Tulsi Gabbard Mundur dari Jabatan Direktur Intelijen Nasional

Sabtu, 23 Mei 2026 - 09:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Reshuffle kabinet berlanjut. Tulsi Gabbard resmi mundur dari jabatannya sebagai Direktur Intelijen Nasional (DNI) di tengah spekulasi tekanan Gedung Putih dan isu kesehatan keluarga. Dok: Istimewa.

Reshuffle kabinet berlanjut. Tulsi Gabbard resmi mundur dari jabatannya sebagai Direktur Intelijen Nasional (DNI) di tengah spekulasi tekanan Gedung Putih dan isu kesehatan keluarga. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Tulsi Gabbard resmi mengundurkan diri dari posisinya sebagai Direktur Intelijen Nasional (DNI). Ia mengumumkan keputusan ini pada Jumat setelah pertemuan di Ruang Oval dengan Presiden Donald Trump.

Gabbard menjelaskan bahwa suaminya, Abraham Williams, baru saja menerima diagnosis kanker tulang langka. Oleh karena itu, ia memilih untuk mendampingi suaminya menjalani pengobatan. “Saya tidak bisa meminta dia menghadapi perjuangan ini sendirian,” tulisnya dalam surat pengunduran diri yang diunggah ke platform X.

Spekulasi di Balik Pengunduran Diri

Meskipun alasan kesehatan menjadi sorotan utama, rumor lain beredar kencang di Washington. Beberapa sumber menyebutkan bahwa Gedung Putih sebenarnya mendepak Gabbard dari jabatannya. Menurut mereka, pemerintahan Trump sudah cukup lama merasa tidak puas dengan kinerjanya.

Sebagai tambahan, ketegangan antara Trump dan Gabbard meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Trump pernah menyebut Gabbard terlalu “lunak” dalam menghadapi ambisi nuklir Teheran. Selain itu, absennya Gabbard dalam sejumlah rapat keamanan nasional terkait krisis Iran memperjelas keretakan hubungan tersebut.

Warisan Kontroversial: JFK dan Perombakan Intelijen

Selama 16 bulan menjabat, Gabbard memimpin berbagai inisiatif yang memicu perdebatan. Ia memerintahkan pembukaan dokumen rahasia terkait kematian mantan Presiden John F. Kennedy. Selain itu, ia aktif melakukan audit terhadap mesin pemungutan suara dan menyelidiki asal-usul COVID-19.

Tindakan yang paling memicu amarah adalah pencabutan izin keamanan bagi 37 pejabat intelijen senior, termasuk mantan Direktur CIA, John Brennan. Akibatnya, senator dari Partai Demokrat, Mark Warner, mengkritik keras tindakan tersebut. Ia menilai jabatan DNI kini menjadi terlalu terpolitisasi dan berisiko bagi independensi intelijen asing.

Transisi Kepemimpinan: Aaron Lukas Menjadi Pelaksana Tugas

Presiden Trump merespons pengunduran diri ini dengan menunjuk Aaron Lukas sebagai pelaksana tugas (Plt) Direktur Intelijen Nasional. Trump memuji kinerja Gabbard melalui media sosial Truth Social. Ia menyebut Gabbard telah bekerja dengan sangat baik selama menjabat.

Baca Juga :  Tanker Idemitsu Maru Berhasil Melintas Tanpa Biaya Tol

Namun, pergantian ini menambah daftar panjang perombakan kabinet di Departemen Kesehatan dan lembaga intelijen lainnya. Dengan demikian, publik kini menunggu siapa sosok yang akan Trump pilih untuk memimpin komunitas intelijen AS secara permanen di tengah gejolak perang Iran yang kian tidak menentu.

Menanti Arah Intelijen AS

Keputusan Gabbard untuk mundur mencerminkan tantangan besar dalam mengelola komunitas intelijen di tengah polarisasi politik. Singkatnya, langkah ini menutup babak kepemimpinan Gabbard yang penuh dengan langkah berani sekaligus kontroversial.

Dengan demikian, masyarakat internasional kini memantau arah kebijakan intelijen AS di bawah kepemimpinan baru. Di tahun 2026 yang penuh dengan ketidakpastian geopolitik, stabilitas dan independensi badan intelijen menjadi kunci utama bagi pertahanan nasional Amerika Serikat.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Houthi Blokade Selat Bab el-Mandeb dan Serang Kapal
Mandat B50 Indonesia dan Tensi Geopolitik Tahan Harga CPO
Afrika Selatan Hentikan Sementara Pemakzulan Presiden
Perusahaan Pelayaran Hentikan Operasi ke Ukraina
Pakistan Minta Bantuan Finansial 10 Miliar Dolar AS
Dua Kobaran Api Raksasa Bersiap Menyatu di Barat Madrid
Jepang Kembangkan Sistem SHIELD dan Reorganisasi Industri
Mantan PM Hungaria Tuduh Pemerintah Hancurkan Demokrasi

Berita Terkait

Sabtu, 25 Juli 2026 - 10:27 WIB

Houthi Blokade Selat Bab el-Mandeb dan Serang Kapal

Sabtu, 25 Juli 2026 - 10:19 WIB

Mandat B50 Indonesia dan Tensi Geopolitik Tahan Harga CPO

Sabtu, 25 Juli 2026 - 09:21 WIB

Afrika Selatan Hentikan Sementara Pemakzulan Presiden

Sabtu, 25 Juli 2026 - 09:11 WIB

Perusahaan Pelayaran Hentikan Operasi ke Ukraina

Sabtu, 25 Juli 2026 - 07:32 WIB

Pakistan Minta Bantuan Finansial 10 Miliar Dolar AS

Berita Terbaru

Ancaman ganda jalur energi global. Kelompok Houthi menyerang dua tanker minyak Saudi dan memblokir Selat Bab el-Mandeb di Laut Merah. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Houthi Blokade Selat Bab el-Mandeb dan Serang Kapal

Sabtu, 25 Jul 2026 - 10:27 WIB

Peluang dan tantangan industri sawit. MPOC memproyeksikan harga CPO Agustus bertahan stabil berkat mandat B50 Indonesia serta dinamika pasar energi global. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Mandat B50 Indonesia dan Tensi Geopolitik Tahan Harga CPO

Sabtu, 25 Jul 2026 - 10:19 WIB

Langkah hukum selamatkan posisi presiden. Pengadilan Tinggi Afrika Selatan membekukan sementara proses pemakzulan Presiden Cyril Ramaphosa terkait skandal uang di sofa peternakan Phala Phala. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Afrika Selatan Hentikan Sementara Pemakzulan Presiden

Sabtu, 25 Jul 2026 - 09:21 WIB

Krisis pasokan pangan dunia. Raksasa pelayaran Maersk dan Hapag-Lloyd menghentikan operasional ke pelabuhan Ukraina akibat gempuran rudal Rusia. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Perusahaan Pelayaran Hentikan Operasi ke Ukraina

Sabtu, 25 Jul 2026 - 09:11 WIB

Manuver diplomasi ekonomi Pakistan. Islamabad mengajukan fasilitas dana stabilitas 10 miliar dolar AS kepada Washington di tengah keraguan para ekonom. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Pakistan Minta Bantuan Finansial 10 Miliar Dolar AS

Sabtu, 25 Jul 2026 - 07:32 WIB