WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim Iran menyetujui inspeksi nuklir tanpa batas waktu.
Namun, pemerintah Iran membantah keras klaim sepihak dari pemimpin Amerika Serikat itu.
Perselisihan informasi ini mencuat saat Perserikatan Bangsa-Bangsa mulai mengevakuasi belasan ribu pelaut di Selat Hormuz.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Badan Maritim Internasional (IMO) merancang operasi raksasa untuk menyelamatkan sebelas ribu pelaut di sana.
Sekretaris Jenderal IMO Arsenio Dominguez memimpin langsung misi penyelamatan kapal dagang pasca-kesepakatan damai sementara ini.
IMO memastikan telah mengantongi jaminan keamanan dari semua negara pantai, seperti Oman dan pihak Iran.
Klaim Inspeksi Nuklir dan Bantahan Keras Iran
Trump menyatakan bahwa kesepakatan damai akan membuka akses penuh bagi pengawas nuklir ke wilayah Iran.
Ia mengunggah pernyataan emosional itu melalui akun media sosial Truth Social miliknya hari Selasa kemarin.
Sebaliknya, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menepis kabar pertemuan rahasia itu.
Baghaei menegaskan pihaknya tidak memiliki rencana untuk mengundang kembali Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Duta Besar Iran untuk PBB Ali Bahreini juga membantah adanya pembahasan program nuklir di Swiss.
Bahreini mengonfirmasi bahwa perundingan Bürgenstock hanya membahas penghapusan sanksi ekonomi dan pembukaan pelayaran dunia.
Pelonggaran Sanksi dan Dana Kemanusiaan
Sebagai komitmen awal, Departemen Keuangan Amerika Serikat melonggarkan sanksi ekspor minyak Iran selama enam puluh hari.
Pelonggaran sanksi ekonomi ini akan berlaku aktif hingga tanggal dua puluh satu Agustus mendatang.
Trump berencana menaruh seluruh aset Iran yang mencair ke dalam akun penampungan khusus.
Pemerintah AS akan memaksa Iran membeli bahan makanan dan pasokan medis dari para petani Amerika.
Bahan makanan itu meliputi jagung, gandum, dan kedelai hasil produksi petani domestik AS.
Namun, pihak Tehran menolak rencana pembatasan sepihak penggunaan dana milik negara mereka itu.
Gencatan Senjata Lebanon yang Rapuh
Meskipun kesepakatan damai sementara mulai berjalan, pertempuran fisik di Lebanon selatan masih menyisakan kekhawatiran.
Otoritas pertahanan sipil Lebanon melaporkan serangan senjata militer Israel menewaskan dua warga sipil hari Selasa.
Kelompok Hezbollah mengecam aksi penembakan itu sebagai pelanggaran nyata terhadap komitmen gencatan senjata regional.
Israel bersikeras mempertahankan zona keamanan di Lebanon selatan untuk melumpuhkan setiap ancaman milisi.
Sementara itu, delegasi Lebanon dan Israel memulai pembicaraan baru di kota Washington kemarin.
Namun, perundingan mandiri ini menghadapi hambatan besar akibat intervensi diplomatik dari pemerintah Iran.
Beban Politik Domestik Donald Trump
Krisis energi akibat Perang Iran kini menjadi beban politik yang sangat berat bagi Donald Trump.
Masyarakat Amerika Serikat mengekspresikan kemarahan besar atas lonjakan harga bensin di seluruh pom bensin.
Kondisi inflasi ini mengancam perolehan suara Partai Republik menjelang pemilihan umum paruh waktu November nanti.
Para politisi Republik juga mendesak Trump untuk segera menghentikan total ambisi nuklir luar negeri Iran.
Oleh karena itu, keberhasilan misi diplomasi di Swiss sangat krusial bagi masa depan politik Trump.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












