Putin Kunjungi China Rayakan 25 Tahun Perjanjian Persahabatan

Selasa, 19 Mei 2026 - 19:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kemitraan strategis tanpa batas. Presiden Vladimir Putin memulai kunjungan dua hari ke China untuk mempererat hubungan ekonomi dan politik dengan Presiden Xi Jinping, menandai perayaan seperempat abad traktat persahabatan kedua negara. Dok: Istimewa.

Kemitraan strategis tanpa batas. Presiden Vladimir Putin memulai kunjungan dua hari ke China untuk mempererat hubungan ekonomi dan politik dengan Presiden Xi Jinping, menandai perayaan seperempat abad traktat persahabatan kedua negara. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Hubungan Rusia dan China kini mencapai level yang belum pernah terjadi sebelumnya. Presiden Vladimir Putin memulai kunjungan kenegaraan selama dua hari ke China pada Selasa (19/5/2026). Ia menemui Presiden Xi Jinping guna memperkuat kemitraan strategis di tengah dinamika geopolitik tahun 2026.

Selanjutnya, Putin menyampaikan rasa optimisme dalam pidato video sebelum keberangkatannya. Ia menyoroti pentingnya kunjungan rutin dan dialog tingkat tinggi antar kedua negara. Oleh karena itu, pertemuan ini menjadi integral dalam membuka potensi kemitraan yang tak terbatas.

Peringatan 25 Tahun Perjanjian Persahabatan

Kunjungan ini bertepatan dengan momen bersejarah bagi kedua negara. Moskow dan Beijing merayakan 25 tahun penandatanganan Perjanjian Persahabatan dan Kerja Sama tahun 2001. Maka dari itu, Putin menilai perjanjian ini telah meletakkan fondasi kokoh bagi hubungan strategis yang sangat dinamis.

Lebih lanjut, kedua pemimpin berkomitmen untuk memperdalam kolaborasi di berbagai bidang. Mereka aktif memperluas kontak dalam sektor politik, ekonomi, dan kemanusiaan. Selain itu, inisiatif lintas budaya seperti “Tahun Pendidikan Rusia-China” semakin mempererat interaksi antarwarga kedua negara.

Baca Juga :  Kebohongan Peta Dunia: Mengapa Greenland Terlihat Sebesar Afrika?

Ekonomi dan Mata Uang Lokal

Perdagangan bilateral Rusia dan China terus menanjak dengan pesat. Nilai transaksi kedua negara telah melampaui angka USD 200 miliar. Dalam hal ini, kedua pihak kini melakukan sebagian besar penyelesaian transaksi menggunakan mata uang rubel dan yuan.

Oleh sebab itu, inisiatif ini mengurangi ketergantungan mereka pada sistem keuangan Barat. Selanjutnya, pemerintahan Putin mengapresiasi penuh komitmen Presiden Xi Jinping terhadap kerja sama jangka panjang. Putin meyakini bahwa ikatan yang hangat ini akan memuluskan rencana besar masa depan kedua negara.

Stabilitas Global dan Multilateralisme

Putin menegaskan bahwa kemitraan strategis Rusia-China memainkan peran penyeimbang yang stabil bagi dunia. Meskipun demikian, ia membantah adanya aliansi militer melawan pihak mana pun. Sebaliknya, kedua negara mencari perdamaian dan kemakmuran universal.

Baca Juga :  Keir Starmer Ancam Blokir Raksasa Teknologi Jika Deepfake Tak Dihapus

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dengan demikian, Moskow dan Beijing terus bertindak secara terkoordinasi untuk mempertahankan hukum internasional serta Piagam PBB. Mereka memperkuat kerja sama melalui PBB, Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO), dan BRICS. Hasilnya, kedua negara memberikan kontribusi nyata dalam menangani tantangan global maupun regional yang mendesak.

Menatap Masa Depan Kemitraan

Putin berharap kedua negara terus melakukan segalanya untuk memperdalam kolaborasi bilateral. Singkatnya, kemitraan ini bertujuan untuk memajukan pembangunan nasional masing-masing demi kesejahteraan rakyat.

Pada akhirnya, kunjungan kenegaraan ini mengukuhkan kembali komitmen Rusia dan China dalam menjaga keamanan serta stabilitas global. Oleh karena itu, publik dunia terus mengamati arah kebijakan kedua pemimpin di tengah tantangan ekonomi dan ketegangan politik tahun 2026.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bandar Sabu Aek Kanopan Masuk DPO BNN, Wawan Diduga Kendalikan Jaringan Narkoba Labura
Polres Jakut Bongkar 8 Kasus Curanmor dan Curas, Komplotan Ngaku Polisi Narkoba Ditangkap
WHO Tetapkan Wabah Ebola di DRC sebagai Darurat Internasional
Trump Tunda Serangan ke Iran Saat Teheran Perketat Cengkeraman di Hormuz
Rumania: INSP Pastikan Bukan Strain Andes dari Kapal Pesiar
Bareskrim Tahan AKP Deky Jonathan Sasiang, Kasus Narkoba Kutai Barat Terus Dikembangkan
Putin dan Xi Jinping Perkuat Kemitraan Strategis di Hari Jadi ke-25
Satgas Haji Polri Tetapkan 13 Tersangka Haji Non-Prosedural, 320 Korban Rugi Rp10 Miliar

Berita Terkait

Selasa, 19 Mei 2026 - 19:24 WIB

Putin Kunjungi China Rayakan 25 Tahun Perjanjian Persahabatan

Selasa, 19 Mei 2026 - 19:23 WIB

Bandar Sabu Aek Kanopan Masuk DPO BNN, Wawan Diduga Kendalikan Jaringan Narkoba Labura

Selasa, 19 Mei 2026 - 18:55 WIB

Polres Jakut Bongkar 8 Kasus Curanmor dan Curas, Komplotan Ngaku Polisi Narkoba Ditangkap

Selasa, 19 Mei 2026 - 18:22 WIB

WHO Tetapkan Wabah Ebola di DRC sebagai Darurat Internasional

Selasa, 19 Mei 2026 - 17:19 WIB

Trump Tunda Serangan ke Iran Saat Teheran Perketat Cengkeraman di Hormuz

Berita Terbaru

Kemitraan strategis tanpa batas. Presiden Vladimir Putin memulai kunjungan dua hari ke China untuk mempererat hubungan ekonomi dan politik dengan Presiden Xi Jinping, menandai perayaan seperempat abad traktat persahabatan kedua negara. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Putin Kunjungi China Rayakan 25 Tahun Perjanjian Persahabatan

Selasa, 19 Mei 2026 - 19:24 WIB

Situasi darurat global. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) resmi menetapkan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda sebagai darurat kesehatan masyarakat. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

WHO Tetapkan Wabah Ebola di DRC sebagai Darurat Internasional

Selasa, 19 Mei 2026 - 18:22 WIB