WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Presiden Donald Trump mengambil langkah mengejutkan pada Senin. Ia memerintahkan Pentagon untuk menunda serangan militer terhadap Iran yang sedianya berlangsung pada hari Selasa. Meskipun demikian, Trump tetap menekankan bahwa militer AS siap melancarkan serangan skala penuh kapan saja jika negosiasi gagal.
Trump menyampaikan pengumuman ini melalui platform Truth Social. Ia menyatakan bahwa opsi serangan tetap terbuka jika Iran menolak kesepakatan yang dapat diterima Amerika Serikat. Oleh karena itu, ancaman militer terus membayangi meja perundingan.
Diplomasi di Balik Permintaan Sekutu
Trump menunda rencana serangan tersebut atas permintaan langsung dari pemimpin Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Para pemimpin Teluk ini menginginkan ruang lebih untuk proses diplomasi. Selanjutnya, mereka berharap dapat mencapai kesepakatan yang mencegah kehancuran regional yang lebih luas.
Di sisi lain, Washington telah menerima draf perundingan terbaru dari Iran melalui Pakistan. Namun, Gedung Putih menilai draf tersebut sangat tidak memadai. Pejabat senior AS menyebut proposal Iran hanya berisi penyesuaian simbolis. Secara spesifik, usulan tersebut gagal menawarkan konsesi nyata terkait program nuklir Teheran.
Teheran Perketat Kendali di Selat Hormuz
Sementara itu, Iran justru mempertegas kendali mereka atas jalur perdagangan energi dunia. Pada hari Senin, Teheran resmi membentuk Otoritas Selat Teluk Persia yang baru. Otoritas ini bertugas mengawasi lalu lintas air dan kabel serat optik bawah laut.
Pemerintah Iran merujuk pada Konvensi PBB tentang Hukum Laut tahun 1982 untuk membenarkan tindakan ini. Mereka mengklaim memiliki hak untuk melakukan lisensi dan pemantauan di wilayah tersebut. Akibatnya, langkah ini semakin memicu ketegangan di jalur pelayaran yang selama ini menjadi pusat sengketa militer antara kedua negara.
Ancaman dan Tuntutan Iran
Pemerintah Iran tetap teguh pada tuntutan mereka. Secara tegas, mereka menuntut penghentian perang di semua lini, termasuk Lebanon. Selain itu, Teheran juga menuntut pelepasan aset luar negeri mereka yang dibekukan di bank-bank asing karena tekanan Amerika Serikat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagai respons, Presiden Trump menolak mentah-mentah tuntutan tersebut. Ia menganggap tuntutan Iran sebagai hal yang tidak realistis. Trump terus menuntut agar Iran segera menghentikan program nuklirnya sebelum ada pembicaraan mengenai bantuan ekonomi atau penghapusan sanksi.
Menanti Pertemuan Beijing
Nasib perang ini kini bergantung pada diplomasi tingkat tinggi. Presiden Trump dijadwalkan terbang ke Beijing pada Rabu mendatang. Oleh karena itu, pertemuan dengan Presiden Xi Jinping akan menjadi kunci utama dalam meredam krisis.
Singkatnya, dunia kini menanti hasil dari pertemuan di Beijing tersebut. Kegagalan mencapai kesepakatan dapat memicu eskalasi militer baru yang lebih destruktif. Masyarakat internasional berharap kedua belah pihak dapat menemukan titik temu guna mengakhiri ketidakpastian ekonomi di tahun 2026 ini.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












