WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Amerika Serikat memperkeras ancaman militernya terhadap Iran pada Senin malam. Presiden Donald Trump menegaskan bahwa Iran akan menghadapi kehancuran infrastruktur total jika tidak segera membuka akses Selat Hormuz bagi energi global.
Dalam konteks ini, Trump memberikan ultimatum yang berakhir pada Selasa malam. Ia menyatakan militer AS siap meratakan setiap jembatan dan pembangkit listrik di seluruh penjuru Iran. “Satu titik nanti, tidak akan ada lagi orang yang tersisa untuk menyerah,” tegas Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih.
Iran Tolak Gencatan Senjata: Menuntut Solusi Permanen
Teheran secara resmi menolak proposal gencatan senjata yang dikirimkan Amerika Serikat melalui Pakistan. Kantor berita IRNA melaporkan bahwa Iran justru mengajukan rencana 10 poin untuk mengakhiri perang secara tuntas. Selain itu, poin tersebut mencakup penghentian konflik regional, protokol navigasi aman, penghapusan sanksi, dan bantuan rekonstruksi nasional.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa tuntutan Iran bukan tanda kompromi. Sebaliknya, langkah ini mencerminkan kepercayaan diri Iran dalam mempertahankan posisinya. Teheran menganggap tuntutan 15 poin sebelumnya dari pihak Washington sebagai hal yang sangat berlebihan dan tidak masuk akal.
“Dude 44 Bravo”: Penyelamatan Pilot di Hari Paskah
Di tengah gemuruh mesin perang, Washington merayakan keberhasilan operasi penyelamatan seorang awak udara AS. Pesawat penerbang tersebut jatuh di wilayah pegunungan Iran pada Jumat lalu. Setelah itu, pasukan khusus melakukan operasi infiltrasi rahasia guna mengevakuasi sang perwira pada Minggu pagi saat matahari terbit.
Menteri Pertahanan Pete Hegseth menggunakan narasi religius yang sangat kuat dalam mendeskripsikan penyelamatan ini. Ia membandingkan kembalinya pilot “Dude 44 Bravo” tersebut dengan kebangkitan Yesus pada hari Paskah. Bahkan, Hegseth menegaskan bahwa komitmen awak pesawat untuk bertahan hidup di medan musuh telah memudahkan upaya penyelamatan militer.
Debat Kejahatan Perang dan Dampak Ekonomi
Rencana Trump untuk menyerang infrastruktur sipil memicu kritik tajam dari para pakar hukum internasional. Meskipun demikian, Trump menolak kekhawatiran mengenai potensi kejahatan perang tersebut. Ia berargumen bahwa rakyat Iran justru bersedia menderita demi mendapatkan kebebasan dari rezim saat ini.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Terlebih lagi, perang yang telah berlangsung selama enam pekan ini mulai memukul ekonomi Amerika Serikat. Lonjakan harga bahan bakar telah menyebabkan angka dukungan publik terhadap Trump merosot tajam. Akibatnya, Partai Republik kini menghadapi kecemasan besar menjelang pemilihan sela pada bulan November mendatang di tengah inflasi energi global yang kian parah.
Situasi Lapangan: Gempuran Udara Terhebat
Hegseth memperingatkan bahwa militer akan meluncurkan serangan udara terberat sejak awal konflik pada hari Senin dan Selasa. Bahkan, Israel baru saja mengonfirmasi tewasnya Kepala Intelijen Garda Revolusi Iran, Majid Khademi. Sebagai balasan, Iran meluncurkan rentetan rudal ke kota Haifa dan menyerang fasilitas energi di Kuwait, Bahrain, dan UEA.
Pada akhirnya, dunia kini menanti berakhirnya jam-jam kritis menjelang tenggat waktu Trump. Dengan demikian, keberhasilan diplomasi Pakistan di Islamabad menjadi harapan terakhir guna mencegah kehancuran total Timur Tengah. Hingga saat ini, tercatat 3.546 warga Iran dan 1.500 warga Lebanon tewas, sementara 13 tentara Amerika Serikat telah gugur dalam pertempuran.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia



















