JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Badan Standardisasi Nasional (BSN) mengungkapkan rendahnya angka akreditasi kebun kelapa sawit nasional hulu saat ini. Sebab, jumlah wilayah kebun kelapa sawit yang memiliki sertifikasi baru mencapai kisaran lima persen saja. Angka ini setara dengan sekitar 800.000 hektar dari total 16 juta hektar lahan nasional. Oleh karena itu, pemerintah berkomitmen mempercepat proses standardisasi mutu guna mendongkrak daya saing pasar ekspor global.
Tantangan Aturan Hijau Eropa
Kepala BSN Donny Purnomo Januardhi Effyandono menyampaikan penjelasan ini dalam pertemuan tahunan APAC di Jakarta kemarin. Menurutnya, pasar internasional kini menuntut jaminan produk ramah lingkungan secara ketat melalui regulasi deforestasi Uni Eropa. Aturan keras EUDR mewajibkan setiap eksportir sawit membuktikan kelestarian asal-usul buah sawit bebas dari deforestasi. Langkah pembuktian ini memerlukan hasil uji dan proses sertifikasi dari lembaga penilai yang memiliki kredibilitas tinggi.
Fondasi Infrastruktur Mutu Nasional
Donny menegaskan bahwa akreditasi mandiri memegang peran sebagai fondasi utama untuk membangun kepercayaan para pembeli luar negeri. Sebab, sistem pengawasan yang transparan dan kompeten menjamin keabsahan klaim keberlanjutan produk kelapa sawit Indonesia. Pihak BSN kini fokus memperkuat kompetensi lembaga sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) secara berkala. Upaya penataan tata kelola ini akan mengamankan rantai pasok kelapa sawit dari hulu hingga hilir.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Prestasi Hebat Indonesia di Dunia
Laporan Global Quality Infrastructure Index (GQII) menunjukkan hasil penilaian yang sangat membanggakan bagi Indonesia. Indonesia sukses menempati peringkat ke-23 dunia untuk bidang infrastruktur mutu nasional secara keseluruhan. Pencapaian luar biasa ini menempatkan Indonesia pada posisi paling tinggi di antara negara-negara ASEAN saat ini. Bahkan, pilar akreditasi Indonesia meraih peringkat keempat dunia dari total 185 negara yang masuk evaluasi.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












