WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Amerika Serikat terus memperkuat serangan finansial terhadap infrastruktur ekonomi Iran. Departemen Keuangan AS secara resmi menjatuhkan sanksi kepada 12 individu dan perusahaan. Mereka terbukti membantu pengiriman minyak mentah ilegal ke pasar China. Selanjutnya, langkah strategis ini mencakup pembekuan aset di Hong Kong, Uni Emirat Arab, dan Oman. Oleh karena itu, Washington berupaya melumpuhkan finansial Teheran di tengah krisis energi global.
Target Sanksi: Membongkar Perusahaan Cangkang IRGC
Kantor Pengawasan Aset Asing (OFAC) mengidentifikasi jaringan ini sebagai proksi utama Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Bahkan, penyelidikan mengungkap penggunaan serangkaian perusahaan depan guna menyamarkan asal-usul kargo minyak. Menteri Keuangan Scott Bessent menegaskan bahwa pemerintah tidak akan membiarkan Teheran membiayai militernya. Lebih lanjut, Treasury akan memutus hubungan rezim Iran dari jaringan keuangan global. Sanksi ini juga menargetkan perusahaan Golden Globe asal Turki sebagai kelanjutan proses hukum sebelumnya.
Daftar Perusahaan yang Terkena Sanksi
Otoritas AS merinci sembilan perusahaan yang kini masuk dalam daftar hitam:
- Hong Kong: Hong Kong Blue Ocean Ltd, Hong Kong Sanmu Ltd, Jiandi HK Ltd, dan Max Honor International Trade Co Ltd.
- UEA (Dubai/Sharjah): Ocean Allianz Shipping LLC, Atic Energy FZE, Blanca Goods Wholesaler LLC, dan Universal Fortune Trading LLC.
- Oman: Zeus Logistics Group.
Selain itu, Departemen Luar Negeri AS mengumumkan imbalan hadiah sebesar $15 juta (sekitar Rp240 miliar). Uang tersebut akan diberikan kepada siapa pun yang memberikan informasi akurat untuk melumpuhkan keuangan IRGC.
Diplomasi di Bawah Bayang-Bayang Sanksi
Pengumuman sanksi ini mengandung dimensi politik yang sangat tajam. Sebab, tindakan tersebut muncul menjelang kunjungan Presiden Donald Trump ke Beijing. Trump kabarnya akan mendesak Xi Jinping agar berhenti memberikan bantuan ekonomi bagi Teheran. Maka dari itu, pembongkaran jaringan minyak ini menjadi posisi tawar tambahan bagi Amerika Serikat. Tujuannya adalah mendesak pembukaan kembali Selat Hormuz secara permanen. Meskipun begitu, China tetap menjadi pembeli utama minyak mentah Iran hingga saat ini.
Kesimpulan: Menghambat Pendanaan Terorisme
Bagi Washington, minyak merupakan instrumen utama pembiayaan milisi di Timur Tengah. Singkatnya, penindakan di Hong Kong dan Dubai ini mengirimkan pesan risiko yang jelas bagi industri pelayaran. Kemudian, masyarakat internasional memantau respons Beijing terhadap penargetan perusahaan di wilayahnya. Dengan demikian, pekan ini diprediksi menjadi babak paling tegang dalam diplomasi energi global di tengah upaya perdamaian yang buntu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












