WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan sensor Tiongkok tidak akan pernah menghapus memori tragedi Lapangan Tiananmen.
Sebab, Tiongkok terus berupaya menyembunyikan sejarah kelam penumpasan militer terhadap demonstran damai tersebut dari publik dunia. Oleh karena itu, pernyataan Rubio memberikan kepastian penting bagi para aktivis demokrasi di tengah pragmatisme Donald Trump.
Penumpasan Berdarah dan Korban Jiwa
Sementara itu, pasukan militer Tiongkok menembaki para pengunjuk rasa pro-demokrasi secara brutal dalam tragedi tersebut. Komunitas hak asasi manusia memperkirakan ribuan korban jiwa tewas akibat tindakan keji aparat keamanan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Dunia memperingati 37 tahun sejak Partai Komunis Tiongkok memerintahkan penyerangan terhadap demonstran damai,” ujar Rubio dalam rilis resminya. Namun, ia meyakini perjuangan para korban untuk menegakkan kebebasan berekspresi akan segera mendapatkan keadilan.
Tabu Sejarah dan Peringatan Global
Pemerintah Beijing menganggap pembahasan mengenai peristiwa Tiananmen sebagai hal yang sangat tabu di dalam negeri. Akibatnya, otoritas menyensor habis-habisan setiap informasi atau peringatan terkait tragedi bersejarah ini.
Tindakan represif di Hong Kong juga telah mematikan aksi lilin tahunan yang dahulu sangat besar. Meskipun begitu, berbagai kota dunia seperti London, New York, Berlin, dan Taipei tetap menyelenggarakan peringatan tersebut secara konsisten.
Persaingan Geopolitik AS-Tiongkok
Hubungan antara Washington dan Beijing sendiri saat ini berada dalam kondisi persaingan militer serta ekonomi yang sengit. Selain itu, penunjukan menteri luar negeri berhaluan keras seperti Rubio membuktikan ketegasan sikap Amerika Serikat terhadap pengaruh Tiongkok.
Penulis : Alifa Latifa
Editor : Alifa Latifa












