WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Pejabat kesehatan di berbagai negara kini berada dalam siaga tinggi guna membendung potensi penyebaran hantavirus. Upaya ini muncul sebagai respons atas wabah mematikan di atas kapal pesiar yang telah merenggut tiga nyawa penumpang.
Meskipun hantavirus umumnya tidak mudah menular antarmanusia, pihak berwenang tidak ingin mengambil risiko. Oleh karena itu, mereka melakukan pelacakan kontak secara agresif untuk mengidentifikasi siapa saja yang pernah berinteraksi dengan korban meninggal atau pasien yang sakit selama pelayaran berlangsung.
Karakteristik Virus: Ancaman Strain Andes
Secara umum, manusia terinfeksi hantavirus melalui penghirupan residu kotoran pengerat yang terkontaminasi. Namun, wabah pada kapal pesiar ini melibatkan virus strain Andes yang berasal dari Amerika Selatan. Para ilmuwan meyakini bahwa strain ini merupakan salah satu dari sedikit jenis hantavirus yang mampu menyebar antarmanusia dalam kasus langka.
“Virus dapat berubah, dan kami mencoba mempelajari bagaimana tepatnya virus ini menyebar,” ujar seorang ahli penyakit menular. Saat ini, terdapat lima kasus yang terkonfirmasi, namun jumlah orang yang terpapar diprediksi jauh lebih besar. Meskipun demikian, sekitar 140 orang yang masih berada di atas kapal menuju Kepulauan Kanari dilaporkan tidak menunjukkan gejala sakit.
Pelacakan Internasional: Dari St. Helena ke Singapura
Otoritas di St. Helena, wilayah vulkanik Inggris di Atlantik Selatan, memantau sejumlah kecil orang yang terkategori sebagai “kontak risiko tinggi”. Mereka mewajibkan individu tersebut untuk menjalani isolasi selama 45 hari. Selain itu, Inggris melaporkan dua mantan penumpang yang terbang pulang di tengah perjalanan kini sedang mengisolasi diri secara mandiri.
Di Asia, otoritas kesehatan Singapura memantau dua pria yang turun di St. Helena sebelum terbang ke Afrika Selatan dan kembali ke Singapura. Kedua pria tersebut kini menjalani tes hantavirus dan berada dalam ruang isolasi di Pusat Nasional untuk Penyakit Menular (NCID). Selanjutnya, otoritas di Texas, Amerika Serikat, berhasil menjangkau dua orang yang meninggalkan kapal pada 24 April. Keduanya menyatakan tidak memiliki gejala namun berkomitmen untuk melakukan pemeriksaan suhu tubuh setiap hari.
Jejak Awal di Ushuaia, Argentina
Kementerian Kesehatan Argentina menduga kasus pertama bermula dari sebuah perjalanan pengamatan burung (birdwatching) di kota selatan Ushuaia. Tim ilmuwan dari Institut Malbrán berencana untuk segera bertolak ke wilayah tersebut dalam beberapa hari mendatang guna melakukan investigasi lapangan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam hal ini, para ilmuwan sedang menganalisis genetika virus untuk melihat apakah telah terjadi mutasi yang membuatnya lebih mudah menular. Dr. Jeanne Marrazzo dari Infectious Diseases Society of America menjelaskan bahwa penularan kemungkinan besar terjadi melalui partikel cairan kecil yang keluar saat orang yang terinfeksi berbicara, batuk, atau bersin.
Menghadapi Ketidakpastian Transmisi
Proses pelacakan kontak ini menghadapi tantangan besar karena mobilitas manusia yang sangat tinggi di tahun 2026. Singkatnya, keberhasilan pencegahan epidemi ini bergantung pada kepatuhan individu untuk melaporkan gejala sekecil apa pun kepada otoritas medis.
Masyarakat internasional kini menanti hasil analisis laboratorium mengenai tingkat penularan virus ini. Dengan demikian, koordinasi lintas negara tetap menjadi kunci utama dalam memastikan bahwa krisis di atas kapal MV Hondius tidak meluas menjadi ancaman kesehatan publik yang tidak terkendali di daratan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












