YAOUNDE, POSNEWS.CO.ID – Amerika Serikat meluncurkan serangan terbuka terhadap Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) saat konferensi utama lembaga tersebut dibuka pada hari Kamis. Di saat yang sama, Tiongkok bergerak cepat untuk membela sistem perdagangan global yang berbasis aturan.
Konferensi Tingkat Menteri di Yaounde berlangsung di bawah bayang-bayang perang Timur Tengah dan ketegangan perdagangan yang kian memuncak. Krisis ini memaksa 166 negara anggota untuk segera merombak praktik lama guna mengembalikan kepercayaan pasar internasional.
AS Tuntut “Orde Baru” dan Kecam Status Quo
Perwakilan Dagang Amerika Serikat, Jamieson Greer, melabeli kebijakan perdagangan Washington sebagai respon korektif terhadap kegagalan sistemik. Menurutnya, WTO selama ini justru mengawasi dan berkontribusi pada ketidakseimbangan ekonomi yang parah.
“Status quo telah menjadi tidak layak secara ekonomi dan tidak dapat diterima secara politik,” tegas Greer melalui pernyataan video. Oleh karena itu, Amerika Serikat mendorong pembentukan “orde baru” yang mengutamakan kesepakatan antar-kelompok negara kecil. Strategi ini bertujuan menghindari pemborosan waktu puluhan tahun hanya untuk mencapai konsensus terendah di tingkat global.
Tiongkok: Lawan Unilateralisme dan Proteksionisme
Menteri Perdagangan Tiongkok, Wang Wentao, merespons narasi tersebut dengan peringatan mengenai tantangan eksistensial yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ia mendesak seluruh negara anggota untuk secara bersama-sama menentang tindakan sepihak yang merusak stabilitas dunia.
“Kita perlu bersatu dan tetap pada jalur untuk mendukung sistem perdagangan multilateral dengan WTO sebagai intinya,” ujar Wang. Dalam hal ini, Tiongkok bersama negara berkembang lainnya bersikeras mempertahankan prinsip “Negara Paling Disukai” (Most-Favored Nation) sebagai fondasi utama perdagangan yang adil dan non-diskriminatif.
Disrupsi Terburuk dalam Delapan Dekade
Ketua WTO, Ngozi Okonjo-Iweala, memberikan gambaran suram mengenai kondisi ekonomi dunia di tahun 2026. Ia menyebut sistem perdagangan global sedang mengalami gangguan terparah dalam 80 tahun terakhir. Bahkan, tatanan multilateral yang selama ini dunia kenal kini telah berubah secara permanen.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Lebih lanjut, Menteri Perdagangan Kamerun, Luc Magloire Mbarga Atangana, menekankan bahwa reformasi harus melahirkan WTO yang mampu menjawab tantangan modern. Meskipun demikian, perbedaan pandangan mengenai cara reformasi tersebut dijalankan tetap menjadi hambatan besar. India, misalnya, menolak keras ide perjanjian kelompok kecil dan tetap menginginkan pengambilan keputusan berbasis konsensus total.
Menanti Peta Jalan Reformasi
Pertemuan di Yaounde ini kemungkinan besar tidak akan menghasilkan kesepakatan besar yang instan. Namun, komunitas internasional berharap para anggota berhasil mengadopsi peta jalan reformasi yang konkret bagi masa depan.
Pada akhirnya, keberhasilan konferensi kedua yang diadakan di benua Afrika ini akan menentukan apakah perdagangan global tetap menjadi alat pemersatu atau justru menjadi medan tempur proteksionisme yang baru. Dunia kini menanti apakah kolaborasi lintas blok mampu menyelamatkan multilateralisme dari jurang kehancuran di sisa tahun 2026 ini.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia



















