Tiga Wanita Australia Didakwa Atas Kasus Perbudakan Yazidi

Jumat, 8 Mei 2026 - 15:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Konsekuensi dari kekhalifahan. Tiga wanita Australia menghadapi ancaman penjara puluhan tahun setelah kembali dari kamp pengungsian Suriah. Dua di antaranya dituduh membeli budak wanita Yazidi seharga puluhan ribu dolar. Dok:   (Joel Carrett/AAP Image via AP)

Konsekuensi dari kekhalifahan. Tiga wanita Australia menghadapi ancaman penjara puluhan tahun setelah kembali dari kamp pengungsian Suriah. Dua di antaranya dituduh membeli budak wanita Yazidi seharga puluhan ribu dolar. Dok: (Joel Carrett/AAP Image via AP)

MELBOURNE, POSNEWS.CO.ID – Otoritas penegak hukum Australia mengambil tindakan tegas terhadap warga negaranya. Mereka mengincar individu yang terafiliasi dengan kelompok militan di Timur Tengah. Tiga wanita Australia kini menghadapi dakwaan perbudakan dan terorisme. Kasus ini mencuat segera setelah mereka kembali dari Suriah.

Rombongan yang terdiri dari empat wanita dan sembilan anak-anak mendarat pada hari Kamis. Mereka menggunakan dua penerbangan Qatar Airways dari Doha. Sebelumnya, pemerintah Australia telah memberikan peringatan keras mengenai konsekuensi hukum. Namun, para wanita tersebut tetap memutuskan pulang dari Kamp Roj yang terisolasi.

Skandal Perbudakan Yazidi Senilai $10.000

Kasus paling mencolok menyeret Kawsar Abbas (53) dan putrinya, Zeinab Ahmed (31). Polisi menuduh keluarga tersebut secara sengaja membeli wanita etnis Yazidi. Transaksi senilai $10.000 (sekitar Rp160 juta) itu terjadi saat ISIS menguasai Suriah pada 2014.

Oleh karena itu, jaksa penuntut di Melbourne menjerat Abbas dengan empat dakwaan kejahatan terhadap kemanusiaan. Sementara itu, putrinya menghadapi dua dakwaan terkait perbudakan. Setiap dakwaan membawa ancaman hukuman maksimal 25 tahun penjara. Polisi mengeklaim keluarga tersebut menyekap budak di rumah mereka selama masa kekhalifahan ISIS.

Baca Juga :  Trump Tarik AS dari 66 Organisasi Internasional Sekaligus

Penangkapan di Bandara Sydney: Keanggotaan Teroris

Di lokasi terpisah, polisi menangkap seorang wanita berusia 32 tahun di Bandara Sydney. Otoritas mendakwanya atas tuduhan menjadi anggota organisasi teroris. Ia juga diduga memasuki wilayah kendali kelompok terlarang tersebut.

Laporan kepolisian menyebut wanita ini menyusul pasangannya ke Suriah beberapa tahun lalu. Australia sendiri telah melarang kunjungan ke Raqqa tanpa alasan sah sejak 2014 hingga 2017. Jika terbukti bersalah, ia terancam hukuman 10 tahun penjara untuk setiap poin dakwaan.

Sikap Keras Pemerintah dan Nasib di Kamp Roj

Pemerintah Australia secara konsisten mengutuk tindakan para wanita tersebut. Otoritas menilai mereka telah mendukung militan ISIS. Bahkan, Canberra menolak memberikan bantuan teknis atau finansial dalam proses kepulangan mereka.

Baca Juga :  Mengapa Penurunan Populasi Burung di Amerika Serikat Kian Mempercepat?

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Langkah ini bertujuan memberikan sinyal bahwa pemerintah tidak menoleransi dukungan terhadap terorisme. Saat ini, masih ada 21 warga Australia lainnya yang tertahan di Kamp Roj. Para pendukung berencana melakukan pemulangan mandiri dalam waktu dekat. Namun, pemerintah melarang salah satu wanita masuk karena ia berisiko tinggi bagi keamanan nasional.

