Letjen Susan Coyle Jadi Kepala Angkatan Darat Perempuan Pertama Australia

Selasa, 14 April 2026 - 06:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pecah rekor kepemimpinan. Australia menunjuk Letnan Jenderal Susan Coyle sebagai Kepala Angkatan Darat perempuan pertama guna memimpin reformasi budaya. Dok: Istimewa.

Pecah rekor kepemimpinan. Australia menunjuk Letnan Jenderal Susan Coyle sebagai Kepala Angkatan Darat perempuan pertama guna memimpin reformasi budaya. Dok: Istimewa.

CANBERRA, POSNEWS.CO.ID – Struktur militer Australia mencatatkan tonggak sejarah baru dalam keadilan gender. Pemerintah menunjuk Letnan Jenderal Susan Coyle untuk memimpin Angkatan Darat Australia mulai bulan Juli mendatang.

Dalam konteks ini, Coyle menjadi perempuan pertama yang memegang posisi pimpinan tertinggi di salah satu cabang militer nasional. Oleh karena itu, penunjukan ini merupakan bagian dari perombakan besar-besaran di pucuk pimpinan Pasukan Pertahanan Australia (ADF) di tahun 2026.

Karier Susan Coyle: Dari 1987 Hingga Kursi Pimpinan

Letjen Susan Coyle (55) memiliki rekam jejak militer yang sangat panjang. Ia memulai pengabdiannya di militer pada tahun 1987. Selanjutnya, ia berhasil menduduki berbagai posisi komando senior, termasuk jabatan terakhirnya sebagai Kepala Kapabilitas Gabungan.

Perdana Menteri Anthony Albanese menyatakan bahwa kehadiran Coyle di pucuk pimpinan Angkatan Darat adalah momen yang sangat bersejarah. “Mulai Juli, kami akan memiliki Kepala Angkatan Darat perempuan pertama dalam 125 tahun,” tegas Albanese. Menteri Pertahanan Richard Marles menambahkan bahwa pencapaian Coyle menjadi inspirasi nyata bagi seluruh prajurit perempuan saat ini.

Baca Juga :  Stiker QR Code Judi Online Viral, Pramono Anung Minta Satpol PP Turun Tangan

Agenda Reformasi Budaya dan Target Inklusivitas

Penunjukan Coyle terjadi di tengah tekanan publik terhadap budaya kerja di internal militer. Akibatnya, ADF kini fokus meningkatkan jumlah perwira perempuan guna memperbaiki citra institusi. Saat ini, perempuan hanya mencakup sekitar 21 persen dari total personel ADF dan 18,5 persen dari peran kepemimpinan senior.

Oleh sebab itu, militer menetapkan target partisipasi perempuan sebesar 25 persen pada tahun 2030. Langkah ini dianggap mendesak setelah munculnya gugatan hukum perwakilan (class action) pada Oktober lalu. Gugatan tersebut menuduh ADF gagal melindungi ribuan personel perempuan dari serangan seksual dan diskriminasi sistemik selama bertahun-tahun.

Perombakan Struktur Kepemimpinan ADF

Selain posisi Kepala Angkatan Darat, pemerintah juga meresmikan pergantian pimpinan tertinggi angkatan bersenjata. Wakil Laksamana Mark Hammond akan naik jabatan menjadi Kepala ADF, menggantikan Laksamana David Johnston.

Baca Juga :  Langit Jakarta Muram, BMKG Prediksi Hujan Petir Landa Jabodetabek Seharian Penuh

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam hal ini, posisi yang Hammond tinggalkan akan diisi oleh Laksamana Muda Matthew Buckley. Buckley secara resmi menjabat sebagai Kepala Angkatan Laut yang baru. Sebagai hasilnya, restrukturisasi ini diharapkan mampu membawa penyegaran taktis dan manajerial bagi kedaulatan pertahanan Australia di tahun 2026.

Menanti Transformasi Militer

Masa depan profesionalisme militer Australia kini bergantung pada kepemimpinan baru di bawah Hammond dan Coyle. Pada akhirnya, tantangan terbesar bagi Coyle adalah memulihkan kepercayaan publik dan menuntaskan masalah pelecehan di barak militer.

Dengan demikian, dunia internasional memantau bagaimana Australia menyeimbangkan penguatan militer di Indo-Pasifik dengan pembersihan moral internal. Susan Coyle kini memegang mandat besar untuk membuktikan bahwa inklusivitas adalah kunci kekuatan pertahanan modern.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pedro Sánchez Desak Dunia Tinggalkan Pola Pikir Zero-Sum
Harga Minyak Tembus $100 Pasca-Pengumuman Blokade
China dan Eropa Desak Jalur Diplomasi Akhiri Krisis Selat Hormuz
Diplomasi Buntu di Pakistan: Negosiasi AS-Iran Gagal Capai Kesepakatan Damai Permanen
Perbaikan Jalan Tol Jakarta-Bandung hingga 18 April, Ini Titik Penutupan Lajurnya
Dua Wanita di Lebak Jadi Tersangka Injak Al-Qur’an, Polisi: Mengaku Salah dan Minta Maaf
Tersangka Narkoba Dilimpahkan Serentak, Bareskrim Serahkan ke Kejari Dumai dan Medan
AS Umumkan Blokade Total Pelabuhan Iran Pasca-Kegagalan Dialog

Berita Terkait

Selasa, 14 April 2026 - 12:45 WIB

Pedro Sánchez Desak Dunia Tinggalkan Pola Pikir Zero-Sum

Selasa, 14 April 2026 - 11:40 WIB

Harga Minyak Tembus $100 Pasca-Pengumuman Blokade

Selasa, 14 April 2026 - 11:26 WIB

China dan Eropa Desak Jalur Diplomasi Akhiri Krisis Selat Hormuz

Selasa, 14 April 2026 - 10:19 WIB

Diplomasi Buntu di Pakistan: Negosiasi AS-Iran Gagal Capai Kesepakatan Damai Permanen

Selasa, 14 April 2026 - 10:08 WIB

Perbaikan Jalan Tol Jakarta-Bandung hingga 18 April, Ini Titik Penutupan Lajurnya

Berita Terbaru

Diplomasi perspektif di Beijing. PM Spanyol Pedro Sánchez menyerukan pemahaman global yang lebih seimbang terhadap Tiongkok, menekankan bahwa kerja sama multilateral adalah kunci kemakmuran bersama di tengah dunia yang multipolar tahun 2026. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Pedro Sánchez Desak Dunia Tinggalkan Pola Pikir Zero-Sum

Selasa, 14 Apr 2026 - 12:45 WIB

Alarm ekonomi dunia. Harga minyak mentah melonjak 8 persen dan bursa saham Asia memerah setelah Presiden Donald Trump memerintahkan blokade total terhadap pelabuhan Iran di tengah kegagalan kesepakatan damai tahun 2026. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Harga Minyak Tembus $100 Pasca-Pengumuman Blokade

Selasa, 14 Apr 2026 - 11:40 WIB

Pecah kongsi global. Tiongkok, Uni Eropa, dan Rusia secara serentak menolak rencana blokade Selat Hormuz oleh Amerika Serikat, mendesak de-eskalasi militer demi stabilitas pasar energi dunia tahun 2026. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

China dan Eropa Desak Jalur Diplomasi Akhiri Krisis Selat Hormuz

Selasa, 14 Apr 2026 - 11:26 WIB