Antonio Guterres Minta Perusahaan Rilis Data Konsumsi

Rabu, 24 Juni 2026 - 09:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Tuntutan akuntabilitas ekologi. Sekjen PBB António Guterres mendesak perusahaan kecerdasan buatan merilis data konsumsi energi dan air secara transparan guna menjaga kelestarian bumi. Dok: Istimewa.

Tuntutan akuntabilitas ekologi. Sekjen PBB António Guterres mendesak perusahaan kecerdasan buatan merilis data konsumsi energi dan air secara transparan guna menjaga kelestarian bumi. Dok: Istimewa.

LONDON, POSNEWS.CO.ID – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres mendesak perusahaan kecerdasan buatan untuk merilis data emisi karbon.

Selain emisi karbon, Guterres meminta perusahaan mempublikasikan konsumsi air dan pemakaian lahan untuk operasional pusat data. Ia menyampaikan seruan penting ini saat berpidato pada acara Pekan Aksi Iklim London hari Selasa.

Dalam pidatonya, Guterres mengusulkan pembentukan Inisiatif Transparansi Lingkungan Kecerdasan Buatan untuk memantau efek teknologi itu. Langkah ini bertujuan mengukur efek nyata dari tingginya permintaan teknologi pintar pada iklim bumi.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tuntutan Transparansi Pusat Data

Masyarakat lokal dan pemerintah kini gencar menekan perusahaan pengembang untuk memberikan laporan secara transparan. Sebab, pembangunan pusat data berskala raksasa kerap memicu protes warga karena menguras sumber daya alam sekitar.

Guterres juga meminta perusahaan menggunakan pasokan energi bersih dari angin dan surya mulai tahun 2030. “Kita tidak boleh menyembunyikan biaya operasional nyata,” tegas pemimpin tertinggi organisasi dunia itu di London.

Beberapa perusahaan besar seperti Amazon dan Google berkomitmen memanfaatkan energi bersih dan nuklir untuk operasional. Namun, persaingan ketat merilis produk kecerdasan buatan justru melipatgandakan emisi gas rumah kaca global saat ini. Masalah ini kian parah karena regulasi setempat sering menghambat pembangunan proyek ramah lingkungan.

Baca Juga :  Proyek East Wing White House Senilai $400 Juta

Lonjakan Konsumsi Energi Global

Data Badan Energi Internasional menunjukkan batu bara masih menyokong 30 persen kebutuhan listrik pusat data global. Sementara itu, energi ramah lingkungan hanya menyuplai 27 persen dari total kebutuhan energi pusat data bumi.

Sisa kebutuhan energi berasal dari pasokan gas alam sebesar 26 persen dan energi nuklir 15 persen. Padahal, laporan lembaga dunia mencatat konsumsi energi dan pencemaran akibat kecerdasan buatan bakal melonjak dua kali lipat.

Proyeksi kenaikan tajam ini akan berlangsung dalam kurun waktu empat tahun ke depan secara akumulatif. Pusat data kecerdasan buatan menyerap sekitar 1,5 persen konsumsi listrik dunia pada tahun 2025 lalu. Jumlah penyerapan ini memicu kekhawatiran karena berisiko menyentuh angka 3 persen pada tahun 2030 mendatang.

Komitmen Batas Pemanasan Global

Guterres mendesak para pemimpin dunia untuk mempercepat aksi penyelamatan lingkungan pada pertemuan puncak di Turki nanti. Ia ingin memastikan bumi tetap berada di bawah ambang batas pemanasan 1,5 derajat Celsius.

Baca Juga :  Terbelenggu dan Berbaju Oranye, Maduro Mengaku Tak Bersalah

Batas aman itu merupakan hasil kesepakatan bersama dalam Perjanjian Paris pada tahun 2015 silam. Sayangnya, suhu rata-rata bumi selama tiga tahun belakangan ini telah menembus ambang batas aman itu.

Oleh karena itu, Guterres mendesak pemotongan emisi gas metana yang menyumbang sepertiga pemanasan global saat ini. Ia juga meminta dunia segera mengurangi ketergantungan pada pemakaian batu bara, minyak bumi, dan gas.

Dampak Perang Energi AS dan Iran

Di sisi lain, transisi energi bersih dunia menghadapi hambatan besar akibat kebijakan baru Amerika Serikat. Di bawah Presiden Donald Trump, Amerika Serikat gencar meningkatkan produksi minyak bumi dan batubara secara masif.

Langkah Trump ini berjalan bersamaan dengan keputusan memotong dukungan anggaran untuk proyek energi ramah lingkungan. Kebijakan ini memperparah krisis energi global setelah pecahnya perang Amerika Serikat melawan pihak Iran saat ini.

Guterres bahkan menyebut konflik senjata itu sebagai guncangan pasokan energi paling besar dalam sejarah dunia. Ia menyamakan situasi sulit ini dengan judul novel klasik populer karya sastrawan Inggris Charles Dickens.

“Bagi agenda iklim dunia, saat ini merupakan masa paling baik sekaligus masa paling buruk,” pungkasnya.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kelompok Houthi Melancarkan Serangan Rudal Maut di Yaman
PM Kanada Sebut Perundingan Dagang AS Makin Sengit
Trump Terbitkan Perintah Eksekutif Baru
Iran Ancam Serang Fasilitas Energi Teluk
Google Resmi Hentikan Layanan Google Assistant
Serangan Gunting di Covent Garden London Lukai 4 Orang
Prancis Melarang Panggilan Telemarketing Tanpa Izin Konsumen
Senat AS Konfirmasi Dr Erica Schwartz Sebagai Direktur CDC

Berita Terkait

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 11:07 WIB

Kelompok Houthi Melancarkan Serangan Rudal Maut di Yaman

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 09:01 WIB

PM Kanada Sebut Perundingan Dagang AS Makin Sengit

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 07:00 WIB

Trump Terbitkan Perintah Eksekutif Baru

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 06:00 WIB

Iran Ancam Serang Fasilitas Energi Teluk

Jumat, 7 Agustus 2026 - 16:51 WIB

Google Resmi Hentikan Layanan Google Assistant

Berita Terbaru

GIGABYTE menaikkan harga kartu grafis di Jepang hingga 40 persen akibat lonjakan biaya produksi dan kelangkaan komponen memori AI. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Harga GPU GIGABYTE di Jepang Melonjak 40%

Sabtu, 8 Agu 2026 - 14:12 WIB

Gedung Bapenda DKI Jakarta di Gambir terbakar dan memicu penerapan WFH bergilir bagi ASN.
(Posnews/Dinas Gulkarmat DKI Jakarta)

JABODETABEK

Kebakaran Gedung Bapenda DKI, Ribuan ASN Jalani WFH Bergilir

Sabtu, 8 Agu 2026 - 13:09 WIB