Korea Utara Luncurkan Rentetan Rudal saat Jepang-Korsel Perkuat Aliansi

Kamis, 9 April 2026 - 11:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Ketegangan di Semenanjung Korea. Korea Utara kembali meluncurkan rudal balistik dari pangkalan kapal selam Sinpo, bertepatan dengan laporan IAEA mengenai peningkatan serius fasilitas pengayaan uranium rezim Kim Jong Un tahun 2026.  Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Ketegangan di Semenanjung Korea. Korea Utara kembali meluncurkan rudal balistik dari pangkalan kapal selam Sinpo, bertepatan dengan laporan IAEA mengenai peningkatan serius fasilitas pengayaan uranium rezim Kim Jong Un tahun 2026. Dok: Istimewa.

TOKYO, POSNEWS.CO.ID – Kawasan Asia Timur menghadapi lonjakan aktivitas militer yang mengkhawatirkan dalam 48 jam terakhir. Korea Utara meluncurkan serangkaian rudal balistik sebagai bentuk unjuk kekuatan terbaru di tengah ketidakpastian keamanan global tahun 2026.

Dalam konteks ini, peluncuran tersebut mencakup proyektil dengan karakteristik penerbangan yang tidak lazim. Otoritas keamanan di Tokyo dan Seoul kini sedang melakukan analisis mendalam guna mengidentifikasi jenis teknologi baru yang Pyongyang gunakan.

Detail Serangan: Lintasan Ireguler dan Radius 700 Km

Kementerian Pertahanan Jepang melaporkan peluncuran rudal balistik pada Rabu pukul 14.23 waktu setempat. Rudal tersebut meluncur ke arah timur dengan ketinggian maksimum mencapai 60 kilometer. Bahkan, militer Jepang mendeteksi kemungkinan rudal tersebut terbang dengan lintasan ireguler guna menghindari sistem pencegat udara.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lebih lanjut, proyektil tersebut menempuh jarak lebih dari 700 kilometer sebelum mendarat di perairan internasional. Peluncuran ini menyusul serangan rudal jarak pendek pada Rabu pagi pukul 08.50 dari area Wonsan. Oleh karena itu, Tokyo melayangkan protes keras kepada Pyongyang dan melabeli tindakan tersebut sebagai ancaman serius bagi navigasi maritim dan udara.

Baca Juga :  Warisan Tak Benda: Mengapa Baguette Jadi Harta Karun UNESCO

Kegagalan Proyektil Selasa dan Analisis Intelijen

Aktivitas militer Pyongyang sebenarnya telah terdeteksi sejak Selasa lalu. Militer Korea Selatan melaporkan adanya peluncuran proyektil dari dekat ibu kota Korea Utara. Namun, pengumuman resmi sempat tertunda karena adanya anomali pada pola penerbangan senjata tersebut.

Dalam hal ini, intelijen Amerika Serikat dan Korea Selatan sedang memverifikasi apakah proyektil tersebut merupakan sistem peluncur roket multipel atau rudal balistik yang mengalami kegagalan teknis. Laporan media menyebutkan objek tersebut menghilang dari radar sesaat setelah menunjukkan pola terbang yang tidak stabil. Akibatnya, kewaspadaan di Semenanjung Korea kini berada pada level tertinggi sejak awal tahun.

Koordinasi Koizumi-Ahn: Efek Samping Perang Iran

Di tengah hujan rudal, Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi mengadakan konferensi video dengan Menhan Korea Selatan Ahn Gyu Back pada Rabu sore. Kedua pemimpin militer sepakat untuk melanjutkan kerja sama pertahanan trilateral yang melibatkan Washington guna menjaga stabilitas kawasan.

Baca Juga :  Dua Pemuda Terduga Tawuran di Depok Ditembak Polisi, Bawa Celurit dan Golok

Selain itu, pertemuan ini juga membahas dampak perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran terhadap keamanan Asia. Koizumi secara khusus menyampaikan apresiasi atas bantuan Seoul dalam mengevakuasi warga negara Jepang dari Arab Saudi menggunakan pesawat militer Korea Selatan. Sebagai hasilnya, krisis di Timur Tengah justru mempererat solidaritas keamanan antara Tokyo dan Seoul dalam menghadapi provokasi Korea Utara.

Menanti Respon Washington

Masa depan stabilitas Pasifik kini bergantung pada efektivitas sistem deteksi dini dan kesolidan aliansi trilateral. Pada akhirnya, rentetan peluncuran rudal ini membuktikan bahwa Korea Utara terus menguji batas kesabaran internasional di saat perhatian dunia terpecah.

Dengan demikian, masyarakat internasional memantau apakah Amerika Serikat akan mengerahkan aset strategis tambahan ke wilayah tersebut. Di tahun 2026, integrasi pertahanan udara antara Jepang dan Korea Selatan menjadi benteng utama dalam membendung ambisi militeristik Pyongyang yang kian agresif dan tidak terprediksi.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bos Hanania Travel Resmi Ditahan, Polda Metro Jaya Buka Posko Pengaduan Korban
Dua Pelaku Copet Turis Belanda di Tanah Abang Diciduk Polisi di Kos Palmerah
Misteri Kematian Wanita 20 Tahun di Hotel Jaksel Terungkap, Pelaku Dibekuk
Bareskrim Usut Dugaan Manipulasi Data Ekspor CPO, Kantor PT MMS Digeledah
Bareskrim Buru DPO Eddy Alias Awie, Pemilik New Zone Medan Diduga Bandar Narkoba
Prakiraan Cuaca Sabtu 30 Mei 2026: Jabodetabek Berawan, Hujan Ringan Mengintai
ORI 2021–2026 Dinilai Paling Bermasalah, Jimly Ungkap Ada Ketidakkompakan Pimpinan
Ditjenpas Beri Remisi untuk 560 Narapidana Lansia, Jawa Barat Terbanyak

Berita Terkait

Sabtu, 30 Mei 2026 - 14:14 WIB

Bos Hanania Travel Resmi Ditahan, Polda Metro Jaya Buka Posko Pengaduan Korban

Sabtu, 30 Mei 2026 - 13:57 WIB

Dua Pelaku Copet Turis Belanda di Tanah Abang Diciduk Polisi di Kos Palmerah

Sabtu, 30 Mei 2026 - 13:34 WIB

Misteri Kematian Wanita 20 Tahun di Hotel Jaksel Terungkap, Pelaku Dibekuk

Sabtu, 30 Mei 2026 - 11:04 WIB

Bareskrim Usut Dugaan Manipulasi Data Ekspor CPO, Kantor PT MMS Digeledah

Sabtu, 30 Mei 2026 - 10:18 WIB

Bareskrim Buru DPO Eddy Alias Awie, Pemilik New Zone Medan Diduga Bandar Narkoba

Berita Terbaru