Solidaritas di Beijing: China dan Rusia Kecam Kebijakan Rudal Trump

Kamis, 21 Mei 2026 - 16:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Penyelarasan kekuatan baru. Presiden Vladimir Putin dan Presiden Xi Jinping bertemu di Beijing untuk mengecam rencana perisai rudal

Penyelarasan kekuatan baru. Presiden Vladimir Putin dan Presiden Xi Jinping bertemu di Beijing untuk mengecam rencana perisai rudal "Golden Dome" Amerika Serikat, sembari mempertegas kemitraan strategis di tengah dinamika geopolitik tahun 2026. Dok: REUTERS/Maxim Shemetov/Pool

BEIJING, POSNEWS.CO.ID – China dan Rusia kompak mengecam kebijakan pertahanan Amerika Serikat. Presiden Vladimir Putin bertemu dengan Presiden Xi Jinping di Beijing pada hari Rabu. Pertemuan ini berlangsung hanya sepekan setelah Presiden Donald Trump menyelesaikan lawatan kenegaraannya di kota yang sama.

Dalam pernyataan bersama, kedua negara mengkritik rencana Presiden Trump terkait perisai rudal Golden Dome. Selain itu, mereka menyoroti kebijakan nuklir Washington yang dianggap sangat tidak bertanggung jawab.

Menolak Perisai Rudal dan Kebijakan Nuklir

Rusia dan China memandang rencana sistem pencegat rudal berbasis darat dan ruang angkasa milik Trump sebagai ancaman stabilitas global. Oleh karena itu, kedua pemimpin meminta Amerika Serikat untuk kembali berkomitmen pada perjanjian pembatasan senjata. Perjanjian tersebut telah berakhir pada Februari lalu.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Trump sebelumnya menolak tawaran Moskow untuk memperpanjang batas rudal dan hulu ledak. Para politisi AS berargumen bahwa perpanjangan tersebut justru akan menghambat kemampuan Amerika Serikat dalam merespons pembangunan kekuatan nuklir China.

Baca Juga :  Resmi Pimpin Partai Buruh Inggris Menuju Downing Street

Negosiasi Pipa Gas yang Mandek

Di sisi lain, kunjungan Putin kali ini belum membuahkan terobosan pada proyek energi utama. Moskow sangat mengharapkan kontrak pipa gas baru yang akan melipatgandakan penjualan gas alam mereka ke China. Namun, negosiasi tersebut belum mencapai kata sepakat.

Raksasa gas Rusia, Gazprom, telah mengusulkan pembangunan pipa Power of Siberia 2 sepanjang 2.600 km sejak tahun lalu. Proyek ini akan menyalurkan 50 miliar meter kubik gas per tahun dari Rusia ke China via Mongolia. Namun, perbedaan mendasar mengenai harga dan biaya pembiayaan tetap menjadi penghalang. “Ketidaksepakatan inti mengenai harga dan syarat kontrak tampaknya belum terselesaikan,” ujar Daniel Sleat, penasihat kebijakan di Tony Blair Institute.

Menampilkan Wajah Stabilitas Global

KTT ini memberikan kesempatan bagi Xi Jinping untuk menampilkan diri sebagai pilar stabilitas dunia. Sementara itu, Trump berupaya menstabilkan hubungan dengan China sebagai rival strategis terkuat Amerika.

Pakar dari Center for China & Globalization, Wang Zichen, menilai posisi Beijing saat ini jauh lebih kuat. Ia berpendapat bahwa China berhasil menyeimbangkan hubungan dengan Barat sembari mempertahankan kepercayaan strategis dengan Rusia. Dengan demikian, Beijing memproyeksikan citra sebagai kekuatan besar yang tidak memihak.

Baca Juga :  Banjir Belum Surut, 80 RT di Jakarta Masih Terendam Air - 3 Jalan Tergenang

Solidaritas dan Perjanjian Persahabatan

Pertemuan ini juga memperingati 25 tahun Perjanjian Persahabatan dan Kerja Sama Sino-Rusia 2001. Perjanjian ini menjadi fondasi bagi kemitraan komprehensif selama seperempat abad. Xi Jinping menyambut Putin dengan upacara militer penuh dan penghormatan.

Dalam deklarasi bersama, kedua negara menguraikan rencana kolaborasi luas. Bidang kerja sama meliputi kecerdasan buatan, pelestarian satwa langka, hingga koordinasi di platform multilateral seperti PBB, BRICS, dan Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO). Maka dari itu, kemitraan ini mempertegas peran mereka sebagai penyeimbang kekuatan di panggung global.

Putin menegaskan bahwa interaksi erat antara China dan Rusia berfungsi sebagai faktor pencegah konflik yang stabil di dunia. Oleh karena itu, Moskow dan Beijing bertekad mempertahankan hukum internasional melalui Piagam PBB yang utuh dan menyeluruh.

Singkatnya, kunjungan kenegaraan ini mengukuhkan kembali komitmen kedua negara dalam menjaga keamanan global. Masyarakat dunia kini terus mengamati arah kebijakan Rusia dan China di tengah tantangan ekonomi dan tekanan politik yang semakin intensif di tahun 2026.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Presiden Xi Jinping Dorong Blok BRICS Jadi Juru Damai Konflik
Hakim Federal Batalkan Rencana Pemangkasan Staf FEMA 50%
Peluncuran Konsol Retro NEOGEO AES+ Ditunda
Iran Ancam Balas Setiap Serangan Baru AS terhadap Asetnya
Ekstremisme Nihilistik Online Ancam Keamanan Eropa
Shinjuku Larang Separuh Sewa Liburan, Termasuk Properti
Tim Nepal Kian Bersemangat Cari Korban Banjir
PM Yunani Janjikan Pemangkasan Pajak dan Kenaikan Gaji

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 20:57 WIB

Presiden Xi Jinping Dorong Blok BRICS Jadi Juru Damai Konflik

Minggu, 13 September 2026 - 19:56 WIB

Hakim Federal Batalkan Rencana Pemangkasan Staf FEMA 50%

Minggu, 13 September 2026 - 13:30 WIB

Peluncuran Konsol Retro NEOGEO AES+ Ditunda

Rabu, 9 September 2026 - 08:03 WIB

Iran Ancam Balas Setiap Serangan Baru AS terhadap Asetnya

Rabu, 9 September 2026 - 07:00 WIB

Ekstremisme Nihilistik Online Ancam Keamanan Eropa

Berita Terbaru

Presiden Xi Jinping menyerukan blok BRICS menjadi juru damai konflik Timur Tengah pada KTT New Delhi serta mempererat hubungan diplomatik dengan India. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Presiden Xi Jinping Dorong Blok BRICS Jadi Juru Damai Konflik

Minggu, 13 Sep 2026 - 20:57 WIB

2.713 penari dari 12 negara membawakan Tari Semarak Jali-Jali Betawi di Ancol. (Posnews/Ancol)

JABODETABEK

Budaya Betawi Mendunia, 2.713 Penari Pecahkan Rekor MURI di Ancol

Minggu, 13 Sep 2026 - 20:41 WIB

Hakim federal AS membatalkan rencana pemangkasan 50% staf FEMA era pemerintahan Trump. Keputusan ini dinilai menegakkan undang-undang perlindungan FEMA. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Hakim Federal Batalkan Rencana Pemangkasan Staf FEMA 50%

Minggu, 13 Sep 2026 - 19:56 WIB