Melampaui Positivisme: Mengenal Post-Positivisme dan Kritik Teori Kritis

Jumat, 3 April 2026 - 20:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Runtuhnya mitos objektivitas murni. Post-Positivisme dan Teori Kritis menantang dominasi angka dengan argumen bahwa ilmu pengetahuan tidak pernah bebas nilai dan sering kali berfungsi sebagai instrumen kekuasaan. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Runtuhnya mitos objektivitas murni. Post-Positivisme dan Teori Kritis menantang dominasi angka dengan argumen bahwa ilmu pengetahuan tidak pernah bebas nilai dan sering kali berfungsi sebagai instrumen kekuasaan. Dok: Istimewa.

FRANKFURT, POSNEWS.CO.ID – Selama berabad-abad, sains dipuja sebagai cermin yang memantulkan realitas secara objektif tanpa cacat. Namun, di tahun 2026, sebuah kesadaran baru semakin menguat: ilmu pengetahuan bukanlah ruang hampa yang suci. Dalam konteks ini, Post-Positivisme dan Teori Kritis hadir untuk menelanjangi bias yang tersembunyi di balik jas putih laboratorium dan rumus matematika.

Langkah intelektual ini bertujuan untuk memanusiakan kembali ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, memahami kritik terhadap Positivisme adalah kunci untuk melihat mengapa “kebenaran” di era modern selalu bersifat politis dan sosial.

Kritik Mazhab Frankfurt: Sains sebagai Alat Dominasi

Pilar utama kritik terhadap Positivisme datang dari para pemikir Mazhab Frankfurt, seperti Max Horkheimer dan Theodor Adorno. Secara khusus, mereka memperkenalkan konsep “Teori Kritis” untuk melawan “Teori Tradisional” yang hanya fokus pada pengumpulan fakta.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Horkheimer berargumen bahwa Positivisme telah mengubah akal budi menjadi Rasio Instrumental. Dalam hal ini, ilmu pengetahuan hanya peduli pada “bagaimana cara melakukan sesuatu” (efisiensi), namun mengabaikan pertanyaan moral tentang “mengapa kita melakukannya”. Akibatnya, masyarakat modern terjebak dalam sistem teknokrasi di mana manusia dikendalikan oleh data statistik. Bagi Teori Kritis, Positivisme bukan sekadar metode sains, melainkan ideologi yang melanggengkan status quo dan membungkam suara-suara marginal demi keteraturan yang semu.

Baca Juga :  Ilusi Perdamaian Kant: PBB Gagal Mencegah Perang

Runtuhnya Mitos Objektivitas: Pengakuan Bebas Nilai

Salah satu poin paling radikal dari Post-Positivisme adalah penolakan terhadap konsep Value-Free Science atau sains bebas nilai. Bahkan, filsuf sains seperti Thomas Kuhn dan Paul Feyerabend membuktikan bahwa latar belakang budaya, bahasa, dan keyakinan peneliti memengaruhi hasil observasi mereka.

Fenomena ini dikenal sebagai Theory-Ladenness of Observation. Oleh sebab itu, seorang peneliti tidak pernah bisa menjadi pengamat netral yang berada di luar objek penelitiannya. Setiap data yang kita pilih untuk diukur mencerminkan nilai-nilai yang kita anggap penting. Di tahun 2026, pengakuan atas subjektivitas ini dianggap sebagai bentuk kejujuran intelektual. Kita mulai menyadari bahwa klaim “objektivitas murni” sering kali hanyalah tameng untuk menyembunyikan kepentingan politik tertentu di balik otoritas sains.

Kebangkitan Pendekatan Kualitatif: Mencari Makna di Balik Angka

Dominasi metode kuantitatif yang mengagungkan statistik kini mulai diimbangi oleh pendekatan kualitatif. Secara khusus, peneliti menyadari bahwa angka-angka sering kali gagal menangkap kompleksitas emosi dan pengalaman manusia yang unik. Sebagai hasilnya, studi etnografi, wawancara mendalam, dan analisis wacana kini menempati posisi sentral dalam ilmu sosial kontemporer.

Baca Juga :  Prancis Galang Aliansi G7 untuk Amankan Pasokan Mineral Kritis

Pendekatan kualitatif tidak berusaha mencari hukum alam yang universal seperti Fisika. Sebaliknya, metode ini berupaya melakukan Verstehen atau pemahaman mendalam terhadap makna tindakan manusia. Terlebih lagi, di era Kecerdasan Buatan (AI) tahun 2026, kemampuan untuk menginterpretasikan konteks menjadi lebih berharga daripada sekadar kemampuan memproses data mentah. Angka bisa memberi tahu kita apa yang terjadi, namun hanya pendekatan kualitatif yang mampu menjelaskan mengapa hal itu berarti bagi kehidupan kita.

Masa depan ilmu pengetahuan bergantung pada kemampuan kita untuk mengintegrasikan presisi data dengan kedalaman kritik sosial. Pada akhirnya, melampaui Positivisme berarti kita berani mempertanyakan siapa yang diuntungkan oleh sebuah penemuan ilmiah.

Dengan demikian, dunia memerlukan lebih banyak ilmuwan yang tidak hanya ahli dalam kalkulasi, tetapi juga peka terhadap isu ketidakadilan. Post-Positivisme mengajarkan kita bahwa pengetahuan sejati harus bersifat emansipatoris—membebaskan manusia dari penindasan, bukan justru membelenggunya dalam dinginnya angka. Di tahun 2026, kebenaran bukan lagi soal menangkap bayangan di dinding gua, melainkan soal keberanian untuk membongkar struktur kekuasaan yang membentuk cara kita melihat cahaya tersebut.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran
António Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng
Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan
Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila
Mikrofon Bocor Ungkap Obrolan Spontan Para Pemimpin Dunia
Alysa Liu dan Ilia Malinin Siap Beraksi di Skate America
Aliansi SoftBank dan OpenAI: Perangi Krisis Siber Jepang
Bos Nvidia Jensen Huang Desak Masyarakat Cepat Adaptasi

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 15:17 WIB

PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran

Rabu, 17 Juni 2026 - 14:48 WIB

António Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng

Rabu, 17 Juni 2026 - 13:31 WIB

Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan

Rabu, 17 Juni 2026 - 11:12 WIB

Mikrofon Bocor Ungkap Obrolan Spontan Para Pemimpin Dunia

Rabu, 17 Juni 2026 - 10:01 WIB

Alysa Liu dan Ilia Malinin Siap Beraksi di Skate America

Berita Terbaru

Sinergi Tokyo-Washington di G7. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menggelar pertemuan bilateral singkat bersama Presiden AS Donald Trump untuk membahas isu Timur Tengah dan tarif dagang. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran

Rabu, 17 Jun 2026 - 15:17 WIB

Penderitaan di bawah kuasa geng. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mengunjungi Haiti guna menyaksikan langsung krisis kemanusiaan dan pengungsian massal akibat dominasi geng Viv Ansanm. Dok: (AP Photo/Danica Coto)

INTERNASIONAL

António Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng

Rabu, 17 Jun 2026 - 14:48 WIB

Ketegangan di perairan internasional. Sebuah kapal fregat militer Rusia melepaskan tembakan peringatan ke arah kapal pesiar berbendera Inggris di Selat Inggris. Dok: (AP Photo, File)

INTERNASIONAL

Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan

Rabu, 17 Jun 2026 - 13:31 WIB