juli, meskipun ketegangan terkait perang Iran masih membayangi aliansi. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Redakan kecemasan sekutu. Presiden Donald Trump terkonfirmasi akan menghadiri KTT NATO di Turki pada bulan Juli, meskipun ketegangan terkait perang Iran masih membayangi aliansi. Dok: Istimewa.

NEW YORK, POSNEWS.CO.ID – Dunia di tahun 2026 kembali mempertanyakan efektivitas komitmen pertahanan bersama. Konsep keamanan kolektif menuntut solidaritas internasional tanpa syarat bagi setiap anggotanya. Saat satu negara menjadi korban agresi, seluruh dunia harus bertindak sebagai satu kesatuan yang utuh.

Keamanan kolektif bukan sekadar aliansi militer biasa seperti NATO. Ia adalah janji global untuk menjaga perdamaian melalui institusi formal seperti PBB. Tujuan utamanya adalah menciptakan kondisi di mana agresi tidak lagi menjadi alat politik yang menguntungkan bagi negara mana pun.

Pergeseran dari Keseimbangan Kekuatan ke Pertahanan Bersama

Realisme tradisional sangat menekankan pada konsep Balance of Power atau keseimbangan kekuatan. Dalam sistem tersebut, negara-negara saling mengimbangi kekuatan militer lawan untuk mencegah dominasi tunggal. Namun, pendekatan ini sering kali menciptakan lingkaran setan perlombaan senjata yang berakhir pada perang terbuka.

Keamanan kolektif menawarkan jalan keluar dari jebakan tersebut. Sistem ini mengalihkan fokus dari persaingan individu ke komitmen kelompok yang transparan. Alih-alih negara saling mengimbangi secara rahasia, mereka berjanji untuk menjaga perdamaian secara kolektif. Keamanan kolektif mengubah anarki internasional menjadi sebuah komunitas yang memiliki aturan main yang jelas dan tegas.

Prinsip “Semua untuk Satu” sebagai Penjaga Perdamaian

Inti dari keamanan kolektif adalah prinsip “semua untuk satu, satu untuk semua”. Setiap negara anggota setuju untuk melihat setiap agresi sebagai masalah bersama. Jika satu anggota menyerang anggota lain, maka agresor tersebut akan berhadapan dengan kekuatan gabungan seluruh komunitas internasional.

Hal ini bertujuan menciptakan efek jera yang luar biasa bagi calon penyerang. Potensi sanksi ekonomi hingga intervensi militer gabungan seharusnya membuat biaya agresi menjadi sangat mahal. Di tahun 2026, prinsip ini menjadi dasar hukum bagi setiap tindakan pemulihan perdamaian di wilayah konflik. Keamanan kolektif mencoba menggantikan hukum rimba dengan supremasi kekuatan kolektif yang sah secara hukum.

Baca Juga :  Aliansi Baru di Pasifik sebagai Bentuk Penyeimbang Kekuatan Tiongkok

Evaluasi Efektivitas Melawan Agresi Negara Besar

Tantangan terbesar muncul saat agresor merupakan negara besar (Great Powers). Sejarah menunjukkan bahwa sistem keamanan kolektif sering mengalami kelumpuhan saat kepentingan negara besar saling bertabrakan. Di tahun 2026, Dewan Keamanan PBB masih sering menghadapi kebuntuan akibat penggunaan hak veto oleh negara-negara kuat.

Kepatuhan negara anggota terhadap aksi kolektif sering kali bersifat selektif. Mereka cenderung hanya bertindak jika konflik tersebut tidak mengganggu kepentingan nasional mereka sendiri. Namun, meskipun memiliki kelemahan, sistem ini tetap menjadi satu-satunya kerangka legal global yang diakui. Tanpa keamanan kolektif, dunia akan kembali ke era perang tanpa batas di mana yang kuat selalu memangsa yang lemah tanpa adanya sanksi moral maupun fisik.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tragedi Pesawat Terjun Payung di Missouri: 12 Tewas Setelah Pesawat Jatuh dan Terbakar
Samurai Blue Tahan Imbang Belanda di Piala Dunia
Israel Gempur Lebanon Selatan di Tengah Isyarat Damai
Donald Trump dan Emmanuel Macron Pererat Aliansi
Wabah Ebola Kongo Kian Mengkhawatirkan
Israel Bersiap Hadapi Pemilihan Umum Sela
Presiden Mongolia Ukhnaa Khurelsukh Sambut Menlu Tiongkok
Raksasa Teknologi Dunia Serap Mineral Milisi M23

Berita Terkait

Senin, 15 Juni 2026 - 17:59 WIB

Tragedi Pesawat Terjun Payung di Missouri: 12 Tewas Setelah Pesawat Jatuh dan Terbakar

Senin, 15 Juni 2026 - 08:35 WIB

Samurai Blue Tahan Imbang Belanda di Piala Dunia

Minggu, 14 Juni 2026 - 17:21 WIB

Israel Gempur Lebanon Selatan di Tengah Isyarat Damai

Minggu, 14 Juni 2026 - 16:14 WIB

Donald Trump dan Emmanuel Macron Pererat Aliansi

Minggu, 14 Juni 2026 - 14:03 WIB

Wabah Ebola Kongo Kian Mengkhawatirkan

Berita Terbaru