Kebijakan Hukum dan Perlindungan Anak

Australia memperkenalkan undang-undang eksklusi pada tahun 2019. Aturan ini bertujuan mencegah kembalinya simpatisan ISIS yang kalah perang. Perintah tersebut tidak berlaku bagi anak-anak di bawah usia 14 tahun. Meski begitu, pemerintah berkomitmen tidak memisahkan anak-anak dari ibu mereka selama proses hukum.

Singkatnya, kepulangan kelompok ini menjadi ujian besar bagi sistem peradilan Australia. Dunia kini memantau pembuktian kekejaman mereka di Suriah. Polisi federal sendiri telah menyelidiki keterlibatan warga Australia dalam konflik tersebut selama lebih dari satu dekade.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dua Pengedar Ditangkap, Polisi Sita 16 Kg Sabu dari Ban Mobil di Bojongsari Depok
Marco Rubio dan Paus Leo XIV Berkomitmen Perbaiki Hubungan
AS dan Iran Terlibat Kontak Senjata Sengit di Selat Hormuz
Erupsi Gunung Dukono Hari Ini: Puluhan Pendaki Tersesat dan Terluka, 2 WNA Dievakuasi
Kapal Selam Domestik Taiwan Narwhal Sukses Uji Tembak Torpedo
Hati-Hati Modus Penipuan Nobar Piala Dunia 2026, Polri Siapkan Hotline 110
CFD Jakarta Mulai Jam 05.30 WIB per 1 Juni 2026, Rasuna Said Jadi Lokasi Baru
Kebakaran Jagakarsa Tewaskan Anggota BPK Haerul Saleh, Diduga Dipicu Sisa Tiner Renovasi

Berita Terkait

Jumat, 8 Mei 2026 - 18:13 WIB

Dua Pengedar Ditangkap, Polisi Sita 16 Kg Sabu dari Ban Mobil di Bojongsari Depok

Jumat, 8 Mei 2026 - 17:50 WIB

Marco Rubio dan Paus Leo XIV Berkomitmen Perbaiki Hubungan

Jumat, 8 Mei 2026 - 16:43 WIB

AS dan Iran Terlibat Kontak Senjata Sengit di Selat Hormuz

Jumat, 8 Mei 2026 - 15:29 WIB

Tiga Wanita Australia Didakwa Atas Kasus Perbudakan Yazidi

Jumat, 8 Mei 2026 - 15:26 WIB

Erupsi Gunung Dukono Hari Ini: Puluhan Pendaki Tersesat dan Terluka, 2 WNA Dievakuasi

Berita Terbaru

Ilustrasi, Misi rekonsiliasi di Takhta Suci. Sekretaris Negara AS Marco Rubio bertemu dengan Paus Leo XIV guna meredakan perselisihan antara Washington dan Vatikan terkait kebijakan perang Iran dan imigrasi di tahun 2026. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Marco Rubio dan Paus Leo XIV Berkomitmen Perbaiki Hubungan

Jumat, 8 Mei 2026 - 17:50 WIB

Ujian stabilitas Teluk. Amerika Serikat dan Iran saling melepaskan tembakan dalam insiden paling serius sejak gencatan senjata April lalu, memicu kekhawatiran akan runtuhnya upaya damai saat Washington menanti respons nuklir Teheran. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

AS dan Iran Terlibat Kontak Senjata Sengit di Selat Hormuz

Jumat, 8 Mei 2026 - 16:43 WIB

Konsekuensi dari kekhalifahan. Tiga wanita Australia menghadapi ancaman penjara puluhan tahun setelah kembali dari kamp pengungsian Suriah. Dua di antaranya dituduh membeli budak wanita Yazidi seharga puluhan ribu dolar. Dok:   (Joel Carrett/AAP Image via AP)

INTERNASIONAL

Tiga Wanita Australia Didakwa Atas Kasus Perbudakan Yazidi

Jumat, 8 Mei 2026 - 15:29 WIB