JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) resmi menetapkan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda sebagai darurat kesehatan internasional. Keputusan ini muncul setelah virus menyebar dengan cepat ke pusat kota yang padat penduduk.
Pihak berwenang mengonfirmasi tiga kasus baru pada hari Sabtu. Selain itu, Federasi Palang Merah Internasional (IFRC) melaporkan kematian tiga sukarelawan di wilayah Ituri. Kejadian ini menambah daftar panjang duka kemanusiaan di tengah krisis kesehatan tersebut.
Ancaman Strain Bundibugyo dan Risiko Penyebaran
Para ahli mengidentifikasi wabah ini sebagai Bundibugyo strain dari virus Ebola. Sayangnya, ilmuwan belum menemukan vaksin atau perawatan khusus bagi varian ini. Oleh karena itu, petugas kesehatan kini hanya mengandalkan langkah pencegahan sebagai senjata utama.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Afrika (Africa CDC) memperingatkan risiko penyebaran lintas negara. Mereka mencatat sepuluh negara Afrika berada dalam posisi rentan. Negara-negara tersebut meliputi Angola, Burundi, Republik Afrika Tengah, Kongo, Ethiopia, Kenya, Rwanda, Sudan Selatan, Tanzania, dan Zambia. Selanjutnya, mobilitas penduduk yang tinggi dan situasi keamanan yang tidak menentu mempercepat perpindahan virus tersebut.
Tantangan di Zona Konflik: Ituri dan Kivu
Wabah saat ini berpusat di Provinsi Ituri, DRC. Namun, virus juga telah terdeteksi di wilayah South Kivu. Wilayah ini berada di bawah kendali kelompok pemberontak M23 yang didukung Rwanda. Situasi keamanan di sana sangat rumit sehingga tim medis mengalami kesulitan besar dalam menjalankan misi kemanusiaan.
Menteri Kesehatan Kongo, Samuel Roger Kamba, menekankan perlunya kendali penuh atas wilayah tersebut. “Ini adalah masalah kita bersama,” ujar Kamba dalam konferensi pers di Addis Ababa. Dengan demikian, ia mendesak komunitas internasional untuk segera memberikan bantuan tambahan bagi wilayah yang porak-poranda akibat konflik dan kolapsnya sistem kesehatan ini.
Protokol Mitigasi dan Upaya Pemutusan Rantai
Pemerintah Uganda telah menghentikan layanan transportasi umum menuju perbatasan DRC. Langkah ini menyusul konfirmasi dua kasus pertama di wilayah mereka. Sebagai tindakan preventif, petugas kesehatan terus melakukan pemeriksaan suhu tubuh di setiap perbatasan bagi para pelancong.
PBB dan mitra kemanusiaan terus mendukung pemerintah dalam penanganan wabah. Program Pangan Dunia (WFP) telah menerbangkan lima ton pasokan medis ke Ituri untuk membantu fasilitas kesehatan yang kewalahan. Di samping itu, petugas kesehatan juga melakukan pelacakan kontak secara agresif guna menghentikan penularan lebih lanjut.
Menanti Aksi Internasional
Epidemi ini menunjukkan betapa krusialnya stabilitas wilayah bagi ketahanan kesehatan global. Selama layanan negara tidak hadir di wilayah konflik, virus akan terus menemukan celah untuk menyebar.
Singkatnya, keberhasilan mengendalikan wabah ini sangat bergantung pada akses kemanusiaan yang berkelanjutan. Di tahun 2026 ini, dunia harus memberikan perhatian ekstra untuk memastikan bantuan penyelamat nyawa menjangkau wilayah terdampak sebelum situasi menjadi lebih parah.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












