LONDON, POSNEWS.CO.ID – Cerita dan puisi untuk anak-anak memiliki sejarah yang sangat panjang. Tradisi ini berakar dari lagu pengantar tidur pada zaman Romawi. Selain itu, beberapa permainan dan rima anak-anak kuno masih bertahan hingga saat ini. Namun, sejarah literatur anak dalam bentuk cetak baru benar-benar berkembang secara spesifik beberapa abad kemudian.
Sebelum tahun 1700, penerbit jarang memproduksi buku khusus untuk kaum muda. Anak-anak biasanya membaca literatur dewasa yang tersedia di rumah. Mereka menyukai fabel Aesop, cerita peri, atau balada populer. Pada masa itu, hanya sedikit buku instruksional yang membantu kemampuan membaca atau menanamkan moralitas tertentu bagi anak-anak.
Abad ke-18: Kelahiran Buku untuk Kesenangan
Keadaan mulai berubah drastis pada pertengahan abad ke-18. Saat itu, banyak orang tua mulai mendukung minat baca anak-anak mereka. Oleh karena itu, penerbit mulai menspesialisasikan diri pada buku yang bertujuan memberikan kesenangan.
Thomas Boreham memproduksi Cajanus pada tahun 1742 di London. Selanjutnya, John Newbery merilis A Little Pretty Pocket Book yang sangat fenomenal pada tahun 1744. Buku ini berisi rima, cerita, dan permainan anak-anak. Menariknya, Newbery juga memberikan hadiah gratis berupa bola atau bantalan jarum. Formula kemenangan ini segera menyebar luas bahkan hingga dipiratkan di Amerika.
Pertarungan Antara Kesenangan dan Pendidikan Moral
Namun, keceriaan tersebut tidak bertahan selamanya. Pemikiran Rousseau dalam Emile (1762) sangat memengaruhi para kritikus saat itu. Rousseau menganggap buku anak-anak selain Robinson Crusoe sebagai pengalihan yang berbahaya. Akibatnya, sastra anak kembali menjadi sarana instruksional yang kaku.
Ibu Sarah Trimmer muncul sebagai suara vokal yang mengecam cerita peri karena dianggap absurd. Melalui majalah The Guardian of Education, ia mendesak agar buku anak selalu memberikan teladan kesopanan. Meskipun demikian, anak-anak sering kali tetap menemukan cara untuk mendapatkan hiburan dari teks-teks moralis yang paling keras sekalipun.
Abad ke-19 dan Kebangkitan Cerita Rakyat
Pukulan telak bagi genre “buku yang memperbaiki moral” datang dari minat pada cerita rakyat. Grimm Bersaudara menerbitkan kumpulan cerita peri yang segera populer setelah terjemahan bahasa Inggris muncul pada tahun 1823. Selain itu, James Orchard Halliwell menerbitkan rima anak-anak untuk masyarakat cerita rakyat pada tahun 1842.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Karya-karya ini memicu gelombang edisi baru yang lebih berpusat pada kebutuhan anak-anak. Penulis mulai menyesuaikan cerita dengan keterbatasan pengalaman hidup pembaca muda. Selanjutnya, akses terhadap buku dengan karakter yang mudah membuat anak berempati menjadi faktor penentu minat baca mereka.
Pasca-Perang: Dari Dunia Mimpi ke Realitas Sosial
Era 1930-an mencatat puncak sastra anak yang bersifat protektif. Penulis seperti Enid Blyton dan Richmal Crompton menggambarkan petualangan yang aman bagi anak-anak. Dalam dunia mereka, hal buruk tidak akan pernah terjadi pada karakter utama. Bahkan, pecahnya perang besar tidak memengaruhi narasi tertutup tersebut.
Reaksi terhadap “dunia mimpi” ini tidak terelakkan setelah Perang Dunia II berakhir. Penulis mulai mengeksplorasi area minat baru seiring berkembangnya perpustakaan anak. Mereka memindahkan latar cerita dari dunia kelas menengah ke lingkungan yang lebih beragam. Singkatnya, para penulis modern kini berupaya menghapus prasangka sosial dalam literatur mereka.
Berbagi Sastra Lintas Generasi
Sastra anak kini tidak lagi menjadi penghalang antara masa kecil dan kedewasaan. Sebaliknya, karya-karya kontemporer sering kali mendapatkan rekomendasi untuk dibaca oleh orang dewasa maupun anak-anak.
Dengan demikian, sastra anak telah kembali pada keyakinan abad ke-19 bahwa cerita yang baik dapat dinikmati oleh semua generasi. Di tahun 2026 ini, fokus utama penerbitan tetap pada pencapaian positif literatur yang mampu mencerminkan realitas dunia tanpa menghilangkan keajaiban imajinasi.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












