Trump Tunda Serangan ke Iran Saat Teheran Perketat Cengkeraman di Hormuz

Selasa, 19 Mei 2026 - 17:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Langkah taktis di Ruang Oval. Presiden Donald Trump menunda serangan militer terhadap Iran atas permintaan sekutu Teluk, namun ketegangan melonjak setelah Teheran membentuk otoritas maritim sepihak di Selat Hormuz. Dok: Istimewa.

Langkah taktis di Ruang Oval. Presiden Donald Trump menunda serangan militer terhadap Iran atas permintaan sekutu Teluk, namun ketegangan melonjak setelah Teheran membentuk otoritas maritim sepihak di Selat Hormuz. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Presiden Donald Trump mengambil langkah mengejutkan pada Senin. Ia memerintahkan Pentagon untuk menunda serangan militer terhadap Iran yang sedianya berlangsung pada hari Selasa. Meskipun demikian, Trump tetap menekankan bahwa militer AS siap melancarkan serangan skala penuh kapan saja jika negosiasi gagal.

Trump menyampaikan pengumuman ini melalui platform Truth Social. Ia menyatakan bahwa opsi serangan tetap terbuka jika Iran menolak kesepakatan yang dapat diterima Amerika Serikat. Oleh karena itu, ancaman militer terus membayangi meja perundingan.

Diplomasi di Balik Permintaan Sekutu

Trump menunda rencana serangan tersebut atas permintaan langsung dari pemimpin Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Para pemimpin Teluk ini menginginkan ruang lebih untuk proses diplomasi. Selanjutnya, mereka berharap dapat mencapai kesepakatan yang mencegah kehancuran regional yang lebih luas.

Di sisi lain, Washington telah menerima draf perundingan terbaru dari Iran melalui Pakistan. Namun, Gedung Putih menilai draf tersebut sangat tidak memadai. Pejabat senior AS menyebut proposal Iran hanya berisi penyesuaian simbolis. Secara spesifik, usulan tersebut gagal menawarkan konsesi nyata terkait program nuklir Teheran.

Baca Juga :  Kurir Ekstasi Kecelakaan di Tol Bakauheni, Ajak Istri Jemput 207 Ribu Butir Barang Haram

Teheran Perketat Kendali di Selat Hormuz

Sementara itu, Iran justru mempertegas kendali mereka atas jalur perdagangan energi dunia. Pada hari Senin, Teheran resmi membentuk Otoritas Selat Teluk Persia yang baru. Otoritas ini bertugas mengawasi lalu lintas air dan kabel serat optik bawah laut.

Pemerintah Iran merujuk pada Konvensi PBB tentang Hukum Laut tahun 1982 untuk membenarkan tindakan ini. Mereka mengklaim memiliki hak untuk melakukan lisensi dan pemantauan di wilayah tersebut. Akibatnya, langkah ini semakin memicu ketegangan di jalur pelayaran yang selama ini menjadi pusat sengketa militer antara kedua negara.

Ancaman dan Tuntutan Iran

Pemerintah Iran tetap teguh pada tuntutan mereka. Secara tegas, mereka menuntut penghentian perang di semua lini, termasuk Lebanon. Selain itu, Teheran juga menuntut pelepasan aset luar negeri mereka yang dibekukan di bank-bank asing karena tekanan Amerika Serikat.

Baca Juga :  Truk Tronton Rem Blong Tabrak Belasan Kendaraan di Cikampek, Dua Tewas

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebagai respons, Presiden Trump menolak mentah-mentah tuntutan tersebut. Ia menganggap tuntutan Iran sebagai hal yang tidak realistis. Trump terus menuntut agar Iran segera menghentikan program nuklirnya sebelum ada pembicaraan mengenai bantuan ekonomi atau penghapusan sanksi.

Menanti Pertemuan Beijing

Nasib perang ini kini bergantung pada diplomasi tingkat tinggi. Presiden Trump dijadwalkan terbang ke Beijing pada Rabu mendatang. Oleh karena itu, pertemuan dengan Presiden Xi Jinping akan menjadi kunci utama dalam meredam krisis.

Singkatnya, dunia kini menanti hasil dari pertemuan di Beijing tersebut. Kegagalan mencapai kesepakatan dapat memicu eskalasi militer baru yang lebih destruktif. Masyarakat internasional berharap kedua belah pihak dapat menemukan titik temu guna mengakhiri ketidakpastian ekonomi di tahun 2026 ini.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rumania: INSP Pastikan Bukan Strain Andes dari Kapal Pesiar
Bareskrim Tahan AKP Deky Jonathan Sasiang, Kasus Narkoba Kutai Barat Terus Dikembangkan
Putin dan Xi Jinping Perkuat Kemitraan Strategis di Hari Jadi ke-25
Satgas Haji Polri Tetapkan 13 Tersangka Haji Non-Prosedural, 320 Korban Rugi Rp10 Miliar
BNN Gempur Kampung Narkoba, Ungkap Jaringan Aceh-Bogor hingga Transnasional Golden Triangle
Polairud Polda Metro Kembangkan Tambak Pesisir Bekasi, 300 Ribu Benih Udang Ditebar
Krisis Energi Selat Hormuz: India dan Asia Tenggara Pacu Transisi Biofuel
Ilmuwan Ungkap Nagatitan, Dinosaurus Terbesar di Asia Tenggara

Berita Terkait

Selasa, 19 Mei 2026 - 17:19 WIB

Trump Tunda Serangan ke Iran Saat Teheran Perketat Cengkeraman di Hormuz

Selasa, 19 Mei 2026 - 16:47 WIB

Rumania: INSP Pastikan Bukan Strain Andes dari Kapal Pesiar

Selasa, 19 Mei 2026 - 16:05 WIB

Bareskrim Tahan AKP Deky Jonathan Sasiang, Kasus Narkoba Kutai Barat Terus Dikembangkan

Selasa, 19 Mei 2026 - 15:27 WIB

Putin dan Xi Jinping Perkuat Kemitraan Strategis di Hari Jadi ke-25

Selasa, 19 Mei 2026 - 14:58 WIB

Satgas Haji Polri Tetapkan 13 Tersangka Haji Non-Prosedural, 320 Korban Rugi Rp10 Miliar

Berita Terbaru

Penyelidikan medis di Arad. Institut Kesehatan Masyarakat Nasional (INSP) Rumania mengonfirmasi satu kasus hantavirus lokal, menegaskan bahwa strain yang ditemukan berbeda dari wabah mematikan di kapal pesiar MV Hondius. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Rumania: INSP Pastikan Bukan Strain Andes dari Kapal Pesiar

Selasa, 19 Mei 2026 - 16:47 WIB

Pesan persatuan bagi dunia. Presiden Rusia Vladimir Putin memulai kunjungan kenegaraan dua hari ke China guna mempererat kemitraan strategis dan merayakan seperempat abad perjanjian persahabatan dengan Presiden Xi Jinping. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Putin dan Xi Jinping Perkuat Kemitraan Strategis di Hari Jadi ke-25

Selasa, 19 Mei 2026 - 15:27 WIB