WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Dunia internasional menarik napas lega setelah Amerika Serikat dan Iran secara resmi menyetujui gencatan senjata selama 14 hari. Langkah diplomatik ini menghentikan ancaman “pemusnahan peradaban” yang sebelumnya Presiden Donald Trump lontarkan terhadap Teheran.
Dalam konteks ini, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif bertindak sebagai mediator kunci dalam kesepakatan tersebut. Sharif mengumumkan bahwa gencatan senjata ini berlaku efektif di seluruh lini pertempuran, termasuk wilayah konflik di Lebanon.
Diplomasi Menit Terakhir Donald Trump
Presiden Donald Trump mengumumkan kesepakatan tersebut melalui platform media sosialnya hanya sesaat sebelum tenggat waktu ultimatum berakhir. Trump sebelumnya mengancam akan meluncurkan serangan dahsyat ke infrastruktur sipil jika Iran tidak membuka Selat Hormuz pada Senin malam.
“Militer kami telah memenuhi dan melampaui seluruh tujuan strategisnya,” tegas Trump. Oleh karena itu, ia memandang jeda pertempuran ini sebagai peluang untuk mencapai perdamaian jangka panjang yang definitif di Timur Tengah. Trump menyatakan kesiapannya untuk merundingkan proposal 10 poin yang diajukan oleh pihak Iran sebagai basis diskusi yang masuk akal.
Peran Islamabad dan Koordinasi Selat Hormuz
PM Shehbaz Sharif menyambut baik kesediaan kedua belah pihak untuk menahan diri dari tindakan militer lebih lanjut. Selanjutnya, kedua delegasi dijadwalkan bertemu di Islamabad pada hari Jumat mendatang guna merumuskan detail teknis pengakhiran perang secara permanen.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memberikan jaminan mengenai keselamatan navigasi selama masa gencatan senjata. Araghchi menyatakan bahwa militer Iran akan memastikan jalur aman melalui Selat Hormuz tetap terjaga. Langkah ini merupakan konsesi penting mengingat jalur tersebut mengangkut seperlima pasokan energi dunia yang sempat lumpuh selama 40 hari terakhir.
Iran Klaim “Kemenangan Bersejarah” 40 Hari War
Di sisi lain, media pemerintah Iran, Press TV, membingkai kesepakatan ini sebagai kekalahan telak bagi Amerika Serikat dan Israel. Teheran mengeklaim bahwa kekuatan perlawanan mereka berhasil memaksa Washington untuk duduk di meja perundingan dan menerima persyaratan Iran.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bahkan, Iran secara resmi merilis “Proposal 10 Poin” yang mencakup tuntutan kedaulatan yang sangat luas. Dalam hal ini, poin-poin tersebut mencakup penghapusan seluruh sanksi ekonomi hingga penarikan total pasukan militer Amerika Serikat dari wilayah Timur Tengah.
Daftar 10 Poin Tuntutan Iran:
- Komitmen Non-Agresi: AS menjamin tidak akan ada lagi tindakan agresi di masa depan.
- Kontrol Maritim: Kontrol penuh Iran atas navigasi di Selat Hormuz tetap berlanjut.
- Hak Nuklir: Penerimaan internasional terhadap hak pengayaan nuklir Iran.
- Sanksi Primer: Penghapusan seluruh sanksi ekonomi primer dari AS.
- Sanksi Sekunder: Penghapusan seluruh sanksi ekonomi sekunder yang mengikat pihak ketiga.
- Resolusi PBB: Pengakhiran seluruh resolusi Dewan Keamanan PBB terhadap Iran.
- Resolusi IAEA: Pembatalan seluruh sanksi dari Dewan Gubernur Badan Energi Atom Internasional.
- Reparasi Perang: Pembayaran ganti rugi kepada Iran atas seluruh kerugian selama konflik.
- Penarikan Militer: Penarikan pasukan tempur Amerika Serikat dari pangkalan di kawasan.
- Penghentian Permusuhan: Gencatan senjata total di semua lini, termasuk front Lebanon.
Menanti Kepastian di Meja Perundingan
Meskipun Israel dilaporkan telah menyetujui penangguhan kampanye pengeboman, situasi di lapangan tetap sangat rapuh. Hanya beberapa menit setelah pengumuman Trump, militer Israel mengeklaim telah mendeteksi peluncuran rudal dari arah Iran.
Pada akhirnya, keberhasilan gencatan senjata ini akan sangat bergantung pada hasil pertemuan di Islamabad. Dunia kini memantau apakah 14 hari ini akan menjadi awal dari perdamaian baru atau sekadar jeda singkat sebelum badai peperangan yang lebih besar meletus kembali di tahun 2026.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia



















