WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Presiden Donald Trump mengambil langkah mengejutkan dengan menunda ancaman serangan militer terhadap infrastruktur energi Iran pada hari Senin. Trump mengeklaim bahwa Amerika Serikat sedang melakukan pembicaraan yang “sangat kuat dan produktif” untuk mengakhiri perang di Timur Tengah.
Dalam konteks ini, penundaan selama lima hari tersebut bertujuan memberikan ruang bagi para negosiator. Trump menginstruksikan utusan khusus Steve Witkoff dan menantunya, Jared Kushner, untuk memimpin dialog dengan pihak Iran. “Kita sedang berurusan dengan orang-orang yang sangat masuk akal,” ujar Trump kepada wartawan di Florida.
Kontradiksi Teheran: Qalibaf Sebut “Berita Palsu”
Namun, pernyataan optimistis Trump segera menghadapi tembok besar di Teheran. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf—yang disebut-sebut sebagai lawan bicara utama AS—memberikan bantahan melalui media sosial X. Ia menegaskan bahwa tidak ada negosiasi yang sedang berlangsung dengan Washington.
Sebaliknya, Qalibaf menuduh pemerintah Amerika Serikat menyebarkan berita palsu guna memanipulasi pasar keuangan. Ia menyatakan bahwa rakyat Iran tetap menuntut hukuman berat bagi para agresor. Selain itu, Garda Revolusi Iran (IRGC) melabeli pernyataan Trump sebagai “operasi psikologis” usang yang tidak akan menyurutkan perlawanan mereka.
Dampak Ekonomi: Harga Minyak Terjun Bebas
Sinyal de-eskalasi dari Gedung Putih memberikan dampak instan pada ekonomi dunia. Harga minyak mentah Brent merosot tajam sebesar 10,92 persen menjadi $99,94 per barel. Penurunan ini membalikkan tren lonjakan harga yang terjadi selama akhir pekan akibat ancaman serangan energi.
Oleh karena itu, para investor melihat penundaan serangan ini sebagai peluang untuk stabilisasi pasar. Indeks saham di Wall Street juga mencatat kenaikan signifikan setelah pengumuman tersebut. Meskipun demikian, analis pasar tetap waspada karena fluktuasi harga sangat bergantung pada realisasi hasil pembicaraan di lapangan.
Pakistan sebagai Pusat Mediasi Baru
Diplomasi regional kini bergeser ke arah Timur. Seorang pejabat Pakistan mengungkapkan rencana pertemuan tingkat tinggi di Islamabad pekan ini. Pertemuan tersebut kabarnya akan melibatkan Wakil Presiden AS JD Vance, Steve Witkoff, dan Jared Kushner bersama delegasi dari Iran.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Lebih lanjut, Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah berdiskusi dengan PM Pakistan Shehbaz Sharif mengenai dampak perang terhadap keamanan global. Pihak Mesir, Oman, dan negara-negara Teluk juga berperan aktif dalam menyampaikan pesan antar-negara. Upaya kolektif ini menunjukkan bahwa meskipun ada bantahan publik, jalur komunikasi melalui pihak ketiga tetap terbuka lebar.
Posisi Israel dan Kelanjutan Operasi Militer
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengonfirmasi komunikasinya dengan Trump pada hari Senin. Israel tampaknya akan mengikuti langkah Washington untuk menunda penargetan fasilitas energi Iran. Namun, Netanyahu menegaskan bahwa militer Israel tetap akan melanjutkan operasi tempur di Lebanon dan wilayah Iran lainnya.
Pada akhirnya, dunia kini menanti hasil dari tenggat waktu lima hari yang Trump berikan. Keberhasilan mediasi di Islamabad akan menjadi kunci utama untuk mencegah kehancuran permanen infrastruktur vital di Timur Tengah. Jika diplomasi ini gagal, maka risiko kiamat energi global kembali membayangi tatanan dunia di tahun 2026.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia



















