Amerika Serikat Resmi Blokade Selat Hormuz guna Tekan Harga Bensin dan Nuklir Iran

Rabu, 15 April 2026 - 20:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Negosiasi yang masih alot. Presiden Donald Trump menegaskan draf damai sepihak Iran belum memuaskan Washington, meski Tehran mendesak pencabutan blokade laut di Selat Hormuz. Dok: Istimewa.

Negosiasi yang masih alot. Presiden Donald Trump menegaskan draf damai sepihak Iran belum memuaskan Washington, meski Tehran mendesak pencabutan blokade laut di Selat Hormuz. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Ketegangan di Timur Tengah memasuki babak baru yang sangat berisiko. Militer Amerika Serikat resmi meluncurkan blokade angkatan laut terhadap seluruh aktivitas pelabuhan di Iran mulai Senin siang waktu setempat.

Dalam konteks ini, Presiden Donald Trump mengonfirmasi operasi militer tersebut sesaat sebelum pukul 13.00 di Washington. Langkah ini merupakan respon langsung atas kegagalan negosiasi maraton antara delegasi Washington dan Teheran selama akhir pekan lalu.

Kegagalan Dialog Islamabad dan Isu Nuklir

Perundingan di Pakistan gagal menjembatani perbedaan tajam mengenai program nuklir Iran. Amerika Serikat menuntut Iran menerima moratorium pengayaan uranium selama 20 tahun. Namun, Teheran hanya menawarkan penangguhan maksimal selama lima tahun.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Oleh karena itu, Trump memilih untuk meningkatkan tekanan fisik melalui pengepungan maritim. “Kita tidak bisa membiarkan sebuah negara melakukan pemerasan atau pemerasan terhadap dunia,” tegas Trump di Gedung Putih. Ia meyakini bahwa “orang-orang yang tepat” di Iran akan segera menghubungi Washington guna mencari kesepakatan baru di tengah tekanan ekonomi ini.

Baca Juga :  One Way Nasional Resmi Berlaku, Arus Mudik Trans Jawa dari Japek hingga Kalikangkung

Target Ekonomi: Menurunkan Harga Bensin Dunia

Salah satu tujuan utama dari blokade ini adalah pemulihan stabilitas pasar energi. Penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran sejak akhir Februari lalu telah melambungkan harga bensin dan bahan pangan di seluruh dunia. Akibatnya, administrasi Trump menghadapi tekanan domestik yang besar akibat inflasi energi.

Dalam hal ini, Trump memerintahkan Komando Pusat AS (CENTCOM) untuk memberlakukan blokade secara tidak memihak. Militer akan mencegat kapal dari negara mana pun yang mencoba memasuki atau meninggalkan pelabuhan Iran di Teluk Arab dan Teluk Oman. Strategi ini diharapkan mampu memutus napas ekonomi Teheran sekaligus menjamin jalur navigasi internasional kembali terbuka.

Ancaman Penghancuran dan Respon Garda Revolusi

Retorika militer Washington kian memanas seiring dimulainya operasi laut tersebut. Melalui media sosial, Trump memberikan peringatan keras bahwa kapal perang Iran yang mencoba mendekati armada blokade AS akan “segera dihancurkan”.

Baca Juga :  Pemprov Jakarta Buka Pendaftaran KJMU Tahap II 2025, Kuota 3.466 Mahasiswa Baru

Meskipun demikian, pihak Iran merespons ancaman tersebut dengan nada yang tak kalah agresif. Garda Revolusi Iran (IRGC) menegaskan bahwa setiap pendekatan kapal militer asing ke Selat Hormuz adalah bentuk pelanggaran nyata terhadap gencatan senjata dua pekan yang disepakati sebelumnya. Oleh sebab itu, IRGC bersumpah akan menangani setiap pergerakan militer AS dengan tindakan yang sangat keras.

Gencatan Senjata di Ambang Keruntuhan

Masa depan stabilitas regional kini berada dalam ketidakpastian yang sangat tinggi. Pada akhirnya, blokade laut ini berisiko memicu konfrontasi militer terbuka dan mengakhiri masa jeda pertempuran yang baru saja dimulai pekan lalu.

Dengan demikian, masyarakat internasional memantau dengan cemas apakah diplomasi masih memiliki ruang di tengah kepungan kapal perang. Di tahun 2026 yang penuh gejolak ini, keberhasilan blokade AS dalam memaksa Iran berkompromi akan menentukan apakah krisis energi global dapat segera berakhir atau justru memburuk menjadi perang total.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bassirou Diomaye Faye Meluncurkan Partai Baru Kiiraay
Brasil Tolak Visa Pejabat AS yang Ingin Awasi Pemilu
Pasangan Afrika Selatan Saksikan Kumpulan 299 Paus
Dua Pria Terjun Bebas dari Space Needle Seattle
Unggahan Medsos Soroti Budaya Kerja Ekstrem Jepang
Vietnam Siapkan Aturan Ketat Larang Anak di Bawah 16 Tahun
Warga al-Obeid Hadapi Serangan Drone dan Pemerkosaan
Kanada Batal Gelar Acara Bersama Peresmian Jembatan

Berita Terkait

Minggu, 26 Juli 2026 - 20:30 WIB

Bassirou Diomaye Faye Meluncurkan Partai Baru Kiiraay

Minggu, 26 Juli 2026 - 20:00 WIB

Brasil Tolak Visa Pejabat AS yang Ingin Awasi Pemilu

Minggu, 26 Juli 2026 - 19:30 WIB

Pasangan Afrika Selatan Saksikan Kumpulan 299 Paus

Minggu, 26 Juli 2026 - 19:00 WIB

Dua Pria Terjun Bebas dari Space Needle Seattle

Minggu, 26 Juli 2026 - 18:51 WIB

Unggahan Medsos Soroti Budaya Kerja Ekstrem Jepang

Berita Terbaru