Mandat Yaounde: AS Serang WTO Saat Tiongkok Pasang Badan Bela Perdagangan Multilateral

Jumat, 27 Maret 2026 - 14:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Titik nadir perdagangan global. Di tengah berkecamuknya perang Timur Tengah, Amerika Serikat melontarkan serangan tajam terhadap relevansi WTO di Yaounde, sementara Tiongkok mendesak dunia bersatu melawan proteksionisme sepihak. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Titik nadir perdagangan global. Di tengah berkecamuknya perang Timur Tengah, Amerika Serikat melontarkan serangan tajam terhadap relevansi WTO di Yaounde, sementara Tiongkok mendesak dunia bersatu melawan proteksionisme sepihak. Dok: Istimewa.

YAOUNDE, POSNEWS.CO.ID – Amerika Serikat meluncurkan serangan terbuka terhadap Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) saat konferensi utama lembaga tersebut dibuka pada hari Kamis. Di saat yang sama, Tiongkok bergerak cepat untuk membela sistem perdagangan global yang berbasis aturan.

Konferensi Tingkat Menteri di Yaounde berlangsung di bawah bayang-bayang perang Timur Tengah dan ketegangan perdagangan yang kian memuncak. Krisis ini memaksa 166 negara anggota untuk segera merombak praktik lama guna mengembalikan kepercayaan pasar internasional.

AS Tuntut “Orde Baru” dan Kecam Status Quo

Perwakilan Dagang Amerika Serikat, Jamieson Greer, melabeli kebijakan perdagangan Washington sebagai respon korektif terhadap kegagalan sistemik. Menurutnya, WTO selama ini justru mengawasi dan berkontribusi pada ketidakseimbangan ekonomi yang parah.

“Status quo telah menjadi tidak layak secara ekonomi dan tidak dapat diterima secara politik,” tegas Greer melalui pernyataan video. Oleh karena itu, Amerika Serikat mendorong pembentukan “orde baru” yang mengutamakan kesepakatan antar-kelompok negara kecil. Strategi ini bertujuan menghindari pemborosan waktu puluhan tahun hanya untuk mencapai konsensus terendah di tingkat global.

Baca Juga :  Menlu Iran Sebut Kesepakatan Hindari Perang Dalam Jangkauan

Tiongkok: Lawan Unilateralisme dan Proteksionisme

Menteri Perdagangan Tiongkok, Wang Wentao, merespons narasi tersebut dengan peringatan mengenai tantangan eksistensial yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ia mendesak seluruh negara anggota untuk secara bersama-sama menentang tindakan sepihak yang merusak stabilitas dunia.

“Kita perlu bersatu dan tetap pada jalur untuk mendukung sistem perdagangan multilateral dengan WTO sebagai intinya,” ujar Wang. Dalam hal ini, Tiongkok bersama negara berkembang lainnya bersikeras mempertahankan prinsip “Negara Paling Disukai” (Most-Favored Nation) sebagai fondasi utama perdagangan yang adil dan non-diskriminatif.

Disrupsi Terburuk dalam Delapan Dekade

Ketua WTO, Ngozi Okonjo-Iweala, memberikan gambaran suram mengenai kondisi ekonomi dunia di tahun 2026. Ia menyebut sistem perdagangan global sedang mengalami gangguan terparah dalam 80 tahun terakhir. Bahkan, tatanan multilateral yang selama ini dunia kenal kini telah berubah secara permanen.

Baca Juga :  China Kepung Taiwan dari 5 Penjuru, Peringatan Keras untuk AS dan Separatis

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lebih lanjut, Menteri Perdagangan Kamerun, Luc Magloire Mbarga Atangana, menekankan bahwa reformasi harus melahirkan WTO yang mampu menjawab tantangan modern. Meskipun demikian, perbedaan pandangan mengenai cara reformasi tersebut dijalankan tetap menjadi hambatan besar. India, misalnya, menolak keras ide perjanjian kelompok kecil dan tetap menginginkan pengambilan keputusan berbasis konsensus total.

Menanti Peta Jalan Reformasi

Pertemuan di Yaounde ini kemungkinan besar tidak akan menghasilkan kesepakatan besar yang instan. Namun, komunitas internasional berharap para anggota berhasil mengadopsi peta jalan reformasi yang konkret bagi masa depan.

Pada akhirnya, keberhasilan konferensi kedua yang diadakan di benua Afrika ini akan menentukan apakah perdagangan global tetap menjadi alat pemersatu atau justru menjadi medan tempur proteksionisme yang baru. Dunia kini menanti apakah kolaborasi lintas blok mampu menyelamatkan multilateralisme dari jurang kehancuran di sisa tahun 2026 ini.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dilema Pentagon: AS Pertimbangkan Alihkan Pasokan Senjata Ukraina ke Timur Tengah
Front Baru di Laut Merah: Houthi Siaga Blokade Selat Bab al-Mandab
Kasus Noelia Castillo Ramos Ubah Paradigma Eutanasia di Spanyol
Bentrok di Maluku Tenggara Memanas, Wakapolres dan Kasat Reskrim Kena Panah Lerai Massa
Beirut Terbelah: Boikot Kabinet dan Protes Massa Warnai Eskalasi Berdarah
Rezim Toll Booth Hormuz: Iran Legalkan Pungutan Liar
DPO Narkoba Diburu! Rendy Hermawan, Tangan Kanan “Andre The Doctor” Terendus di Malaysia
Iran Izinkan 10 Tanker Minyak Lintasi Selat Hormuz

Berita Terkait

Jumat, 27 Maret 2026 - 14:53 WIB

Mandat Yaounde: AS Serang WTO Saat Tiongkok Pasang Badan Bela Perdagangan Multilateral

Jumat, 27 Maret 2026 - 13:50 WIB

Dilema Pentagon: AS Pertimbangkan Alihkan Pasokan Senjata Ukraina ke Timur Tengah

Jumat, 27 Maret 2026 - 12:44 WIB

Front Baru di Laut Merah: Houthi Siaga Blokade Selat Bab al-Mandab

Jumat, 27 Maret 2026 - 11:42 WIB

Kasus Noelia Castillo Ramos Ubah Paradigma Eutanasia di Spanyol

Jumat, 27 Maret 2026 - 11:15 WIB

Bentrok di Maluku Tenggara Memanas, Wakapolres dan Kasat Reskrim Kena Panah Lerai Massa

Berita Terbaru

Melumpuhkan jalur alternatif. Kelompok Houthi di Yaman bersiap menyerang Selat Bab al-Mandab guna mendukung Iran, mengancam kehancuran total rantai pasok energi global tahun 2026. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Front Baru di Laut Merah: Houthi Siaga Blokade Selat Bab al-Mandab

Jumat, 27 Mar 2026 - 12:44 WIB

Keadilan di ujung hayat. Noelia Castillo Ramos mengakhiri perjuangan panjangnya melalui eutanasia, menandai pergeseran besar dalam penerapan hak atas kematian yang bermartabat di Spanyol tahun 2026. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Kasus Noelia Castillo Ramos Ubah Paradigma Eutanasia di Spanyol

Jumat, 27 Mar 2026 - 11:42 WIB