Misteri Kematian al-Mousawi: Bahrain Dituding Gunakan Taktik Represi Arab Spring di Tengah Perang Iran

Sabtu, 4 April 2026 - 11:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Luka lama yang menganga kembali. Kematian Mohamed al-Mousawi di RS Militer Bahrain memicu kecaman internasional dan tuduhan penyiksaan, mengungkap eskalasi tindakan keras pemerintah terhadap oposisi di tengah gempuran rudal Iran tahun 2026. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Luka lama yang menganga kembali. Kematian Mohamed al-Mousawi di RS Militer Bahrain memicu kecaman internasional dan tuduhan penyiksaan, mengungkap eskalasi tindakan keras pemerintah terhadap oposisi di tengah gempuran rudal Iran tahun 2026. Dok: Istimewa.

MANAMA, POSNEWS.CO.ID – Kerajaan Bahrain kini berada dalam pusaran krisis hak asasi manusia yang serius. Krisis ini muncul di tengah garis depan peperangan melawan Iran. Kematian seorang tahanan bernama Mohamed al-Mousawi di rumah sakit militer memicu kemarahan publik.

Dalam konteks ini, keluarga korban menemukan kondisi jenazah al-Mousawi dalam keadaan yang mengerikan. Memar dan bekas cambukan kabel menutupi tubuh pria 32 tahun tersebut. Luka bakar akibat sengatan listrik juga membekas di bagian belakang lututnya. “Hasil temuan ini sangat konsisten dengan dugaan penyiksaan berat,” ujar Ahmed Banasr, pakar forensik dari Physicians for Human Rights.

Kebangkitan Taktik Represi Era 2011

Para pengamat menilai otoritas Bahrain sedang menghidupkan kembali metode penindasan era 2011. Saat itu, pemerintah menggunakannya untuk menumpas protes Arab Spring. Akibatnya, pemerintah kini menggunakan narasi keamanan nasional untuk membungkam setiap suara kritis mengenai perang.

“Pemerintah ingin memastikan tidak ada yang menantang narasi negara,” tegas Sayed Ahmed AlWadaei dari Bahrain Institute for Rights and Democracy. Otoritas memandang penangkapan puluhan warga Syiah sebagai upaya sistematis. Langkah ini bertujuan mencegah munculnya oposisi internal di tengah konflik regional.

Tuduhan Spionase dan Bantahan Pemerintah

Kementerian Dalam Negeri Bahrain menuduh al-Mousawi melakukan spionase untuk Iran saat menangkapnya. Namun, pihak keluarga membantah keras klaim tersebut. Mereka menyebut al-Mousawi hanya sedang menabung uang untuk memulai bisnis. Bahkan, pemerintah melabeli foto-foto luka al-Mousawi sebagai informasi yang “tidak akurat dan menyesatkan”.

Dalam hal ini, Bahrain bersikeras menjalankan setiap tindakan penegakan hukum sesuai prosedur yang berlaku. Pemerintah menegaskan bahwa langkah-langkah keamanan tersebut merupakan respon proporsional terhadap agresi Iran. Iran sendiri telah meluncurkan 600 lebih serangan drone dan rudal ke wilayah Bahrain. Serangan tersebut mencakup pangkalan Armada ke-5 Angkatan Laut AS.

Eskalasi Penangkapan di Ruang Digital

Otoritas menahan setidaknya 41 orang—termasuk pekerja migran—sejak perang meletus pada 28 Februari. Secara khusus, mereka menangkap warga yang membagikan gambar serangan rudal di media sosial. Beberapa orang, termasuk pemuda bernama Hussein Fatiil (21), kini menghadapi tuduhan pengkhianatan yang membawa ancaman hukuman mati.

Baca Juga :  Ottawa Ancam Regulasi Ketat Jika OpenAI Gagal Tingkatkan Protokol Keamanan

Terlebih lagi, pemerintah kini memperkuat kembali kekuasaan agen intelijen domestik (NSA). Sebelumnya, otoritas sempat mengurangi wewenang lembaga tersebut pasca-2011. Sebagai hasilnya, ketakutan akan penghilangan paksa dan penyiksaan kembali menghantui mayoritas warga Syiah di Bahrain. Krisis ini membuktikan bahwa stabilitas domestik Bahrain sangat rapuh menghadapi tekanan luar negeri.

Menanti Akuntabilitas Internasional

Masa depan kohesi sosial di Bahrain kini berada di ujung tanduk. Pada akhirnya, penggunaan kekuatan yang berlebihan hanya akan memperdalam kebencian sektarian di zona perang.

Dengan demikian, dunia internasional mendesak penyelidikan independen atas kematian al-Mousawi. Langkah ini bertujuan memastikan martabat manusia tetap terjaga di tengah anarki perang tahun 2026. Tanpa adanya transparansi hukum, Bahrain berisiko menghadapi gelombang kerusuhan domestik baru. Hal tersebut dapat melumpuhkan pusat komando militer sekutu di wilayah Teluk.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

AS Batalkan Latihan Militer Amfibi Ssangyong dengan Korsel
Selandia Baru Rancang Undang-Undang Larangan Media Sosial
Jepang Janjikan Dukungan untuk Presiden ICC Tomoko
Serangan Drone Rusia Hantam Pusat Perbelanjaan Ukraina
AS Berlakukan Tarif 50% ke Kanada, Ottawa Langsung Balas
Tabrakan Maut di Inggris Utara Tewaskan Tujuh Orang
Hakim Federal AS Batalkan Kebijakan Larangan Visa
Serangan Drone Ukraina Tewaskan 10 Orang di Rusia

Berita Terkait

Selasa, 25 Agustus 2026 - 13:42 WIB

AS Batalkan Latihan Militer Amfibi Ssangyong dengan Korsel

Selasa, 25 Agustus 2026 - 07:00 WIB

Selandia Baru Rancang Undang-Undang Larangan Media Sosial

Selasa, 25 Agustus 2026 - 06:00 WIB

Jepang Janjikan Dukungan untuk Presiden ICC Tomoko

Minggu, 23 Agustus 2026 - 20:10 WIB

Serangan Drone Rusia Hantam Pusat Perbelanjaan Ukraina

Minggu, 23 Agustus 2026 - 19:00 WIB

AS Berlakukan Tarif 50% ke Kanada, Ottawa Langsung Balas

Berita Terbaru

AMPB menyampaikan tuntutan RUU Perampasan Aset di depan Gedung DPR RI Jakarta.(Posnews/Ist)

NASIONAL

Rekening Botok Dibuka Lagi, Bank Mandiri Minta Maaf

Rabu, 26 Agu 2026 - 16:07 WIB