BEIRUT, POSNEWS.CO.ID – Langit Beirut kembali mencekam akibat dentuman ledakan keras pada Jumat malam. Militer Israel melancarkan serangkaian serangan udara ke ibu kota Lebanon saat warga sedang memperingati hari besar keagamaan.
Dalam konteks ini, serangan tersebut menyasar wilayah pinggiran selatan yang merupakan basis kekuatan Hezbollah. Wartawan di lapangan melaporkan tiga ledakan besar yang menggetarkan pusat kota sesaat setelah matahari terbenam.
Gempuran di Jumat Agung dan Strategi Zona Keamanan
Israel memperkeras kampanye militernya di Lebanon guna melumpuhkan kelompok Hezbollah yang didukung Iran. Militer Israel sebelumnya telah mengeluarkan perintah evakuasi bagi warga di tujuh lingkungan padat penduduk. Oleh karena itu, warga sipil terpaksa melarikan diri di tengah situasi hari libur nasional yang seharusnya sakral bagi umat Kristiani dan Muslim di sana.
Pemerintah Israel menegaskan rencana mereka untuk menduduki Lebanon Selatan hingga Sungai Litani. Langkah ini bertujuan menciptakan “zona keamanan” permanen guna melindungi warga Israel utara. Akibatnya, lebih dari satu juta orang kini terdampar dalam krisis pengungsian masif di berbagai penjuru Lebanon.
Ancaman Retaliasi Iran terhadap Universitas
Situasi keamanan semakin kompleks dengan munculnya ancaman terhadap sektor pendidikan. Kedutaan Besar Amerika Serikat di Beirut memperingatkan bahwa Iran kemungkinan akan menyerang universitas-universitas di Lebanon. Hal ini terjadi setelah universitas-universitas di dalam wilayah Iran sendiri terkena serangan udara sebelumnya.
Dalam hal ini, Universitas Amerika di Beirut (AUB) telah mengambil langkah preventif dengan memindahkan aktivitas perkuliahan ke sistem daring. Washington mendesak seluruh warga negaranya untuk segera meninggalkan Lebanon guna menghindari terjebak dalam pusaran konflik yang kian tidak terprediksi. “Iran dan milisi sekutunya mungkin berniat membidik lembaga pendidikan,” tulis pernyataan resmi kedutaan tersebut.
Insiden PBB: Tiga Personel UNIFIL Terluka
Ketegangan di perbatasan selatan juga memakan korban dari pihak internasional. Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) melaporkan tiga personelnya terluka akibat ledakan di posisi PBB pada hari Jumat. Bahkan, dua di antaranya dilaporkan mengalami luka serius dan memerlukan penanganan medis segera.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hingga saat ini, sumber ledakan tersebut masih menjadi misteri. Pihak UNIFIL sedang melakukan penyelidikan mendalam untuk memastikan apakah insiden ini merupakan serangan sengaja atau kecelakaan teknis. Oleh sebab itu, keselamatan ribuan penjaga perdamaian kini berada dalam risiko tinggi setelah tiga personel lainnya tewas dalam insiden terpisah awal pekan ini.
Perlawanan Warga Sipil di Garis Depan
Meskipun demikian, puluhan ribu warga Lebanon memilih untuk tetap bertahan di rumah mereka di wilayah selatan. Termasuk di antaranya adalah sekitar 9.000 warga Kristen Lebanon di kota-kota perbatasan. Mereka menegaskan komitmen untuk tidak meninggalkan tanah kelahiran mereka meskipun operasi militer Israel terus merangsek maju.
Pada akhirnya, krisis di Lebanon telah menyebabkan disrupsi terberat bagi tatanan sosial kawasan tahun 2026. Dengan demikian, masa depan stabilitas Timur Tengah kini bergantung pada seberapa cepat komunitas internasional mampu meredam ambisi militer yang mengancam nyawa jutaan warga sipil serta institusi pendidikan dan perdamaian di wilayah tersebut.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia



















