Ancaman El Niño 2026: Cuaca Kering Ekstrem Siap Memangkas

Jumat, 19 Juni 2026 - 09:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Produksi sawit Kalimantan diproyeksi anjlok hingga 15% pada Q4 akibat kemarau panjang dan karhutla. Simak data kerusakan lahan dan estimasi GAPKI. Dok: Istimewa.

Produksi sawit Kalimantan diproyeksi anjlok hingga 15% pada Q4 akibat kemarau panjang dan karhutla. Simak data kerusakan lahan dan estimasi GAPKI. Dok: Istimewa.

KUALA LUMPUR, POSNEWS.CO.ID – Lembaga riset CGS International Securities Malaysia memproyeksikan peningkatan risiko produksi kelapa sawit di Malaysia pada paruh kedua tahun 2026. Sebab, rilis data cuaca terbaru menunjukkan potensi kuat kemunculan fenomena El Niño yang kering dan ekstrem.

Analis CGS International menyimpulkan kekhawatiran tersebut setelah berdiskusi intensif dengan ahli agronomi Dr Lee Chin Tui. Dalam hal ini, Lee merujuk pada data resmi milik US National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA). Sebab, NOAA mencatat probabilitas sebesar 63 persen bagi kemunculan El Niño kuat antara November 2026 hingga Januari 2027.

Sejarah Kekeringan dan Penyusutan Panen

Lee memperkirakan kondisi cuaca kering ekstrem akan mulai melanda wilayah perkebunan sawit sejak Juli 2026 depan. Sebab, sejarah membuktikan bahwa kekeringan panjang selalu memukul volume produksi minyak sawit mentah (CPO) secara drastis. Sebagai contoh, hantaman El Niño pada tahun 2016 menyusutkan produksi CPO Malaysia hingga sebesar 13,2 persen secara tahunan.

Kondisi serupa juga menimpa produsen kelapa sawit di Indonesia selaku produsen terbesar di dunia. Sebab, sepuluh produsen raksasa di Indonesia mencatatkan penurunan hasil panen sebesar 13,4 persen pada periode yang sama. Selain itu, Indonesia juga mengalami kontraksi produksi sebesar 5,3 persen pada tahun 2019 serta 8,0 persen pada tahun 2024 kemarin.

Tantangan Pupuk Mahal dan Efisiensi Air

CGS International menilai kegagalan panen di kedua negara penyokong utama dunia ini akan memperketat kondisi pasar global. Akibatnya, kelangkaan pasokan ini akan mendongkrak harga jual CPO ke tingkat yang jauh lebih tinggi. Namun, para petani juga harus menghadapi tantangan lain berupa pembengkakan biaya pemupukan kebun sawit saat ini.

Perang senjata di Timur Tengah memicu lonjakan harga pupuk urea secara signifikan sepanjang tahun ini. Meskipun begitu, Lee melarang keras rencana pengurangan dosis pupuk untuk menghemat biaya operasional kebun selama gelombang panas. Sebab, suhu udara yang sangat tinggi akan menguapkan kandungan Nitrogen dan menurunkan efisiensi pupuk secara drastis.

Baca Juga :  Iran Siap Negosiasi, Trump Tetapkan Deadline Rahasia

Data uji coba lapangan jangka panjang membuktikan bahwa penghentian pemupukan akan membawa dampak buruk yang lambat. Secara spesifik, pohon sawit berumur produktif akan mengalami penurunan hasil panen rata-rata sebesar 11 persen dalam lima tahun berikutnya. Oleh karena itu, pengelola kebun harus membangun sistem manajemen air yang disiplin guna menjaga kelembapan tanah.

Penurunan Riil Hasil Tandan Buah Segar

Di sisi lain, CGS International mencatat tren produksi tandan buah segar (TBS) Malaysia sebenarnya berada dalam kondisi lemah. Sebab, Malaysia sukses memproduksi 7,38 juta ton CPO pada lima bulan pertama tahun 2026 ini. Namun, pencapaian tinggi ini murni lahir dari peningkatan kadar rendemen minyak di pabrik.

Sebaliknya, volume panen TBS riil di kebun justru merosot sebesar 3,1 persen daripada pencapaian periode tahun lalu. Dengan demikian, produsen akan menghadapi kesulitan memenuhi target produksi CPO tahunan sebesar 19,5 juta hingga 20 juta ton. Pada akhirnya, pasar menanti efektivitas langkah antisipasi para pengusaha sawit dalam menghadapi badai kekeringan ini.

Penulis : Alifa Latifa

Editor : Alifa Latifa

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Charles Spencer Rilis Buku Swan Song dan Ungkap Tuduhan Baru
Korea Utara Uji Coba Rudal Hipersonik Baru Hwasong-11Ma
Kanselir Jerman Friedrich Merz Hadapi Krisis Politik
Pasukan Houthi Kuasai Wilayah Strategis Yaman
CNN, MS NOW, dan Politico Gugat Pemerintahan Donald Trump
AS, Jepang, dan Korsel Tegaskan Komitmen Dukung Taiwan
Giorgia Meloni Usul Pembatasan Siswa Asing dan Larangan Burqa
Ukraina Meluncurkan Seribu Drone ke Moskow di Tengah Pemilu

Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 14:10 WIB

Korea Utara Uji Coba Rudal Hipersonik Baru Hwasong-11Ma

Rabu, 23 September 2026 - 12:43 WIB

Kanselir Jerman Friedrich Merz Hadapi Krisis Politik

Rabu, 23 September 2026 - 11:37 WIB

Pasukan Houthi Kuasai Wilayah Strategis Yaman

Rabu, 23 September 2026 - 10:33 WIB

CNN, MS NOW, dan Politico Gugat Pemerintahan Donald Trump

Rabu, 23 September 2026 - 09:00 WIB

AS, Jepang, dan Korsel Tegaskan Komitmen Dukung Taiwan

Berita Terbaru