WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Fondasi aliansi transatlantik NATO mengalami guncangan internal yang hebat. Sebuah dokumen rahasia Pentagon memaparkan rencana strategis baru. Washington ingin menghukum negara anggota yang tidak kooperatif dalam perang terhadap Iran.
Dalam konteks ini, bocoran email mencerminkan kekecewaan mendalam terhadap administrasi Donald Trump. Oleh karena itu, Washington kini mempertimbangkan langkah-langkah punitif. Langkah ini bertujuan memastikan kontribusi nyata setiap anggota NATO bagi keamanan global.
Sengketa Hak ABO: Dasar Loyalitas NATO
Pilar utama perselisihan ini berakar pada penolakan sejumlah negara Eropa. Mereka enggan memberikan hak lintas udara dan penggunaan pangkalan militer bagi armada AS. Seorang pejabat Pentagon menegaskan pentingnya standar minimum ABO bagi setiap anggota aliansi.
Secara khusus, Washington membidik Spanyol di bawah kepemimpinan sosialis. Madrid melarang penggunaan pangkalan Morón dan pangkalan laut Rota untuk menyerang Iran. Akibatnya, Pentagon mengusulkan opsi penangguhan Spanyol dari posisi strategis di birokrasi NATO. Langkah ini berfungsi sebagai peringatan keras bagi Madrid.
Tekanan bagi London: Isu Kedaulatan Kepulauan Falkland
Langkah paling mengejutkan adalah opsi peninjauan kembali kedaulatan Kepulauan Falkland. Dalam hal ini, Washington berniat memanfaatkan isu sensitif tersebut sebagai alat tawar politik. Target utamanya adalah Perdana Menteri Keir Starmer.
Terlebih lagi, Presiden Donald Trump sebelumnya melontarkan kritik pedas kepada Starmer. Ia menyebut pemimpin Inggris itu bukan sosok Winston Churchill. Trump kesal karena Inggris awalnya menolak penggunaan pangkalan udara di wilayah konflik. Presiden Argentina Javier Milei kini merupakan sekutu dekat Trump. Oleh sebab itu, perubahan posisi AS terkait Falkland akan memukul diplomasi London secara mematikan.
Narasi “Macan Kertas” dan Ancaman Penarikan Diri
Sekretaris Pers Pentagon, Kingsley Wilson, mengonfirmasi pencarian opsi penguatan aliansi. Pemerintah ingin memastikan sekutu tidak hanya menjadi “macan kertas”. Selain itu, retorika penarikan diri Amerika Serikat dari NATO kembali menguat di Gedung Putih.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menteri Pertahanan Pete Hegseth menambahkan bahwa perang Iran menyingkap kerentanan sistemik di Eropa. Menurutnya, rudal Iran mampu menjangkau daratan Eropa. Namun, para pemimpin benua tersebut tetap ragu untuk berdiri bersama Washington. “Aliansi tidak akan kuat jika anggota lain enggan mendampingi Anda saat Anda membutuhkan mereka,” tegas Hegseth.
Respon Eropa: Antara Kedaulatan dan Aliansi
Inggris dan Prancis berkukuh pada kedaulatan mereka. Mereka menilai keterlibatan dalam blokade laut AS sama dengan menyatakan perang secara resmi. Meskipun demikian, mereka bersedia menjaga navigasi di Selat Hormuz setelah gencatan senjata permanen tercapai.
Pada akhirnya, kedaulatan kebijakan luar negeri setiap negara bertabrakan dengan prinsip “America First”. Dengan demikian, perdebatan internal di Pentagon mempertaruhkan masa depan NATO. Konflik ini memuncak di tengah berkecamuknya api peperangan di Timur Tengah.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















