Donbas Jadi Syarat: Trump Desak Ukraina Serahkan Wilayah

Kamis, 26 Maret 2026 - 13:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Momentum integrasi Eropa Timur. Negara-negara anggota Uni Eropa sepakat membuka jalur negosiasi resmi keanggotaan bagi Ukraina dan Moldova di Luxembourg pekan depan. Dok: Istimewa.

Momentum integrasi Eropa Timur. Negara-negara anggota Uni Eropa sepakat membuka jalur negosiasi resmi keanggotaan bagi Ukraina dan Moldova di Luxembourg pekan depan. Dok: Istimewa.

KYIV, POSNEWS.CO.ID – Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengungkapkan dinamika baru yang sangat menekan dalam upaya pengakhiran perang dengan Rusia. Pemerintah Amerika Serikat kini menawarkan jaminan keamanan bagi Ukraina dengan syarat yang sangat berat pada hari Rabu.

Dalam konteks ini, Washington meminta Ukraina untuk menyerahkan seluruh wilayah Donbas kepada Rusia. Langkah tersebut menjadi prakondisi utama sebelum Amerika Serikat menandatangani dokumen perlindungan militer permanen bagi Kyiv.

Tekanan Trump di Tengah Pusaran Konflik Iran

Zelenskyy menilai bahwa fokus Amerika Serikat saat ini sedang terbagi. Konflik Washington dengan Iran memberikan dampak besar terhadap strategi Donald Trump di Eropa Timur. Oleh karena itu, Trump berupaya mendorong penyelesaian cepat untuk perang Ukraina yang telah berlangsung selama empat tahun.

“Sayangnya, Presiden Trump tetap memilih strategi untuk memberikan tekanan lebih besar pada pihak Ukraina,” ujar Zelenskyy dalam wawancara dengan Reuters. Akibatnya, Kyiv kini berada dalam posisi terjepit antara tuntutan kedaulatan wilayah dan kebutuhan mendesak akan perlindungan internasional.

Risiko Keamanan: Benteng Pertahanan Eropa dalam Bahaya

Zelenskyy memperingatkan bahwa penarikan pasukan dari Donbas adalah langkah yang berbahaya. Wilayah tersebut mencakup “Fortress Belt” atau sabuk kota yang telah militer Ukraina perkuat secara masif. Dalam hal ini, menyerahkan posisi pertahanan terkuat tersebut akan memudahkan Rusia untuk melakukan agresi lebih lanjut di masa depan.

Lebih lanjut, Zelenskyy menyatakan bahwa mundurnya Ukraina dari Donbas akan mengompromikan keamanan seluruh benua Eropa. Rusia saat ini terus melakukan kemajuan lambat namun konsisten di medan tempur. Moskow bertaruh bahwa Washington akan segera kehilangan minat pada perundingan dan meninggalkan Ukraina sendirian.

Pasokan Patriot dan Inovasi Militer Mandiri

Meskipun terjadi ketegangan diplomatik, Zelenskyy tetap mengapresiasi dukungan fisik dari administrasi Trump. Pasokan sistem pertahanan udara Patriot tetap berjalan lancar meski permintaan senjata tersebut melonjak di kawasan Teluk. Namun demikian, jumlah pasokan rudal Patriot saat ini masih jauh dari kebutuhan pertahanan Ukraina yang sebenarnya.

Baca Juga :  Melania Trump Bersuara: Bantah Kaitan dengan Jeffrey Epstein

Oleh sebab itu, Ukraina mulai memacu produksi persenjataan secara mandiri. Kyiv kini mencatat kemajuan signifikan dalam memproduksi rudal jarak jauh dan drone tempur. Secara simultan, kapabilitas baru ini memungkinkan Ukraina untuk melancarkan serangan balasan jauh ke dalam wilayah Rusia sebagai respon atas pengeboman kota-kota Ukraina.

Kesimpulan: Menanti Kepastian di Meja Perundingan

Masa depan Ukraina kini bergantung pada hasil negosiasi yang sedang berlangsung di Miami. Meskipun sebelumnya Zelenskyy mengeklaim dokumen jaminan keamanan sudah siap sepenuhnya, ia kini mengakui masih banyak pekerjaan yang harus tuntas. Pada akhirnya, Ukraina tetap menuntut jaminan yang kokoh agar Rusia tidak kembali meluncurkan permusuhan setelah kesepakatan damai tercapai di tahun 2026.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Wabah Ebola Kongo Meluas: WHO Peringatkan Bahaya
Anthropic Raih Skor Tertinggi di Tengah Ancaman Eksistensial
Gempuran Drone Ukraina Paksa Kilang Minyak Rusia Setop
Nigel Farage Mundur dari Parlemen Inggris
AS Gempur Sasaran Militer Iran Pasca-Serangan Kapal Tanker
Trump Tuntut Kendali Greenland dan Cabut Sanksi Turki
Korban Gempa Venezuela Bertahan Hidup di Bawah Reruntuhan
Rusia Gempur Kyiv dengan Rudal Balistik

Berita Terkait

Rabu, 8 Juli 2026 - 18:48 WIB

Wabah Ebola Kongo Meluas: WHO Peringatkan Bahaya

Rabu, 8 Juli 2026 - 17:30 WIB

Anthropic Raih Skor Tertinggi di Tengah Ancaman Eksistensial

Rabu, 8 Juli 2026 - 14:04 WIB

Gempuran Drone Ukraina Paksa Kilang Minyak Rusia Setop

Rabu, 8 Juli 2026 - 13:56 WIB

Nigel Farage Mundur dari Parlemen Inggris

Rabu, 8 Juli 2026 - 12:38 WIB

AS Gempur Sasaran Militer Iran Pasca-Serangan Kapal Tanker

Berita Terbaru

Lompatan besar klon tempur EVE. Fenris Creations mematangkan aspek pergerakan karakter dan menguji sistem ekonomi orbit pada fase Operation Avalon. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

EVE Vanguard Hadirkan Formula Shooter Ekstraksi

Kamis, 9 Jul 2026 - 05:10 WIB

Hambatan di tengah krisis kesehatan. Warga di kamp pengungsian Kpangba mengusir petugas medis yang berupaya melacak kontak erat korban meninggal akibat Ebola. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Wabah Ebola Kongo Meluas: WHO Peringatkan Bahaya

Rabu, 8 Jul 2026 - 18:48 WIB