Demokrat Berjuang Pulihkan Dapil Virginia di Mahkamah Agung

Selasa, 12 Mei 2026 - 16:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Partai Demokrat mengajukan banding ke Mahkamah Agung Amerika Serikat guna memulihkan peta daerah pemilihan Virginia yang baru saja dibatalkan. Dok: (AP Photo/Julia Demaree Nikhinson)

Partai Demokrat mengajukan banding ke Mahkamah Agung Amerika Serikat guna memulihkan peta daerah pemilihan Virginia yang baru saja dibatalkan. Dok: (AP Photo/Julia Demaree Nikhinson)

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Partai Demokrat kini menggantungkan harapan terakhir mereka pada Mahkamah Agung AS. Mereka berupaya menghentikan pemberlakuan putusan pengadilan Virginia yang membatalkan peta daerah pemilihan baru yang sangat menguntungkan bagi partai tersebut.

Demokrat mengajukan banding darurat ini hanya beberapa hari setelah Mahkamah Agung Virginia menjatuhkan putusan mengejutkan. Pengadilan negara bagian tersebut membatalkan amandemen konstitusi yang sebenarnya baru saja pemilih sahkan melalui selisih suara tipis pada bulan lalu.

Kontroversi Prosedur: “Hari Pemilihan” vs “Pemungutan Suara Awal”

Mahkamah Agung Virginia mengeluarkan putusan 4-3 yang menyatakan bahwa proses penempatan amandemen pada surat suara tidak sah. Hakim menyimpulkan bahwa badan legislatif pimpinan Demokrat terlambat memulai proses tersebut, yakni saat pemungutan suara awal (early voting) untuk pemilu musim gugur lalu sudah berjalan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun demikian, pengacara Partai Demokrat dan Jaksa Agung Jay Jones memberikan argumen tandingan. Mereka berpendapat bahwa secara hukum, pemilihan belum benar-benar terjadi hingga “Hari Pemilihan” itu sendiri tiba. Demokrat menilai pengadilan telah mengabaikan kehendak rakyat yang telah meratifikasi amandemen tersebut. “Keputusan ini menghasilkan kerusakan yang sangat mendalam dan bersifat segera,” tulis tim hukum Demokrat dalam dokumen bandingnya.

Baca Juga :  Tawuran Picu Kericuhan, Mobil Polisi Jadi Sasaran Lemparan Warga

Dampak Strategis: Kehilangan 4 Kursi Kunci

Langkah hukum ini menunjukkan tingkat urgensi yang tinggi bagi kubu Demokrat. Pembatalan peta di Virginia secara otomatis menghilangkan empat kursi “yang dapat dimenangkan” (winnable) bagi Demokrat di DPR AS.

Kondisi ini memperburuk posisi Demokrat dalam perlombaan redistrikting pertengahan dekade yang bermula sejak tahun lalu. Sebagai catatan, Presiden Donald Trump sebelumnya mendesak negara-negara bagian pimpinan Republik untuk menggambar ulang batas wilayah mereka. Pihak Republik mengeklaim telah mendapatkan keuntungan lebih dari selusin kursi melalui proses redistrikting nasional, dan Demokrat merancang peta Virginia semula guna mengimbangi kerugian tersebut.

Tantangan Hukum dan Politisasi Mahkamah Agung

Pakar hukum menilai banding ini sebagai langkah yang berisiko tinggi. Mahkamah Agung AS biasanya menghindari campur tangan terhadap interpretasi pengadilan negara bagian mengenai konstitusi mereka sendiri. Sebagai contoh, pada tahun 2023, SCOTUS menolak permintaan Republik Carolina Utara untuk membatalkan putusan pengadilan negara bagian terkait peta pemilihan.

Baca Juga :  AS Gempur ISIS di Nigeria, Balas Pembantaian Umat Kristen

Meskipun demikian, kasus ini memberikan amunisi politik bagi Demokrat dalam tahun pemilihan 2026. Mereka berencana menggunakan narasi mengenai Mahkamah Agung yang bias. Terutama setelah SCOTUS baru-baru ini mengizinkan Republik di Louisiana melanjutkan redistrikting meski telah menghapus distrik mayoritas kulit hitam, sebuah langkah yang memicu tuduhan gerrymandering rasial yang inkonstitusional.

Menanti Putusan Final di Capitol Hill

Perselisihan di Virginia merupakan respons terhadap penguatan kursi Republik di Texas, Missouri, dan Ohio. Amandemen Virginia semula sempat membuat persaingan redistrikting nasional menjadi imbang sebelum keputusan pengadilan membatalkannya pekan lalu.

Singkatnya, masa depan kendali DPR AS tahun 2026 kini bergantung pada keputusan para hakim agung di Washington. Masyarakat internasional kini memantau apakah sistem checks and balances Amerika Serikat mampu memberikan kepastian hukum di tengah perebutan kekuasaan yang kian sengit antara kedua partai.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Taiwan Menyambut Dua Jet Tempur F-16V Pertama
Gelombang Unjuk Rasa Siswa Tutup Ratusan Sekolah di Prancis
Menlu Jepang Toshimitsu Motegi Desak Iran Jamin Keamanan
Otoritas Bangkok Tetapkan Status Bencana di 50 Distrik
Polisi Afrika Selatan Temukan Jenazah Wanita Ke-10 di Ekurhuleni
Warga Madrid Gelar Demonstrasi Tuntut Reformasi Perumahan
Ledakan Gas Ambrukkan Bangunan di Athena, Tewaskan 6 Orang
Kolombia Ekstradisi Gembong Narkoba Geovany Andres Rojas

Berita Terkait

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 11:30 WIB

Taiwan Menyambut Dua Jet Tempur F-16V Pertama

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 10:33 WIB

Gelombang Unjuk Rasa Siswa Tutup Ratusan Sekolah di Prancis

Jumat, 2 Oktober 2026 - 07:50 WIB

Menlu Jepang Toshimitsu Motegi Desak Iran Jamin Keamanan

Minggu, 27 September 2026 - 23:00 WIB

Otoritas Bangkok Tetapkan Status Bencana di 50 Distrik

Minggu, 27 September 2026 - 22:00 WIB

Polisi Afrika Selatan Temukan Jenazah Wanita Ke-10 di Ekurhuleni

Berita Terbaru

Taiwan menerima dua jet tempur F-16V Block 70 pertama dari Amerika Serikat untuk memperkuat armada pertahanan udara. Simak informasi selengkapnya. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Taiwan Menyambut Dua Jet Tempur F-16V Pertama

Sabtu, 3 Okt 2026 - 11:30 WIB

Pemerintah Prancis meliburkan 400 sekolah akibat aksi unjuk rasa siswa yang berujung rusuh di berbagai kota. Simak laporan selengkapnya. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Gelombang Unjuk Rasa Siswa Tutup Ratusan Sekolah di Prancis

Sabtu, 3 Okt 2026 - 10:33 WIB